Jawa Timur Memasuki Era Penduduk Tua
damarinfo.com – Jawa Timur kini resmi masuk kategori provinsi dengan struktur penduduk tua. Pada 2025, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) atau warga berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 15,40 persen dari total populasi.
Di satu sisi, kondisi ini menunjukkan keberhasilan pembangunan kesehatan. Umur harapan hidup terus meningkat. Perempuan Jawa Timur kini rata-rata hidup hingga 78,21 tahun, sedangkan laki-laki mencapai 72,64 tahun. Namun di sisi lain, peningkatan jumlah lansia juga memunculkan tantangan sosial-ekonomi baru.
Saat ini, setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung sekitar 24 lansia. Karena itu, beban ekonomi diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk usia tua.
Meski rata-rata kondisi provinsi tampak stabil, beberapa daerah menghadapi kerentanan yang lebih serius. Salah satunya Kabupaten Bojonegoro.
Lansia Bojonegoro: Pendidikan Rendah dan Tingginya Buta Aksara
Potret pertama yang paling mencolok dari lansia Bojonegoro ialah rendahnya tingkat pendidikan.
Sebanyak 87,84 persen lansia di Bojonegoro hanya menamatkan pendidikan SD ke bawah. Angka ini lebih buruk dibanding rata-rata Jawa Timur yang mencapai 84,48 persen.
Selain itu, angka buta aksara juga masih tinggi. Sebanyak 29,43 persen lansia Bojonegoro tidak bisa membaca dan menulis. Sementara itu, rata-rata Jawa Timur berada di angka 20,75 persen.
Kesenjangan gender pun terlihat sangat tajam. Sebanyak 34,42 persen lansia perempuan Bojonegoro mengalami buta aksara. Sebaliknya, pada lansia laki-laki angkanya sebesar 13,01 persen.
Artinya, masih banyak perempuan lanjut usia di desa-desa Bojonegoro yang hidup tanpa kemampuan membaca dan menulis dasar. Akibatnya, mereka kesulitan memahami informasi kesehatan, membaca resep obat, mengakses layanan administrasi, hingga memahami bantuan sosial.
Di tengah digitalisasi layanan publik yang semakin cepat, sebagian lansia Bojonegoro justru masih bergantung pada komunikasi lisan dan bantuan keluarga maupun tetangga.
Ketika Sakit Dianggap Bagian Biasa dari Masa Tua
Data kesehatan lansia Bojonegoro menghadirkan ironi lain. Persentase lansia yang mengaku mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir tercatat hanya 29,43 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata Jawa Timur yang mencapai 46,82 persen.
Sekilas angka tersebut tampak positif. Namun, kondisi itu justru patut dicurigai sebagai gejala rendahnya kesadaran kesehatan.
Kemungkinan besar, banyak lansia tidak menganggap keluhan kesehatan sebagai masalah serius yang perlu dilaporkan. Nyeri sendi, sesak napas, pegal berkepanjangan, maupun tekanan darah tinggi sering dianggap sebagai bagian alami dari proses menua.
Selain itu, perilaku berobat mereka juga memperlihatkan pola yang cukup mengkhawatirkan.
Sebanyak 70,57 persen lansia Bojonegoro yang mengalami keluhan kesehatan memilih tidak berobat jalan. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata Jawa Timur yang sebesar 53,18 persen.
Dengan kata lain, tujuh dari sepuluh lansia Bojonegoro yang sakit memilih tidak datang ke fasilitas kesehatan.
Menariknya, alasan utama bukan karena biaya. Hanya sebagian kecil yang mengaku terkendala ongkos pengobatan.
Sebaliknya, mayoritas lansia memilih:
- mengobati sendiri (64,12 persen),
- atau merasa tidak perlu berobat (30,75 persen).
Karena itu, persoalan utamanya bukan hanya akses layanan kesehatan, melainkan juga cara pandang terhadap sakit dan masa tua.
Banyak lansia menganggap sakit sebagai hal biasa yang cukup ditangani dengan jamu, obat warung, atau istirahat di rumah.
Lebih Percaya Bidan Desa daripada Fasilitas Formal
Ketika akhirnya memutuskan berobat, mayoritas lansia Bojonegoro justru memilih layanan kesehatan swasta kecil yang dekat dengan lingkungan sosial mereka.
Sebanyak:
- 59,38 persen memilih praktik dokter, bidan, atau perawat swasta,
- 12,90 persen datang ke Puskesmas,
- dan 12,45 persen ke rumah sakit pemerintah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kedekatan sosial lebih penting dibanding fasilitas formal.
Bagi banyak lansia desa, bidan atau dokter praktik rumahan terasa lebih akrab dan sederhana. Selain itu, mereka juga menganggap layanan tersebut lebih mudah diakses dibanding fasilitas kesehatan pemerintah yang identik dengan antrean dan administrasi.
Karena itu, hubungan personal masih menjadi faktor utama dalam keputusan berobat.
Masa Tua yang Tetap Menanggung Keluarga
Temuan lain yang tidak kalah penting ialah tingginya jumlah lansia yang masih menjadi kepala rumah tangga.
Sebanyak 50,31 persen lansia Bojonegoro masih memegang peran sebagai kepala keluarga. Artinya, separuh lansia masih memikul tanggung jawab ekonomi rumah tangga di usia senja.
Selain itu, mayoritas masih bekerja di sektor pertanian informal dengan penghasilan terbatas dan tanpa jaminan pensiun.
Potret ini sangat mudah ditemukan di desa-desa Bojonegoro. Seorang kakek berusia lebih dari 65 tahun masih pergi ke sawah setiap pagi karena keluarga masih bergantung pada penghasilannya.
Akibatnya, masa tua belum menjadi fase beristirahat. Sebaliknya, masa tua justru tetap dipenuhi kerja fisik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak lansia Bojonegoro memasuki usia lanjut tanpa perlindungan ekonomi yang memadai. Rendahnya pendidikan dan terbatasnya akses pekerjaan formal pada masa muda membuat mereka tidak memiliki tabungan maupun dana pensiun.
Pada akhirnya, satu-satunya modal yang tersisa hanyalah tenaga tubuh yang terus dipaksa bekerja.
Masa Tua yang Belum Sepenuhnya Sejahtera
Potret lansia Bojonegoro menunjukkan bahwa persoalan usia lanjut bukan sekadar soal kesehatan.
Ada persoalan yang lebih dalam, mulai dari:
- rendahnya pendidikan,
- minimnya literasi,
- lemahnya perlindungan sosial,
- hingga ketergantungan ekonomi keluarga pada lansia.
Program jaminan kesehatan dan bantuan sosial memang terus diperluas. Namun demikian, data ini menunjukkan bahwa layanan belum otomatis mengubah perilaku maupun kualitas hidup lansia.
Bagi banyak warga desa di Bojonegoro, masa tua masih identik dengan tetap bekerja, menahan sakit, dan bertahan hidup dengan kemampuan yang semakin terbatas.
Bojonegoro mungkin hanya satu kabupaten di Jawa Timur. Akan tetapi, potret lansianya mencerminkan wajah banyak daerah agraris di Indonesia: usia penduduk terus bertambah panjang, sementara perlindungan terhadap masa tua belum benar-benar siap.
Penulis : Syafik
Sumber data: BPS Provinsi Jawa Timur, Profil Penduduk Lanjut Usia Provinsi Jawa Timur 2025 (Volume 16, 2026).
Disclaimer : Penulisan dan analisa data dibantu oleh teknologi AI






