damarinfo.com- 2-Mei- 2026 diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Pada momen ini, wajah Ki Hajar Dewantara kembali menghiasi baliho kota serta unggahan media sosial. Meskipun senyumnya tampak teduh, namun ada kesan satir yang tertangkap di sana.
Sejauh ini, kita memang rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional setiap tahun. Namun, terasa ada sesuatu yang janggal dalam perayaan tersebut. Tampaknya kita sedang merayakan hari lahir seseorang, tetapi justru membuang semua wasiat serta impian yang pernah ia tuliskan.
Manifesto Radikal dari Masa Lalu
Untuk memahami hal itu, mari kita memutar waktu kembali ke April 1923. Sebuah laporan dalam Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers memotret momen krusial saat Taman Siswa mulai tumbuh. Melalui catatan kolonial tersebut, terlihat bahwa Soewardi Soerjaningrat tidak sedang membangun gedung sekolah yang megah. Alih-alih mengejar fisik, ia justru menyusun sebuah manifesto radikal tentang kemerdekaan jiwa melalui gagasan Sistem Among.
Kala itu, pihak penguasa memang menggunakan pendidikan sebagai alat penundukan. Sekolah-sekolah kolonial sengaja menerapkan disiplin kaku demi mencetak hamba birokrasi yang patuh. Namun, Ki Hajar memilih untuk melawan arus besar tersebut secara berani.
Dokumen 1923 mencatat bahwa Taman Siswa memandang pendidikan sebagai proses evolusi yang alami. Oleh karena itu, Ki Hajar melarang paksaan maupun hukuman yang dapat mengerdilkan nyali siswa. Baginya, setiap anak berhak mengatur jalannya sendiri agar tumbuh menjadi manusia yang mampu berpikir, merasa, serta bertindak secara mandiri.

Jerat Bantuan dan Kemerdekaan Rakyat
Selain masalah kebebasan, catatan lawas itu juga mengungkap satu prinsip kemandirian yang kini mulai terlupakan. Ki Hajar sangat mewanti-wanti agar pendidikan tidak menjadi benalu bagi pihak lain. Ia memandang bantuan yang mengikat sebagai jerat yang dapat mencekik leher kebebasan bangsa.
Sebagai solusinya, ia menegaskan bahwa kekuatan rakyat sendiri yang harus membiayai pendidikan nasional. Sebab, hanya dengan berdiri di atas kaki sendiri, pengajaran bisa tetap tulus dan tidak terbeli oleh kepentingan penguasa mana pun.
Sayangnya, realitas hari ini justru menunjukkan potret yang berbeda jauh. Di tahun 2026, Sistem Among yang legendaris itu seolah menguap begitu saja dari ruang kelas kita. Walaupun kita masih menyebut nama “Among” dalam buku teks, namun ruh perjuangannya telah lama mati.
Jargon Tut Wuri Handayani pun hanya menempel bisu pada logo topi dan seragam tanpa makna. Akibatnya, praktik pendidikan kita seringkali berjalan berlawanan arah dari filosofi aslinya.
Labirin Administrasi yang Menghapus Jiwa
Kini, pendidikan kita telah berubah menjadi labirin administrasi yang terasa dingin. Para guru memikul beban berat sebagai operator aplikasi yang melelahkan. Mereka menghabiskan waktu untuk mengisi laporan hingga lupa pada peran sejatinya sebagai pengasuh kodrat anak.
Sementara itu, murid-murid terjebak dalam mesin kompetisi yang haus akan peringkat. Pada akhirnya, kita mengukur kemajuan hanya melalui angka-angka standar yang seragam. Padahal, kita telah kehilangan hati yang suci dan wajah yang jernih dalam mendidik generasi muda.
Sungguh ini adalah sebuah ironi yang getir bagi bangsa kita. Di satu sisi, kita bangga memajang wajah Ki Hajar Dewantara sebagai simbol tahunan. Namun, pada saat yang sama, kita justru mengelola pendidikan dengan cara-cara yang dahulu ia lawan habis-habisan. Misalnya saja, kita sangat bergantung pada standar global yang mengikat kedaulatan. Kita juga lebih memuja urusan administrasi di atas nilai kemanusiaan, serta memaksakan ketertiban yang lahir dari rasa takut.
Menagih Janji Pendidikan yang Memerdekakan
Oleh karena itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momen penting untuk bercermin. Jika Sistem Among tetap hilang dari praktik nyata, maka kita sebenarnya sedang melakukan pengkhianatan budaya yang besar. Kita hanya sibuk merayakan sosoknya, tetapi di saat yang sama kita memenjarakan semua ajaran utamanya.
Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan Ki Hajar hanya sebagai hiasan seremonial belaka. Sebab, pendidikan sejati sama sekali tidak membutuhkan baliho megah atau slogan semu. Sebaliknya, ia membutuhkan keberanian kita untuk kembali ke jalan sunyi tahun 1923 yang penuh integritas.
Mari kita mulai mendekati generasi muda dengan perasaan merdeka dan kasih sayang yang tulus. Sudah saatnya kita benar-benar memanusiakan manusia, bukan sekadar mengganti warna belenggu yang mengikat mereka.
Penulis : Syafik
Sumber artikel : delpher.nl
Disclaimer : Penerjemahan dan penulisan artikel dibantu AI






