damarinfo.com – Awal tahun 2026 menjadi momen pembuktian bagi Jawa Timur. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi ini mencapai 5,96 persen secara tahunan. Angka impresif ini menobatkan Jawa Timur sebagai jawara pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa.
Aktivitas industri dan perdagangan lokal bergerak sangat lincah. Sektor pariwisata serta belanja pemerintah di awal tahun turut menggenjot performa makro ini.
Namun, angka agregat yang berkilau itu menyimpan cerita lain. Ekonomi Jawa Timur nyatanya bergerak dalam dua kecepatan yang berbeda. Di balik pertumbuhan 5,96 persen tersebut, ada jurang lebar antar-wilayah. Beberapa daerah melesat kencang, sementara sebagian lainnya justru berjalan merayap.
Kejutan dari Pamekasan dan Ketangguhan Sabuk Industri
Naratif pertumbuhan tinggi biasanya selalu identik dengan kawasan ring utama industri. Namun, data Triwulan I-2026 menjungkirbalikkan asumsi tersebut. Kabupaten Pamekasan justru merebut panggung utama dengan pertumbuhan 7,76 persen. Kabupaten Ngawi menyusul di posisi berikutnya dengan angka 7,14 persen.
Kehadiran Pamekasan dan Ngawi di papan atas membawa pesan penting. Modernisasi pertanian dan kekuatan perdagangan lokal mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang andal. Daerah tanpa pabrik besar pun bisa tumbuh tinggi.
Meski begitu, kawasan industri tradisional Jawa Timur tetap menunjukkan ototnya. Kabupaten Kediri dan Tuban sama-sama mencatat angka 6,88 persen. Sementara itu, Gresik mengunci angka 6,68 persen dan Pasuruan berada di 6,52 persen. Sektor manufaktur masih menjadi bantalan ekonomi yang sangat kokoh bagi provinsi ini.
Surabaya: Sang Lokomotif yang Belum Terbendung
Pada kelompok kota, Surabaya kembali menegaskan posisinya sebagai motor utama. Ibu kota provinsi ini tumbuh perkasa di angka 7,28 persen. Sektor jasa, logistik, dan daya beli masyarakat yang tinggi membuat Surabaya sulit tertandingi. Kota ini memimpin jauh di depan kota-kota sekunder lainnya.
Jika kita membedah peta pertumbuhan kota di Jawa Timur, kontras itu kian nyata:
Kota Probolinggo dan Kota Pasuruan menempel di zona nyaman dengan 6,81 persen dan 6,62 persen.
Kota Malang (6,31%) serta Kota Mojokerto (6,05%) bergerak stabil di atas rata-rata provinsi.
Kota Kediri harus puas berada di posisi buncit karena hanya tumbuh 2,85 persen. Penurunan produksi industri tembakau tampaknya menahan laju ekonomi kota ini.
Dua Wajah di Pulau Garam dan Soliditas Mataraman
Dinamika regional Jawa Timur juga menyajikan anomali menarik antara wilayah Madura dan Mataraman.
Pulau Madura menampilkan dua wajah yang sangat ekstrem. Saat Pamekasan merayakan pertumbuhan tertinggi se-provinsi, kabupaten tetangganya justru terseok-seok. Sumenep hanya tumbuh 1,36 persen. Bangkalan menyusul dengan 3,25 persen dan Sampang di angka 4,30 persen. Data ini menjadi alarm penting. Kue ekonomi di Pulau Garam belum terbagi secara merata.
Pemandangan berbeda tersaji di kawasan barat dan selatan (Mataraman). Wilayah ini menampilkan performa yang jauh lebih solid dan merata. Di belakang Kabupaten Kediri, ada Tulungagung (6,52%).
Selanjutnya, Blitar dan Nganjuk kompak tumbuh 6,03 persen. Daerah pegunungan seperti Trenggalek (5,26%), Ponorogo (5,16%), dan Pacitan (4,57%) juga bergerak stabil.
Alarm Keras dari Stagnasi Bojonegoro
Titik paling krusial berada di bagian bawah klasemen. Ada selisih hampir 8 poin persentase antara Pamekasan di posisi puncak dan Bojonegoro di posisi juru kunci.
Ekonomi Bojonegoro mengalami mati suri dengan pertumbuhan hanya 0,02 persen. Angka yang nyaris stagnan ini sangat ironis bagi daerah kaya minyak.
Kasus Bojonegoro menjadi contoh nyata dari risiko ketergantungan pada satu komoditas (single-commodity dependence). Saat sektor hulu migas melambat, seluruh sendi perekonomian daerah langsung ngerem mendadak. Kekayaan alam terbukti rapuh tanpa adanya diversifikasi sektor ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 5,96 persen adalah prestasi makro yang luar biasa. Namun, pemerintah provinsi memiliki pekerjaan rumah yang besar.
Data kuartal ini mengajarkan satu hal berharga. Diversifikasi sektor menentukan ketahanan ekonomi suatu daerah. Daerah dengan mesin ekonomi beragam cenderung lebih lincah berakselerasi.
Tantangan utama ke depan bukan lagi sekadar memacu angka pertumbuhan tinggi. Pemerintah harus meratakan kecepatan ekonomi agar daerah di papan bawah tidak tertinggal semakin jauh.
Penulis : Syafik
Sumber Data:
Laju Pertumbuhan (y-on-y) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulanan Atas Dasar Harga Konstan (2010=100) Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Timur (Persen), 2026. Rilis 5 Juni 2026 oleh Badan Pusat Statistik Jawa Timur.






