damarinfo.com – Di tengah tren menurunnya dana transfer pusat, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada sektor migas dan kucuran fiskal dari pemerintah pusat. Karena itu, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) harus mulai mengambil peran lebih besar sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam konteks tersebut, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) kini berada di persimpangan penting: menjadi motor ekonomi daerah atau terus berjalan dengan performa yang biasa-biasa saja.
Penunjukan M. Nur Faqih sebagai Direktur Utama PT BBS pada Mei 2026 hadir di tengah menurunnya kontribusi perusahaan terhadap PAD. Oleh sebab itu, tantangan utamanya bukan sekadar menjaga perusahaan tetap sehat, melainkan mengubah aset dan modal besar menjadi laba yang lebih produktif bagi daerah.
Aset Besar, Namun Imbal Hasil Masih Rendah
Secara neraca, kondisi PT BBS sebenarnya relatif sehat. Perusahaan memiliki total aset mencapai Rp30,2 miliar dengan tingkat liabilitas hanya sekitar 6 persen. Artinya, struktur keuangan perusahaan tidak terbebani utang besar sehingga PT BBS masih memiliki ruang cukup aman untuk melakukan ekspansi usaha.
Namun demikian, kesehatan aset tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Pada tahun 2024, PT BBS mencatat laba bersih sebesar Rp1,02 miliar dari modal disetor pemerintah daerah senilai Rp11,5 miliar.
Indikator Keuangan Utama PT BBS
| Indikator Keuangan PT BBS | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Total Aset (2024) | Rp30,2 miliar | Menunjukkan skala aset perusahaan |
| Liabilitas | 6% dari aset | Struktur utang relatif rendah |
| Modal Disetor Pemkab | Rp11,5 miliar | Penyertaan modal pemerintah daerah |
| Laba Bersih (2024) | Rp1,02 miliar | Keuntungan perusahaan selama 2024 |
| Return on Invested Capital | 8,87% | Imbal hasil dari modal disetor |
| Return on Equity (ROE) | 3,61% | Tingkat pengembalian terhadap ekuitas |
Data tersebut menunjukkan bahwa PT BBS sebenarnya berada dalam kondisi keuangan yang cukup sehat. Akan tetapi, persoalan utamanya bukan terletak pada kekuatan modal atau tingginya beban utang. Sebaliknya, perusahaan belum mampu memanfaatkan aset dan ekuitas untuk menghasilkan laba yang lebih besar. Selain itu, rendahnya ROE mengindikasikan bahwa modal yang terus bertambah belum sepenuhnya diputar menjadi ekspansi usaha yang produktif.
Di sisi lain, PT BBS juga menyimpan saldo laba ditahan mencapai Rp16,8 miliar. Dana tersebut memang memperkuat struktur modal perusahaan. Namun sampai sekarang, manajemen belum mengonversinya menjadi sumber pertumbuhan bisnis baru yang signifikan.
Dengan kata lain, tantangan utama PT BBS saat ini bukan bertahan hidup, melainkan meningkatkan produktivitas modal yang dimiliki.
Kontribusi PAD Turun Tajam dalam Dua Tahun
Penurunan performa perusahaan paling terlihat dari setoran PAD kepada Pemkab Bojonegoro. Dalam dua tahun terakhir, kontribusi PT BBS mengalami penurunan cukup tajam.
Pada 2022, PT BBS masih mampu menyetor PAD sebesar Rp2,28 miliar. Namun pada 2023, angka tersebut turun menjadi Rp1,72 miliar atau terkoreksi sekitar 24 persen. Penurunan kembali berlanjut pada 2024 ketika setoran PAD hanya berada di kisaran Rp400 juta.
Artinya, dalam rentang dua tahun, kontribusi perusahaan terhadap PAD turun lebih dari 80 persen dibanding capaian puncaknya pada 2022.
Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan periode transisi manajemen ketika posisi Direktur Utama cukup lama diisi pelaksana tugas (Plt). Meski demikian, kondisi itu tidak otomatis menjadi satu-satunya penyebab penurunan kinerja. Akan tetapi, situasi tersebut diduga memengaruhi agresivitas perusahaan dalam mengambil keputusan bisnis dan mengembangkan usaha baru.
Selain faktor manajemen, perlambatan bisnis inti jasa angkut minyak juga menjadi variabel penting. Penurunan pendapatan sektor tersebut menunjukkan bahwa PT BBS masih memiliki ketergantungan tinggi pada satu sumber usaha. Karena itu, perusahaan belum berhasil membangun diversifikasi pendapatan yang kuat.
Beban Operasional Perlu Diimbangi Pertumbuhan Laba
Laporan keuangan perusahaan juga menunjukkan beban gaji pegawai pada 2024 mencapai Rp1,36 miliar. Nilai tersebut bahkan lebih tinggi dibanding laba bersih perusahaan yang sebesar Rp1,02 miliar.
Secara akuntansi, kondisi itu tidak otomatis menunjukkan inefisiensi. Sebab, beban gaji merupakan bagian normal dari operasional perusahaan. Namun demikian, situasi tersebut memberi sinyal bahwa pertumbuhan laba perusahaan belum cukup kuat untuk menghasilkan margin keuntungan yang lebih leluasa.
Apalagi jika melihat besarnya aset dan ekuitas yang dimiliki perusahaan. Dengan modal dan aset puluhan miliar rupiah, PT BBS sebenarnya masih memiliki ruang pertumbuhan laba yang cukup besar.
Karena itu, tantangan utama manajemen baru bukan sekadar menekan biaya operasional. Sebaliknya, manajemen harus mampu meningkatkan produktivitas usaha sekaligus memperbesar sumber pendapatan perusahaan.
Momentum Reposisi PT BBS
Masuknya Direktur Utama baru menjadi momentum penting untuk melakukan reposisi bisnis PT BBS. Oleh karena itu, perusahaan perlu bergerak lebih agresif dalam mengembangkan sektor yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, terutama yang masih berkaitan dengan rantai bisnis energi dan jasa penunjang migas.
Saldo laba ditahan yang mencapai Rp16,8 miliar juga dapat menjadi modal strategis untuk ekspansi usaha produktif, baik melalui penguatan bisnis existing maupun diversifikasi usaha baru.
Jika manajemen baru mampu meningkatkan profitabilitas perusahaan hingga dua kali lipat dari capaian saat ini, maka kontribusi PAD PT BBS berpeluang kembali naik ke kisaran Rp2 miliar hingga Rp3 miliar per tahun dalam beberapa tahun mendatang. Target tersebut masih realistis karena perusahaan pernah mencapai setoran PAD Rp2,28 miliar pada 2022.
Ke depan, publik tidak hanya menunggu pergantian nama di kursi direktur utama. Yang lebih penting, masyarakat ingin melihat apakah kepemimpinan baru benar-benar mampu mengubah PT BBS menjadi BUMD yang produktif dan relevan bagi fiskal daerah.
Sebab di tengah tekanan keuangan daerah yang semakin besar, BUMD tidak cukup hanya sehat di atas kertas. Sebaliknya, perusahaan daerah harus mampu menjadi mesin ekonomi yang memberi dampak nyata bagi pendapatan daerah dan pembangunan Bojonegoro.
Penulis : Syafik
Sumber data : Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) Pemkab Bojonegoro 2019 – 2024. bpkad.id
Disclaimer : Penulisan dan analisa data dibantu oleh AI.






