Tahukah Kamu? Sejak Tahun 1990, Ribuan Perempuan Bojonegoro Hidup dari Industri Rokok

oleh 10 Dilihat
oleh
(Ilustrasi pekerja perempuan rokok by chatgpt)

damarinfo.com- Sebelum Bojonegoro dikenal sebagai daerah migas dengan APBD triliunan rupiah, ribuan perempuan di desa-desa lebih dulu menopang ekonomi keluarga dari meja linting rokok. Dan menariknya, tiga puluh lima tahun berlalu, pemandangan itu ternyata belum benar-benar hilang.

Arsip ketenagakerjaan Bojonegoro tahun 1990 menyimpan fakta menarik tentang wajah ekonomi masyarakat saat itu. Di tengah dominasi sektor pertanian dan mulai tumbuhnya industri migas, justru industri rokok dan tembakau menjadi sektor penyerap tenaga kerja terbesar di Bojonegoro.

Data tahun 1990 mencatat:

  • terdapat 69 perusahaan rokok dan tembakau
  • dengan total 6.811 tenaga kerja

Jumlah itu bahkan menjadi yang terbesar dibanding seluruh sektor industri lainnya di Bojonegoro saat itu.

Sebagai perbandingan:

  • sektor pertanian dan perkebunan hanya menyerap sekitar 1.637 tenaga kerja
  • sektor migas dan pertambangan sekitar 850 tenaga kerja
  • sementara sektor niaga, bank, dan asuransi sekitar 651 tenaga kerja

Artinya, lebih dari separuh tenaga kerja sektor industri Bojonegoro tahun 1990 bekerja di industri rokok dan tembakau.

Industri yang Ditopang Perempuan Desa

Namun yang paling menarik, industri ini ternyata sangat bergantung pada tenaga kerja perempuan.

Dari total 6.811 pekerja:

  • sekitar 5.515 pekerja adalah perempuan
  • sementara laki-laki sekitar 1.296 orang

Artinya, lebih dari 80 persen tenaga kerja industri rokok saat itu ditopang perempuan.

Pada masa itu, bekerja di industri rokok bukan sekadar pekerjaan sambilan.

Bagi banyak keluarga desa, pekerjaan melinting rokok menjadi sumber penghasilan penting untuk:

  • membeli kebutuhan dapur,
  • biaya sekolah anak,
  • hingga menopang ekonomi keluarga petani saat musim paceklik.

Di banyak desa Bojonegoro, suara lintingan rokok dan aroma tembakau menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari perempuan.

Upah Kecil, Tapi Menjadi Penyelamat Dapur

Data pengupahan tahun 1990 menunjukkan, pekerja rokok dan tembakau menerima:

  • upah bulanan sekitar Rp30 ribu hingga Rp500 ribu
  • upah harian tetap sekitar Rp1.250–Rp6.000
  • upah harian lepas sekitar Rp850–Rp4.000
  • sistem borongan sekitar Rp1.000–Rp3.500

Pada masa itu, harga beras berada di kisaran sekitar Rp825–Rp950 per kilogram.

Artinya, satu hari kerja buruh rokok rata-rata hanya setara beberapa kilogram beras untuk kebutuhan keluarga.

Nilainya memang kecil jika dilihat dari hari ini. Namun bagi banyak rumah tangga desa pada masa itu, penghasilan tersebut menjadi penopang penting ekonomi keluarga.

Bahkan Lebih Besar daripada Migas

Menariknya, pada tahun 1990 sektor migas dan pertambangan sebenarnya sudah hadir di Bojonegoro. Namun dari sisi penyerapan tenaga kerja, jumlahnya jauh lebih kecil dibanding industri rokok.

Data mencatat:

  • sektor minyak dan gas hanya memiliki 1 perusahaan
  • dengan sekitar 850 tenaga kerja
  • dan hampir seluruh pekerjanya laki-laki.

Sementara industri rokok:

  • memiliki puluhan perusahaan,
  • ribuan pekerja,
  • dan menjadi ruang kerja utama perempuan desa.

Ini menunjukkan bahwa sebelum migas mendominasi ekonomi daerah dan APBD Bojonegoro, industri rokok lebih dulu menjadi penyangga ekonomi rumah tangga masyarakat bawah.

Pekerjaan yang Bertahan Puluhan Tahun

Yang menarik, struktur ini ternyata tidak banyak berubah hingga hari ini.

Di tengah besarnya APBD migas Bojonegoro sekarang, industri rokok masih menjadi sumber penghidupan bagi banyak perempuan di desa-desa.

Pemandangan ibu-ibu berangkat kerja ke pabrik rokok, membawa bekal sederhana, atau bekerja borongan dari rumah masih mudah ditemui di berbagai wilayah Bojonegoro.

Artinya, selama lebih dari tiga dekade, industri ini tetap menjadi salah satu fondasi ekonomi rakyat kecil.

Di Balik Angka

Data tahun 1990 menunjukkan satu hal penting: sejarah ekonomi Bojonegoro ternyata tidak hanya dibangun oleh sektor besar seperti migas atau proyek-proyek pemerintah.

Di baliknya, ada ribuan perempuan desa yang selama puluhan tahun ikut menopang ekonomi keluarga dari industri rokok.

Karena sebelum suara mesin industri migas mendominasi Bojonegoro, suara jemari perempuan melinting rokok sudah lebih dulu menjadi denyut ekonomi rumah-rumah kecil di desa.

Penulis : Syafik

Sumber: Bojonegoro Dalam Angka 1990, Arsip BPS RI

Disclaimer: Penulisan dan analisa data dibantu oleh teknologi AI.