damarinfo.com – Pada 1980-an, sawah bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang bermain. Bagi anak-anak desa, pematang, gubuk, dan hamparan ladang adalah dunia yang paling mengasyikkan—terutama ketika sungai mulai mengering di musim kemarau. Namun di balik itu, ada satu kenyataan yang lebih besar:
kehidupan di Bojonegoro berjalan sepenuhnya mengikuti musim.
Sawah Luas, Air Tidak Merata
Pada awal dekade 1980-an, luas sawah di Bojonegoro mencapai sekitar 69.826 hektare. Namun tidak semua sawah itu memiliki akses air yang sama.
- Sawah beririgasi teknis: ±9.634 ha (13,8%)
- Setengah teknis: ±12.204 ha (17,5%)
- Tadah hujan: ±46.999 ha (67,3%)
Artinya, lebih dari dua pertiga sawah bergantung langsung pada hujan.
Padi Sekali, Selebihnya Bertahan
Dengan kondisi itu, pola tanam menjadi sederhana. Padi hanya ditanam sekali dalam setahun, mengikuti musim hujan. Data 1989 menunjukkan:
- Luas panen padi: 80.229 ha
- Produksi: ±4,95 juta kuintal
Ini angka besar, tetapi sekaligus menunjukkan keterbatasan: produksi terkonsentrasi pada satu musim. Di luar itu, petani harus beradaptasi.

Masa Laboh: Menjaga Lahan Tetap Hidup
Saat hujan mulai berhenti dan kemarau belum sepenuhnya datang—masa yang dikenal sebagai laboh—petani tidak membiarkan lahan kosong. Jagung menjadi tanaman utama dengan produksi mencapai ±436 ribu kuintal.
Kedelai, kacang tanah, hingga sayuran juga ditanam dalam skala lebih kecil. Bukan untuk keuntungan besar, tetapi untuk menjaga ritme hidup.
Di masa ini pula, anak-anak mulai kembali memenuhi sawah. Semangka, mentimun, dan tanaman lain menjadi bagian dari permainan—dan kadang juga sumber rasa lapar yang diatasi dengan cara sederhana.
Kemarau: Tembakau dan Harapan Uang
Ketika kemarau benar-benar datang, pola kembali berubah. Sebagian lahan ditinggalkan dari tanaman pangan, tetapi tidak sepenuhnya kosong. Tembakau mulai ditanam.
Pada 1980, luas tanam tembakau Virginia mencapai sekitar 16.842 hektare, dengan produksi lebih dari 67 ribu kuintal.
Ini bukan tanaman untuk makan.
Ini adalah taruhan.
Petani berharap pada musim kering yang “pas”—tidak terlalu basah, tidak terlalu ekstrem. Karena dari tembakau, mereka mendapatkan satu hal yang tidak diberikan padi: uang tunai.
Sawah, Anak-anak, dan Ketahanan Hidup
Di tengah sistem yang bergantung pada musim itu, kehidupan tetap berjalan. Anak-anak bermain di sawah yang mengering. Ketika haus, mereka memetik mentimun atau semangka. Ketika lapar, mereka mengambil singkong, lalu membakarnya di gubuk—rumpuk, begitu mereka menyebutnya.
Di pematang sawah, tumbuh pisang, cabai, dan lamtoro gung. Di pekarangan rumah, kelapa, jambu mete, dan berbagai tanaman lain tersedia. Pangan tidak selalu berlimpah, tetapi cukup dekat untuk dijangkau.
Alam sebagai Penentu
Data iklim memperjelas semuanya:
- Curah hujan tahunan: ±1.613 mm
- Musim hujan: Oktober–Mei
- Kemarau: Juni–September
Dengan pola ini, seluruh sistem pertanian mengikuti satu hal: air.
Ketika Jarak Menentukan Akses
Di sisi lain, keterbatasan tidak hanya pada air, tetapi juga akses. Pada 1989, panjang jalan kabupaten mencapai sekitar 586,26 km. Namun:
- Jalan kondisi baik: 321,7 km (54,9%)
- Kondisi sedang: 197,07 km (33,6%)
- Rusak: 67,49 km (11,5%)
Artinya, tidak semua wilayah terhubung dengan baik. Distribusi hasil pertanian pun tidak selalu mudah.
Bertahan di Antara Musim
Bojonegoro 1980-an bukan hanya tentang pertanian. Ia adalah tentang bagaimana sebuah masyarakat bertahan dalam keterbatasan.
Lebih dari 67% sawah bergantung pada hujan. Padi hanya bisa ditanam sekali. Sisanya diisi oleh palawija dan tembakau—antara kebutuhan pangan dan kebutuhan uang.
Di tengah itu, kehidupan tetap berjalan.
Sawah menjadi tempat bekerja, tempat bermain, sekaligus tempat bertahan hidup.
Musim bukan sekadar perubahan cuaca, tetapi penentu arah kehidupan.
Dan di situlah Bojonegoro berdiri—
di antara harapan hujan, panjangnya kemarau, dan tanah yang terus diolah, tahun demi tahun.
Penulis : Syafik
Disclaimer ” Penulisan artikel dan analisa dibantu oleh AI”






