damarinfo.com – Data Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 menunjukkan tren unik bagi Kabupaten Bojonegoro. Di satu sisi, posisi Bojonegoro di Jawa Timur masih tertahan di kelompok papan bawah-menengah dan kalah dari tetangganya seperti Ngawi dan Lamongan. Namun di sisi lain, sebuah temuan mengejutkan muncul dari dokumen perencanaan daerah.
Target IDSD yang dipasang Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam RPJMD ternyata sudah terlampaui pada tahun pertama pelaksanaannya. Capaian riil tahun 2025 bahkan telah melewati target akhir yang direncanakan untuk tahun 2030.
Melompati Target Lima Tahun ke Depan
Dalam dokumen RPJMD, Pemkab Bojonegoro memasang target skor IDSD yang terbilang sangat moderat. Pemerintah daerah menargetkan skor sebesar 3,41 pada tahun 2025. Target tersebut kemudian dinaikkan bertahap: 3,46 (2026), 3,48 (2027), 3,50 (2028), 3,52 (2029), hingga berakhir di angka 3,54 pada tahun 2030.
Namun, rilis data terbaru IDSD 2025 dari BRIN justru mencatat skor Bojonegoro sudah menyentuh angka 3,56. Angka aktual ini secara otomatis langsung melompati target akhir rencana pembangunan jangka menengah daerah tersebut.
Lompatan ini terjadi karena pertumbuhan aktual di lapangan bergerak jauh lebih dinamis. Dalam tiga tahun terakhir, skor IDSD Bojonegoro melaju sebagai berikut:
Tahun 2023: 3,20
Tahun 2024: 3,35
Tahun 2025: 3,56
Kenaikan terbesar terjadi pada periode 2024–2025 dengan tambahan +0,21 poin. Padahal, rancangan dokumen RPJMD setelah tahun 2026 hanya mengasumsikan kenaikan tipis sekitar 0,02 poin per tahun.

Skor Naik, Tapi Kalah Gesit dari Tetangga
Meski skor indeks melesat melampaui target internal, posisi Bojonegoro di panggung regional Jawa Timur belum ikut melompat. Sejarah peringkat Bojonegoro mencatat fluktuasi yang ketat: peringkat 26 pada tahun 2023, merosot ke peringkat 34 pada tahun 2024, dan baru merangkak ke posisi 29 pada tahun 2025.
Fakta ini mengonfirmasi bahwa perbaikan internal Bojonegoro belum cukup kuat untuk menandingi keagresifan daerah lain. Bojonegoro memang membaik, tetapi kabupaten tetangga melaju jauh lebih cepat.
Padahal, dokumen RPJMD sebenarnya sudah membaca titik lemah daerah secara tepat. Pemkab Bojonegoro mengakui beberapa pilar rapuh yang perlu mendapat perhatian khusus. Sektor-sektor tersebut meliputi pasar produk, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, dinamika bisnis, dan inovasi.
Pengakuan di dokumen tersebut sejalan dengan fakta lapangan IDSD 2025. Bojonegoro mencatatkan skor tinggi pada pilar penunjang fisik seperti Institusi (4,92), Infrastruktur (4,67), dan Adopsi TIK (4,47). Namun, daerah ini langsung jeblok pada pilar ekonomi mikro, yakni Pasar Tenaga Kerja (2,54), Pasar Produk (2,07), dan Sistem Keuangan yang berada di titik darurat (1,65).
Risiko Target yang Terlalu Nyaman
Capaian aktual yang langsung melubangi target tahun 2030 ini memicu pertanyaan kritis: apakah tim penyusun rencana anggaran dan kebijakan daerah sengaja memasang target yang terlalu rendah?
Dua tahun terakhir menunjukkan skor Bojonegoro rata-rata naik hingga 0,18 poin per tahun. Angka ini berbanding terbalik dengan asumsi RPJMD setelah tahun 2026 yang hanya menargetkan kenaikan 0,02 poin. Jarak yang lebar ini memperlihatkan adanya ego sektoral atau ketidakselarasan antara dinamika riil daya saing daerah dengan perencanaan di atas kertas.
Memasang target rendah memang membuat instansi pemerintah lebih mudah mengklaim keberhasilan. Namun, target yang terlalu aman berisiko menidurkan pembuat kebijakan. Akibatnya, daerah kehilangan dorongan untuk melakukan lompatan kebijakan yang radikal.
Persoalan utama Bojonegoro hari ini bukan lagi sekadar memenangkan angka di atas kertas atau melampaui target administrasi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana pertumbuhan skor tersebut mampu menghidupkan pasar produk lokal, mempermudah modal UMKM, dan menaikkan posisi tawar daerah di tengah ketatnya kompetisi Jawa Timur.
Penulis : Syafik
Sumber : RPJMD Kabupaten Bojonegoro Tahun 2025-2029 (Perda Nomor 11 Tahun 2025), IDSD tahun 2025, BRIN
Disclaimer : Penulisan dan analisa data dibantu oleh teknologi AI






