Sejarah Bojonegoro 1980-an: Pendidikan Dasar Meluas, Sekolah Lanjutan Masih Terbatas

oleh 2 Dilihat
oleh
(Ilustrasi pendidikan 1980an by chatgpt)

Sekolah yang Tidak Selalu Dekat

damarinfo.com – Pagi di Bojonegoro awal 1980-an belum seramai sekarang. Anak-anak berangkat sekolah tidak dengan sepatu mengilap atau tas rapi. Sebagian malah menenteng sepatu di tangan. Dipakai nanti, kalau sudah mendekati sekolah. Soalnya jalan masih tanah. Kalau hujan semalam, pagi itu pasti becek. Sekolah ada, tapi tidak selalu dekat.

Di atas kertas, Bojonegoro memiliki sekitar 584 SD untuk ±430 desa. Angka yang tampak cukup, tetapi dalam praktiknya satu sekolah sering melayani lebih dari satu desa. Bersekolah pada masa itu bukan hanya soal keinginan, tetapi juga soal jarak dan kemampuan menjangkaunya.

Bangunan sekolah sederhana. Dinding papan, lantai belum seluruhnya berubin, bangku kayu jati yang mulai aus. Tidak semua anak bersepatu, dan saat hujan sepatu justru ditenteng agar tidak kotor. Guru datang dengan sepeda angin, berpakaian rapi, rambut klimis—sederhana, tapi berwibawa.

Pelajaran yang diajarkan tidak banyak, tetapi membekas. Jam sekolah singkat. Siangnya, anak-anak kembali ke sawah, ke pasar, atau bermain di pematang. Uang saku hanya Rp10 hingga Rp25. Hidup berjalan sederhana, tetapi penuh.

Namun di balik itu, data tahun 1980 menunjukkan kondisi yang belum merata. Sekitar 79% anak usia 7–12 tahun masih bersekolah, sementara sekitar 21% lainnya belum atau tidak lagi berada di sekolah. Sekolah sudah ada, tetapi belum sepenuhnya terjangkau.

Dari Sekolah Dasar ke Sekolah Lanjutan: Jalan yang Menyempit

Memasuki pertengahan dekade, jumlah murid SD meningkat hingga sekitar 150 ribu anak. Ini menunjukkan bahwa pendidikan dasar mulai menjangkau lebih banyak desa. Sekolah dasar menjadi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

Namun ketika dilihat lebih jauh, perjalanan pendidikan tidak berlanjut dengan mulus.

Dari sekitar 150 ribu siswa SD, hanya sekitar 14 ribu yang melanjutkan ke SMP, dan sekitar 4 ribu yang mencapai SMA. Perbedaan ini menunjukkan adanya penyempitan yang cukup besar pada jenjang pendidikan menengah.

Bagi banyak anak, terutama di desa, melanjutkan sekolah bukan perkara sederhana. SMP dan SMA masih terbatas jumlahnya dan belum tersebar merata. Lokasinya sering berada di pusat kecamatan atau kota, sementara akses antar desa masih terbatas.

Menjelang akhir dekade, jumlah siswa SMP meningkat menjadi sekitar 22.691, dan SMA menjadi sekitar 6.000 siswa. Sekolah lanjutan mulai bertambah dan menyebar ke beberapa wilayah.

Namun jika dibandingkan dengan lebih dari 130 ribu siswa SD, jumlah tersebut masih menunjukkan bahwa pendidikan menengah belum sepenuhnya mudah diakses.

Dalam perkembangan ini, peran masyarakat juga mulai terlihat. Jumlah SMP swasta yang lebih banyak dibanding negeri menunjukkan adanya upaya untuk memperluas akses pendidikan di tengah keterbatasan yang ada.

(Infografis pendidikan bojonegoro 1980 an, by chatgpt)

Perubahan yang Terjadi Pelan-Pelan

Jika dibandingkan sepanjang dekade, terlihat perubahan yang bertahap:

  • Pendidikan dasar semakin menjangkau masyarakat
  • Pendidikan menengah mulai berkembang, meskipun masih terbatas
  • Lebih banyak anak dapat melanjutkan sekolah, meski belum merata

Perubahan ini tidak terjadi secara cepat, tetapi melalui proses yang perlahan.

Jarak yang Mulai Berkurang, Tapi Belum Hilang

Sepanjang 1980-an, kehidupan anak-anak Bojonegoro tidak banyak berubah secara drastis. Mereka tetap hidup dekat dengan sawah, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Namun di tengah itu, pendidikan perlahan menjadi bagian yang semakin penting.

Sekolah yang dulu terasa jauh mulai mendekat.
Kesempatan yang dulu terbatas mulai terbuka.

Meski demikian, pada akhir dekade 1980-an, pendidikan menengah masih belum sepenuhnya mudah dijangkau. Bagi banyak anak, perjalanan pendidikan tetap berhenti setelah sekolah dasar.

Perubahan memang terjadi, tetapi belum selesai.

Penulis : Syafik

Sumber data : Statistik Pemerintah Dati II Bojonegoro, Bojonegoro Dalam Angka 1985 dan 1989, BPS RI.

Disclaimer ” Penulisan artikel dan analisa dibantu oleh AI”