Bojonegoro,damarinfo.com- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro menjelaskan penurunan Indeks Kualitas Udara (IKU) pada 2025 yang turun signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pada 2025, IKU Bojonegoro tercatat 67,79, sedangkan pada 2024 mencapai 89,05.
Dengan demikian, dalam satu tahun, kualitas udara turun tajam. Selain itu, penurunan ini menjadi salah satu yang paling besar di kawasan Bojonegoro dan sekitarnya.
DLH: Dipengaruhi Perubahan Metodologi
Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Bojonegoro, Tuti Prangmiatun, menyebut perubahan metode perhitungan menjadi faktor utama.
“Penurunan IKU dipengaruhi perubahan metode perhitungan, termasuk penambahan parameter PM2.5, sehingga hasilnya tidak sepenuhnya dapat dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ujarnya Senin 4-5-2026.
Dengan kata lain, pemerintah pusat menambahkan parameter baru dalam penghitungan kualitas udara. Selain itu, penyesuaian rumus juga membuat hasil indeks menjadi lebih sensitif terhadap kondisi lapangan.
Dibanding Tetangga, Penurunan Paling Dalam
Sementara itu, data Open Data Jawa Timur menunjukkan penurunan IKU juga terjadi di daerah lain. Namun demikian, besarnya tidak sama.
Perbandingan IKU 2024–2025
| Kabupaten | 2024 | 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Bojonegoro | 89,05 | 67,79 | -21,26 |
| Tuban | 89,89 | 78,01 | -11,88 |
| Lamongan | 81,41 | 79,57 | -1,84 |
| Ngawi | 81,71 | 73,88 | -7,83 |
| Nganjuk | 88,18 | 71,88 | -16,30 |
Dari data tersebut, Bojonegoro mencatat penurunan paling dalam. Sebaliknya, Lamongan relatif stabil. Dengan demikian, penurunan tidak terjadi secara merata di semua daerah.
Musim Kemarau Turut Berpengaruh
Selain faktor metodologi, DLH juga mencatat pengaruh kondisi cuaca.
“Musim kemarau 2025 turut meningkatkan konsentrasi partikulat PM2.5 di udara,” kata Tuti.
Partikulat merupakan debu berukuran sangat kecil. Oleh karena itu, peningkatan konsentrasi PM2.5 langsung mempengaruhi nilai indeks kualitas udara.
Belum Ada Kajian Spesifik
Namun demikian, DLH belum melakukan kajian khusus terkait sumber penyebab yang lebih rinci.
“Banyak faktor yang mempengaruhi IKU, tapi belum ada kajian khusus terkait pengaruh industri,” ujarnya.
Dengan kata lain, hingga saat ini belum ada penelitian yang secara spesifik mengukur kontribusi sektor tertentu terhadap penurunan IKU.
Data Perlu Dibaca dengan Konteks
Karena terjadi perubahan metode, maka perlu melihat data IKU 2025 dengan konteks yang tepat. Meskipun demikian, penurunan yang lebih dalam dibanding daerah lain tetap menjadi perhatian.
Ke depan, pemerintah daerah perlu mencermati faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas udara agar perbaikan lingkungan dapat berlangsung lebih seimbang.
Penulis : Syafik
Sumber data: https://opendata.jatimprov.go.id/






