Tahukah Kamu? Tahun 1980, Bojonegoro Pernah Punya 117 Waranggono dan 93 Grup Ketoprak

oleh 2 Dilihat
oleh
(ilustrasi seni bojonegoro, by chatgpt)

damarinfo.com- Sebelum layar ponsel menerangi wajah-wajah kita di malam hari, dan jauh sebelum algoritma TikTok serta bising organ tunggal menguasai hajatan, warga Bojonegoro punya cara sendiri untuk merayakan hidup. Panggung-panggung bambu berselimut cahaya lampu petromaks adalah “bioskop rakyat” yang menyatukan seluruh warga desa semalam suntuk.

Ketika Desa Menjadi Panggung Raksasa

Arsip data kebudayaan Bojonegoro tahun 1980 merekam sebuah masa di mana kesenian rakyat tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Bayangkan saja, pada tahun itu Kabupaten Bojonegoro tercatat memiliki:

  • 117 Waranggono

  • 104 Dalang Wayang Purwo

  • 93 grup Ketoprak

  • 57 grup jaranan

  • 44 perguruan pencak silat

  • 23 grup Reog Ponorogo

  • 18 grup Ludruk

Itu belum termasuk seni tutur dan tradisi lisan yang senantiasa akrab di telinga warga, mulai dari sandur, kentrung, angklung, trompong, mocopat, kuntulan, hingga Ande-Ande Lumut. Data ini menegaskan satu hal: seni tradisional saat itu bukan sekadar hiburan pinggiran, melainkan urat nadi kehidupan sosial warga desa.

Sumberrejo dan Ngasem Jadi “Gudang” Seniman

Menariknya, denyut kebudayaan ini tidak berpusat di area perkotaan, melainkan berakar kuat di pelosok kecamatan.

Kecamatan Sumberrejo menjadi salah satu kiblatnya. Wilayah ini mengoleksi 18 grup wayang, 36 grup kentrung, dan 13 perguruan pencak silat. Sementara itu, Kecamatan Ngasem menonjol dengan nuansa musikalnya, mengasuh 19 grup seni vokal di samping beberapa kelompok ludruk, wayang, dan tayub yang tak kalah aktif.

Kecamatan lain seperti Sugihwaras, Tambakrejo, Ngraho, hingga Bojonegoro Kota juga mencatatkan angka kelompok kesenian yang melimpah.

(Tangkapan Layar jumlah kelompok kesenian bojonegoro tahun 1980, sumber data : Statistik Daerah Tingkat II Bojonegoro, Arsip BPS RI)

Kejayaan Tayub dan Kritik Sosial Ludruk

Dari sekian banyak seni pertunjukan, Tayub adalah primadona yang tak tertandingi. Dengan total 117 grup, Tayub menjadi menu wajib yang harus ada di setiap upacara sedekah bumi, syukuran panen, hingga pesta pernikahan warga.

Di sisi lain, Ludruk dengan 93 grupnya hadir sebagai tontonan yang cerdas. Lewat banyolan dan lakon yang dibawakan, ludruk menjadi media kritik sosial sekaligus ruang komunal tempat warga melepas penat setelah seharian bertaruh peluh di sawah. Warga akan datang berbondong-bondong membawa tikar lipat, jajan pasar, lalu duduk bercengkerama dengan tetangga hingga dini hari.

Sunyinya Panggung Hari Ini

Empat puluh lima tahun berlalu, lanskap hiburan kita telah berubah total. Berdasarkan data tahun 2025, meski beberapa kesenian seperti karawitan, campursari, reog, dan tayub masih eksis, jumlah kelompoknya telah menyusut drastis. Ludruk pun kini menjadi barang langka yang semakin sulit ditemui.

Modernisasi dan digitalisasi memang menawarkan kepraktisan hiburan di dalam genggaman. Namun, di saat yang sama, kita perlahan kehilangan ruang sosial tempat masyarakat desa biasa berkumpul dan merawat identitas budaya mereka bersama-sama.

Melihat data tahun 1980 ini, kita disuguhkan sebuah fakta unik: di tengah keterbatasan ekonomi dan teknologi masa lalu, masyarakat pedesaan Bojonegoro ternyata memiliki kekayaan batin dan ruang budaya yang luar biasa megah.

Melihat jalanan desa yang kini sepi di malam hari, kadang membuat kita bergumam dalam hati: “Oh, ternyata dulu malam-malam kita seramai itu, ya…”

Penulis : Syafik

Sumber : Statistik Daerah Tingkat II Bojonegoro, Arsip BPS RI

Disclaimer : Penulisan dan analisa data dibantu oleh teknologi AI