damarinfo.com – Di atas peta, Bojonegoro tampak luas dan terbentang. Pada akhir 1980-an, wilayahnya mencapai lebih dari 2.200 kilometer persegi, dengan 430 desa yang tersebar di 21 kecamatan. Namun ketika kita menimpa peta itu dengan jaringan jalan kabupaten, gambarnya berubah. Garis penghubung terlihat tipis, berjeda, dan tidak merata.
Jalan kabupaten pada masa itu berfungsi jelas: menghubungkan kecamatan dengan kecamatan. Ia menjadi tulang punggung, bukan jalur yang masuk hingga ke desa. Ketika panjangnya pada 1990 baru sekitar 486 kilometer, yang terbentuk sebenarnya baru kerangka dasar konektivitas.
Jika kita bandingkan dengan luas wilayah, kepadatannya hanya sekitar 0,21 km per km². Artinya, dalam satu kilometer persegi, rata-rata hanya tersedia sekitar 200 meter jalan kabupaten. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah belum terjangkau langsung oleh jalan utama.
Ekspansi Cepat, Perbaikan Bertahap
Pada 1979, panjang jalan kabupaten masih sekitar 278 kilometer. Awal 1980-an menjadi titik perubahan. Dalam waktu singkat, panjang jalan meningkat hampir dua kali lipat hingga sekitar 467 kilometer. Pemerintah memperluas jaringan untuk menghubungkan wilayah-wilayah utama.
Setelah fase ekspansi ini, pertumbuhan panjang jalan melambat. Hingga pertengahan dekade, penambahan tidak terlalu signifikan. Fokus mulai bergeser ke kualitas.
Aspal menggantikan permukaan lama. Panjang jalan beraspal meningkat dari sekitar 144 kilometer pada 1979 menjadi lebih dari 390 kilometer pada 1990. Jalan tanah hampir tidak lagi tercatat, dan jalan kerikil mulai berkurang.
Kondisi jalan juga membaik. Panjang jalan dalam kondisi baik meningkat hingga lebih dari 300 kilometer di akhir dekade. Namun peningkatan kualitas ini tidak langsung mengubah pengalaman akses di semua wilayah.
Jalan Ada, Tapi Tidak Selalu Dekat
Masalah utamanya bukan hanya pada kualitas jalan, tetapi pada letaknya. Jalan kabupaten memang hadir, tetapi tidak selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Di banyak desa, aktivitas tetap bergantung pada jalan-jalan lokal. Jalan kabupaten hanya menjadi tujuan akhir—bukan titik awal.
Pada awal 1980-an, di Desa Sugihwaras, jalan kabupaten sudah melintas, namun kondisinya masih berupa makadam—susunan batu yang ditutup tanah. Setiap pagi, anak-anak berangkat sekolah dengan berjalan di atasnya, memilih pijakan di antara batu-batu yang menonjol. Banyak yang belum memakai sepatu, atau sengaja menentengnya agar tidak cepat rusak.
Saat musim hujan, sebagian ruas berubah menjadi becek. Anak-anak harus menyesuaikan langkah, mencari bagian jalan yang masih bisa dilalui. Lalu lintas belum ramai. Kendaraan bermotor masih jarang, dan sepeda angin menjadi pemandangan yang lebih umum. Jalan itu sederhana, belum sepenuhnya nyaman, tetapi sudah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Sebaran Desa, Tantangan yang Berbeda
Struktur wilayah memperkuat perbedaan akses antar kecamatan. Di wilayah barat seperti Ngambon, Tambakrejo, dan Ngraho, desa tersebar dalam wilayah yang luas. Jarak antar desa relatif jauh, sementara jalan kabupaten tetap terbatas. Akses terasa lebih panjang dan tidak langsung.
Di wilayah tengah seperti Kapas dan Sumberrejo, jumlah desa lebih banyak dan lebih rapat. Namun satu ruas jalan kabupaten harus melayani lebih banyak desa sekaligus. Tekanan pada jalur yang ada menjadi lebih besar.
Di wilayah kota seperti Bojonegoro, Balen, dan Kanor, desa lebih padat dalam wilayah yang lebih sempit. Jalan terasa lebih dekat, bukan karena jumlahnya lebih banyak, tetapi karena jarak antar titik lebih pendek.
Kerangka yang Belum Menjangkau Semua
Jalan kabupaten membentuk kerangka dasar konektivitas. Ia menghubungkan kecamatan dan membuka jalur antar wilayah. Namun di antara jalur itu, masih terdapat ruang yang luas—desa, sawah, dan permukiman—yang belum tersambung langsung.
Sepanjang 1980-an, pembangunan jalan menunjukkan dua arah: memperluas jaringan di awal dekade, lalu meningkatkan kualitas di akhir dekade. Perubahan ini nyata, tetapi belum sepenuhnya merata.
Jalan memang sudah ada.
Namun bagi banyak warga, jalan itu tetap harus dicapai terlebih dahulu.
Penulis : Syafik
Sumber data : Bojonegoro dalam Angka 1980,1985 dan 1990, arsip BPS RI
Disclaimer : Penulisa dan analisa data dibantu oleh AI






