Bojonegoro, damarinfo.com – KH. Marzuki Mustamar menyampaikan pentingnya menjaga ajaran Islam sesuai tuntunan Al-Qur’an, hadits, dan ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Dalam tausiyahnya di Pondok Pesantren Attanwir yakni kegiatan Haul ke-34 Almaghfurlah KH. Muhammad Sholeh pada Jumat, 29 Mei 2026. KH. Marzuki Mustamar menegaskan bahwa umat Islam harus mengikuti para ulama yang sanad keilmuannya jelas dan berpegang teguh pada Al-Qur’an serta hadits Nabi Muhammad SAW.
“Para ulama itu mengikuti Al-Qur’an dan hadits. Kita harus melihat siapa gurunya. Jika gurunya ahli sunnah wal jamaah dan alim, maka layak dijadikan panutan. Ulama yang alim dan luas ilmunya merupakan pewaris para nabi,” tuturnya di hadapan jamaah.
Beliau juga mencontohkan sosok Ikrimah, putra Abu Jahal, yang meskipun berasal dari keluarga penentang Islam namun menjadi seorang alim dan perawi hadits karena kesungguhannya dalam menuntut ilmu.
KH. Marzuki menambahkan, ciri ulama sejati adalah konsisten dalam beragama dan tidak mudah berubah-ubah pendirian. Menurutnya, masyarakat hendaknya mengikuti tuntunan para kiai dalam perkara ibadah yang memiliki dasar hadis jelas, seperti membaca basmalah saat salat, qunut Subuh, dzikir setelah salat, hingga tata cara tasyahud.
“Kalau mengikuti kiai, setelah salat ya wiridan, setelah salam salaman, membaca surat pendek seperti qulhu juga ada tuntunannya. Semua itu memiliki dasar dalam hadis-hadis sahih,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa pembacaan basmalah di awal fatihah dalam salat disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari nomor 5046, qunut Subuh dalam hadits Bukhari nomor 1001, serta dzikir dengan suara keras setelah salat fardu sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Fathul Bari Juz 2 halaman 324.
Dalam kesempatan itu, KH. Marzuki juga menegaskan pentingnya tradisi pembelajaran kitab di pesantren salaf. Menurutnya, para kiai mengajar dengan membaca langsung kitab-kitab ulama terdahulu, sementara santri turut menyimak dan membaca sehingga keilmuan tetap terjaga tanpa pengurangan maupun penambahan. Karena sama-sama memegang kitab baik Kiyai maupun santri.
“Kiyai saat mengajarkan hadits memegang kitab dan membacanya. Santri juga memegang kitab dan membacanya. Dengan begitu ilmu tetap terjaga dan sanadnya jelas,” ungkapnya.
KH. Marzuki juga menjelaskan bahwa pondok pesantren salaf selama ini menjaga tradisi keilmuan dengan ketat, termasuk memastikan keakuratan kitab-kitab yang dipelajari para santri. Jika terdapat kesalahan cetak atau penulisan dalam kitab baru, maka para kiai akan meluruskan berdasarkan kitab rujukan lama yang sanadnya jelas.
Selain itu, beliau mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap berbagai berita negatif yang menyudutkan pesantren maupun kiai. Ia menilai tidak semua kasus yang diberitakan media benar-benar melibatkan kiai asli atau lingkungan pesantren yang sesungguhnya.
“Jangan langsung percaya berita buruk tentang kiai. Bisa jadi itu ulah oknum atau bahkan bukan kiai sebenarnya. Kiai-kiai asli seperti di Sarang, Attanwir, Ploso, Denanyar, memiliki sanad dan silsilah keilmuan yang jelas,” tegasnya.
Kegiatan haul berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan menjadi momentum mempererat hubungan ulama, santri, alumni, serta masyarakat dalam menjaga tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan pesantren.






