Bojonegoro Tahun1980: Lebih dari 8.000 Pohon Kelapa, Kini Nyaris Tak Tersisa

oleh 12 Dilihat
oleh
(Ilustrasi pohon kelapa by chatgpt)

damarinfo.com- Bayangkan Bojonegoro pada tahun 1980, ketika pohon kelapa bukan sekadar tanaman, melainkan bagian dari lanskap sehari-hari. Ia tumbuh di pekarangan rumah, di tepi sawah, dan di sudut-sudut desa—diam, tapi memberi.

Sebuah dokumen statistik lama mencatat, pada masa itu setidaknya terdapat 8.102 pohon kelapa yang tersebar di berbagai kecamatan. Dari jumlah itu, produksi yang dihasilkan mencapai lebih dari 5.200 ton dalam setahun. Angka yang menunjukkan bahwa kelapa pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bojonegoro.

Tumbuh di Hampir Semua Kecamatan

Sebaran pohon kelapa pada 1980 tidak terkonsentrasi di satu wilayah. Ia tumbuh hampir di seluruh kecamatan.

Beberapa wilayah bahkan mencatat jumlah yang cukup besar. Tambakrejo misalnya, memiliki lebih dari 1.300 pohon. Disusul Sumberrejo dengan sekitar 847 pohon, serta Ngraho dan Sugihwaras yang masing-masing memiliki ratusan pohon kelapa.

Sebaran ini menunjukkan bahwa kelapa bukan komoditas eksklusif, melainkan tanaman yang menyatu dengan kehidupan desa. Ia hadir dekat dengan rumah warga, menjadi bagian dari ruang hidup yang sehari-hari.

(Infografis 10 Kecamatan di Bojonegoro dengan produksi kelapa terbesar tahun 1980. by chatgpt)

Produksi Sederhana, Tapi Konsisten

Produktivitas kelapa pada masa itu tergolong sederhana. Rata-rata setiap pohon menghasilkan sekitar 3 hingga 4 butir per bulan.

Angka ini mungkin tidak besar jika dilihat dari standar pertanian modern. Namun dalam konteks saat itu, produksi tersebut cukup stabil dan menjadi sumber tambahan bagi kebutuhan rumah tangga.

Kelapa tidak selalu menjadi komoditas utama seperti padi, tetapi ia melengkapi. Dari buahnya, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan dapur, bahkan sebagian dijual untuk menambah penghasilan.

Ada Regenerasi, Ada Harapan

Menariknya, data juga menunjukkan adanya regenerasi tanaman. Tercatat sekitar 4.186 pohon belum menghasilkan, sementara 3.786 pohon sudah produktif.

Ini menandakan bahwa pada masa itu, kelapa masih ditanam dan dirawat. Ada kesinambungan, ada harapan bahwa tanaman ini akan terus hidup di tahun-tahun berikutnya.

Namun waktu berjalan.

Jejak ribuan pohon kelapa yang dulu tersebar di berbagai kecamatan kini perlahan memudar. Tanaman yang pernah menjadi bagian dari lanskap desa, kini semakin jarang terlihat.

Data tahun 1980 ini menjadi pengingat sederhana: bahwa pernah ada masa ketika kelapa tumbuh bersama kehidupan masyarakat Bojonegoro—hadir, memberi, dan menjadi bagian dari keseharian yang kini tak lagi mudah ditemukan.

Penulis : Syafik

Sumber : Statistik Kabupaten Daerah Tingkat II Bojonegoro 1979 – 1980, Arsip BPS RI