Di Balik Surat Kartini 1902 dan Sejarah Perjuangan Pendidikan Perempuan yang Nyaris Kandas

oleh 10 Dilihat
oleh
(Foto Kartini, Kardinah en Roekmini, vermoedelijk te Semarang Foto : https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)

damarinfo.com – Suatu pagi di tahun 1902, di sebuah kediaman di Belanda, Neillie van Kol membuka sebuah amplop yang datang dari tempat yang sangat jauh: Jepara, Jawa. Saat matanya mulai menelusuri baris-baris tulisan di dalamnya, sesuatu terjadi. Tangannya sedikit gemetar. Hatinya tersentuh. Hampir saja air matanya menetes.

Itu bukan sekadar surat biasa. Itu adalah jeritan hati seorang gadis berusia 23 tahun yang hidup di balik tembok pingitan. Kakinya memang terkurung di dalam rumah, namun pikirannya telah melampaui lautan dan menembus zaman.

Gadis itu adalah Raden Adjeng Kartini.

Beberapa minggu kemudian, van Kol menulis di koran De Locomotief. Ia tak sanggup menyembunyikan kekagumannya:

Welnu, den brief van dat Javaansche meisje reken ik tot de mooiste en edelste die ik ooit ontving… curahan hatinya membuat saya mengenali sosok yang terpanggil, yang ditakdirkan untuk sesuatu yang agung.”

Van Kol tak sendirian. Ia tahu, surat itu mewakili jeritan Kartini, Roekmini, dan Kardinah. Tiga saudari yang bermimpi mengubah nasib perempuan di tanah mereka. Bagi van Kol, mereka bukan sekadar penulis surat, melainkan agen perubahan.

“Mereka memiliki keyakinan, mereka memiliki tujuan, mereka memiliki cinta,” tulisnya kala itu.

Strategi dan Pesimisme

Setelah Kartini tiada pada 1904, sahabatnya, Tuan Abendanon, tidak tinggal diam. Ia memiliki sebuah inisiatif strategis: menerbitkan kumpulan tulisan Kartini yang banyak diperbincangkan itu. Harapannya, hasil penjualan buku tersebut dapat mengumpulkan dana yang cukup untuk mewujudkan sekolah yang diimpikan sang penulis yang meninggal di usia terlalu muda tersebut.

Namun, tidak semua orang berbagi optimisme yang sama. Koresponden Semarangsche Nieuws en Handelsblad saat itu menuliskan kekhawatiran tajam: mereka memprediksi Tuan Abendanon akan menghadapi kekecewaan besar. Menurut laporan tersebut, peluang sekolah itu berdiri sangatlah minim mengingat kondisi zaman yang belum berpihak.

Mimpi yang Terbentur Angka dan Adat

Prediksi pesimis itu terbukti saat Perkumpulan “Mangoen Hardjo” mengadakan pertemuan di Semarang pada 1911. Di atas meja, terhampar realitas yang pahit. Kebutuhan operasional sekolah perempuan (gaji guru, asrama, dan sewa gedung) mencapai f. 2.000 per bulan. Sementara itu, proyeksi pendapatan dari murid hanya mencapai f. 1.800. Defisit pun tak terelakkan.

Namun, kendala terbesar bukan hanya soal defisit anggaran. Ada tembok tebal bernama “adat”. Banyak orang tua pribumi enggan melepas putrinya meninggalkan rumah. Bahkan, muncul argumen konservatif yang cukup mengejutkan saat itu: jika perempuan lebih terdidik daripada laki-laki, mereka khawatir hubungan suami-istri tidak akan harmonis. Bagi banyak pria saat itu, pendidikan perempuan dianggap belum menjadi prioritas sebelum kaum laki-laki mencapai tingkat perkembangan yang memadai.

Jalan Tengah yang Realistis

Melihat kebuntuan tersebut, muncul usulan pragmatis dari Raden Kamil, adjunct-inspektur pendidikan pribumi. Ia mengusulkan “jalan tengah”: tidak perlu sekolah asrama yang mewah, cukup dorong gadis-gadis usia 7 hingga 11 tahun bersekolah di sekolah desa.

Dengan tambahan kurikulum bahasa Belanda, ia yakin itu sudah cukup untuk membekali mereka. Banyak anggota perkumpulan mendukung ide ini sebagai langkah awal yang realistis untuk memasyarakatkan pendidikan perempuan tanpa harus melawan arus budaya secara frontal.

(Kartini dan adik-adiknya Roekmini, Kartinah dan Soemarti sebagai guru. Foto : https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)

Bukan Meniru, Tapi Memuliakan

Di tengah perdebatan soal uang dan adat, ada satu filosofi Kartini yang sangat tajam dan masih relevan meski sudah 124 tahun berlalu. Ia menulis:

“Sama sekali bukan maksud kami untuk menjadikan orang Jawa sebagai ‘Jawa-Eropa’. Ide kami adalah, di samping sifat-sifat indah yang telah mereka miliki, memberikan kepada mereka hal-hal yang indah dari bangsa-bangsa lain—bukan untuk menggantikan, melainkan untuk memuliakannya.”

Ini adalah visi pendidikan yang melampaui zamannya. Kartini tidak ingin perempuan Jawa kehilangan jati diri. Ia ingin kita tetap menjadi diri sendiri, namun dengan wawasan yang lebih luas.

Mewarisi Noblesse Oblige

Hari ini, 21 April 2026, kita memperingati 147 tahun kelahiran R.A. Kartini. Sekolah sudah berdiri di mana-mana. Perempuan Indonesia kini bebas menjadi dokter, insinyur, hingga pemimpin bangsa.

Namun, di tengah kemudahan akses pendidikan dan informasi, satu pertanyaan menggantung: Apakah semangat noblesse oblige—”keluhuran yang mewajibkan”—masih hidup di hati kita?

Kartini lahir dengan privilese sebagai putri Bupati Jepara. Ia bisa membaca dan berkorespondensi dengan orang Eropa. Tapi, ia tidak menyimpan privilese itu untuk dirinya sendiri. Ia justru “membayarnya” dengan berjuang agar perempuan lain yang tak seberuntung dirinya bisa ikut merasakan pendidikan.

Mungkin kita bukan bangsawan seperti Kartini. Tapi, kita memiliki akses, teknologi, dan jaringan yang jauh lebih luas.

Pertanyaannya: Apa yang kita lakukan dengan privilese kita hari ini? Apakah kita menyimpannya untuk diri sendiri, atau menggunakannya untuk “memuliakan” orang-orang di sekitar kita?

Selamat Hari Kartini. Mari kita teruskan semangatnya: bukan untuk menggantikan jati diri, tapi untuk memuliakannya.

Penulis : Syafik

Sumber: (Bataviaasch Nieuwsblad (1903), De Locomotief (1902, 1911), diunduh dari delpher.nl, diterjemahkan dengan chat.qwen.ai)