Sektor Nonmigas dan Arah Pembangunan Bojonegoro di Tengah Pertumbuhan Ekonomi yang Nyaris Stagnan

oleh 21 Dilihat
oleh
(Komplek Kantor Pemkab Bojonegoro. Foto : Syafik)

damarinfo.com – Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bojonegoro pada Triwulan I 2026 “hanya” 0,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini memposisikan Bojonegoro di urutan terendah di Jawa Timur. Akibatnya, masyarakat wajar kalau langsung cemas dan berpikir bahwa ekonomi Bojonegoro sedang mandek alias stagnan.

Namun, apakah satu angka itu sudah cukup memotret kondisi riil di lapangan? Belum tentu.

Sebab, bagi daerah penghasil migas seperti Bojonegoro, kita butuh kehati-hatian ekstra untuk membaca angka pertumbuhan ekonomi. Daerah ini memiliki struktur ekonomi yang unik. Faktanya, sektor pertambangan dan penggalian masih menggerakkan hampir separuh urat nadi perekonomian daerah.

Oleh karena itu, goyangan sedikit saja di sektor migas akan langsung mengocok angka pertumbuhan ekonomi total secara drastis—meskipun sektor-sektor lainnya sebenarnya sedang tumbuh subur.

Jadi, kita jangan cuma memakai data pertumbuhan ekonomi untuk “menghakimi” kinerja pemerintah daerah. Sebaliknya, kita harus membaca data tersebut sebagai peta untuk melihat ke mana arah pergeseran ekonomi yang sebenarnya.

Efek “Anak Emas” Sektor Migas

Pada Triwulan I 2026, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 41,9 persen terhadap PDRB Bojonegoro. Sektor ini menghasilkan nilai tambah mencapai Rp7,16 triliun dari total PDRB yang sebesar Rp17,09 triliun. Dominasi mutlak ini akhirnya membuat ekonomi Bojonegoro punya kepribadian yang berbeda dengan daerah lain.

  • Saat produksi migas melejit: Angka pertumbuhan ekonomi daerah otomatis ikut meroket.

  • Oleh karena itu, saat aktivitas tambang melandai: Angka pertumbuhan total juga langsung tiarap.

Padahal, pada saat yang sama, warga tetap meramaikan warung-warung, pasar bergerak aktif, industri berjalan, dan sektor jasa terus berkembang. Jadi, pertumbuhan ekonomi total di Bojonegoro sering kali lebih mencerminkan dinamika isi bumi (migas), ketimbang isi dompet masyarakat secara keseluruhan.

Di Balik Migas, Sektor Lain Justru “Sembunyi” Sambil Tumbuh

Kalau kita mau jujur melihat ekonomi masyarakat, mari kita “pinggirkan” dulu sektor migas. Hasilnya justru menarik: sektor-sektor nonmigas di Bojonegoro ternyata tumbuh konsisten dalam lima tahun terakhir.

Mari kita intip perkembangan nilai tambah beberapa sektor utama nonmigas (berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan) berikut ini:

Sektor2021 (Triliun Rp)2025 (Triliun Rp)Pertumbuhan (%)
Pertanian5,936,9116,5%
Perdagangan4,996,2124,5%
Informasi & Komunikasi4,655,8425,8%
Konstruksi4,095,1425,7%
Industri Pengolahan3,444,4529,6%

Data di atas menjadi bukti nyata bahwa ekonomi nonmigas Bojonegoro tidak sedang jalan di tempat. Meskipun skalanya belum cukup raksasa untuk menandingi dominasi sektor pertambangan, namun sektor-sektor ini terbukti terus bergerak maju.

Pertanian Masih Jadi Jangkar, Jasa Modern Mulai Ngegas

Sektor pertanian jelas masih menjadi motor utama nonmigas di Bojonegoro dengan nilai Rp6,91 triliun pada 2025. Namun, kalau bicara soal kecepatan, sektor perdagangan serta informasi dan komunikasi (infokom) ternyata lari lebih cepat.

Sebagai gambaran, sektor perdagangan melonjak dari Rp4,99 triliun (2021) menjadi Rp6,21 triliun (2025). Sementara itu, sektor infokom tumbuh dari Rp4,65 triliun ke Rp5,84 triliun pada periode yang sama. Fenomena ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Bojonegoro mulai bervariasi. Pertanian tetap menjadi fondasi, tetapi aktivitas perdagangan dan layanan digital mulai mengambil porsi yang lebih besar.

Menariknya lagi, grafik triwulanan (2023–2025) menunjukkan bahwa sektor industri, konstruksi, perdagangan, dan infokom ini tumbuh secara stabil dan bertahap. Kita tidak melihat adanya lompatan ekstrem atau anjlok drastis seperti pada sektor migas.

Kesimpulannya, fondasi ekonomi riil masyarakat justru tergolong kokoh.

Mengubah Data Menjadi Strategi Nyata

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Pertanyaan penting bagi perencana kebijakan bukan lagi “Kenapa pertumbuhan ekonomi kita cuma 0,02 persen?”, melainkan: “Sektor mana yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan punya potensi terbesar untuk kita genjot?”

Sebab, data sudah bicara bahwa pertanian, perdagangan, infokom, industri pengolahan, dan konstruksi adalah lima pilar utama penyangga ekonomi nonmigas Bojonegoro.

Ke depan, pemerintah daerah sebaiknya mengarahkan fokus pembangunan langsung ke sektor-sektor ini:

  1. Meningkatkan produktivitas petani lewat teknologi.

  2. Menguatkan industri pengolahan berbasis produk lokal.

  3. Memperbaiki rantai pasok perdagangan.

  4. Selain itu, mempercepat transformasi digital.

Angka pertumbuhan 0,02 persen pada Triwulan I 2026 memang menjadi fakta yang harus kita catat. Namun, menjadikannya satu-satunya rapor ekonomi daerah adalah sebuah kekeliruan.

Di balik angka yang nyaris nol itu, mesin ekonomi masyarakat Bojonegoro sebenarnya tetap menyala dan terus melaju. Akhirnya, bagi daerah penghasil migas, kita tidak bisa mengukur kualitas perencanaan pembangunan dari seberapa tinggi angka pertumbuhan di atas kertas. Sebaliknya, kualitas itu terlihat dari seberapa jeli pemerintah membaca sektor yang potensial, lalu mengarahkan anggaran untuk menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan yang merata bagi warganya.

Penulis : Syafik

Sumber data : BPS Jawa Timur, BPS Bojonegoro

Disclaimer : Penulisan dan analisa data dibantu oleh teknologi AI