Bojonegoro,damarinfo.com — Penurunan Indeks Kualitas Udara (IKU) Kabupaten Bojonegoro pada 2025 tidak seharusnya dipahami hanya sebagai perubahan angka statistik. Pakar lingkungan dari Universitas Bojonegoro (Unigoro), Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc, menilai kondisi tersebut merupakan sinyal ekologis yang perlu disikapi secara serius.
Menurut Laily, penurunan IKU dari 89,05 pada 2024 menjadi 67,79 pada 2025 menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam pengelolaan lingkungan, meskipun Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) justru meningkat menjadi 70,91.
“Penurunan IKU seharusnya tidak dibaca sekadar angka statistik, tetapi sebagai sinyal ekologis. Kenaikan IKLH tidak otomatis mencerminkan perbaikan yang utuh, karena kualitas udara justru memburuk,” ujarnya Senin 4-5-2026.
Ketimpangan Arah Pengelolaan Lingkungan
Ia menilai perbaikan pada aspek air dan lahan memang patut diapresiasi. Namun demikian, kondisi udara yang menurun mengindikasikan adanya persoalan mendasar yang belum tertangani secara tepat.
Dengan kata lain, arah kebijakan lingkungan dinilai belum seimbang antar sektor.
“Perbaikan air dan lahan penting, tetapi jika udara memburuk, berarti ada aspek yang belum tersentuh secara tepat,” kata Laily.
Perubahan Vegetasi Kota Jadi Sorotan
Selain itu, Laily menyoroti perubahan vegetasi di kawasan perkotaan Bojonegoro dalam beberapa tahun terakhir. Ia melihat adanya kecenderungan mengganti pohon peneduh berukuran besar dengan tanaman ornamental.
“Penggantian pohon besar dengan tanaman ornamental seperti tabebuya memang mempercantik kota, tetapi kapasitas ekologisnya berbeda,” ujarnya.
Menurutnya, pohon berukuran besar dengan tajuk lebar memiliki fungsi penting sebagai penyaring polutan, penyerap karbon, serta penurun suhu mikro.
Sebaliknya, vegetasi dengan kapasitas ekologis lebih rendah tidak mampu memberikan fungsi tersebut secara optimal. Akibatnya, kemampuan kota dalam menjaga kualitas udaranya ikut melemah.
Tutupan Pohon Menurun, Emisi Meningkat
Lebih lanjut, ia mengaitkan kondisi tersebut dengan data perubahan tutupan vegetasi dalam skala yang lebih luas. Data Global Forest Watch menunjukkan bahwa dalam periode 2001 hingga 2025, Bojonegoro kehilangan sekitar 5,6 ribu hektare tutupan pohon, atau setara 14 persen dari total yang ada. Kehilangan ini berkontribusi terhadap emisi sekitar 3 juta ton CO₂ ekuivalen.
Selain itu, laju kehilangan tutupan pohon meningkat tajam pada 2023-2025, bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun 2021-2022.
Vegetasi Berkualitas Tinggi Menurun
Temuan tersebut diperkuat oleh analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang menunjukkan tren penurunan kualitas vegetasi.
Dalam analisis tersebut, luas lahan gundul meningkat, sementara area dengan tutupan vegetasi rendah semakin meluas. Di sisi lain, vegetasi dengan kualitas tinggi justru mengalami penurunan signifikan.
Dengan demikian, penurunan kualitas udara tidak dapat dilepaskan dari perubahan kondisi vegetasi dan lanskap secara keseluruhan.
Perlu Pendekatan Lebih Menyeluruh
Laily menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan perlu dilakukan secara lebih menyeluruh dan tidak parsial.
“Kalau hanya fokus pada satu atau dua indikator, hasilnya tidak akan seimbang. Lingkungan itu sistem, bukan potongan-potongan,” ujarnya.
Ia menilai, tanpa perhatian khusus pada kualitas udara dan vegetasi, capaian IKLH yang meningkat berpotensi tidak mencerminkan kondisi lingkungan yang sebenarnya.
Seperti dalam berita sebelumnya dari data Open Data Jawa Timur menunjukkan penurunan IKU juga terjadi di daerah lain. Namun demikian, besarnya tidak sama.
Perbandingan IKU 2024–2025
| Kabupaten | 2024 | 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Bojonegoro | 89,05 | 67,79 | -21,26 |
| Tuban | 89,89 | 78,01 | -11,88 |
| Lamongan | 81,41 | 79,57 | -1,84 |
| Ngawi | 81,71 | 73,88 | -7,83 |
| Nganjuk | 88,18 | 71,88 | -16,30 |
Dari data tersebut, Bojonegoro mencatat penurunan paling dalam. Sebaliknya, Lamongan relatif stabil. Dengan demikian, penurunan tidak terjadi secara merata di semua daerah.
Penulis : Syafik






