Bojonegoro,damarinfo.com – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menaruh perhatian serius pada keakuratan data penerima bantuan sosial (bansos). Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan pentingnya data yang valid agar penyaluran bantuan tepat sasaran.
Penegasan ini disampaikan dalam Bimtek Peningkatan Aparatur Pemerintah Desa, Pendamping Desa, dan Penggiat Desa 2026 di Ruang Angling Dharma, Rabu 22-4-2026. Kegiatan yang diikuti lebih dari seribu peserta ini berlangsung selama tiga hari hingga Jumat 24-4-2026.
Data Desa Jadi Kunci Ketepatan Bansos
Setyo Wahono menegaskan bahwa data kemiskinan bersumber dari tingkat desa. Karena itu, aparatur desa harus menyajikan data yang objektif dan sesuai kondisi riil di lapangan.
“Data harus berdasarkan fakta, bukan like and dislike atau hubungan kekerabatan. Ini tanggung jawab besar,” tegasnya.
Selain itu, ia menekankan tiga kunci utama penyaluran bansos, yaitu tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat manfaat.
Melalui bimtek ini, Pemkab mendorong aparatur desa lebih profesional dan teliti dalam verifikasi data untuk meminimalkan kesalahan.
Pembangunan Harus Seimbang dengan Lingkungan
Di sisi lain, Bupati juga mengingatkan agar pembangunan fisik tidak mengabaikan aspek lingkungan. Menurutnya, pembangunan harus tetap berjalan, namun kelestarian alam wajib dijaga.
“Jangan menebang pohon sembarangan dan kelola sampah dengan baik. Kita harus menjaga lingkungan untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Wabup Soroti Tantangan Global dan Target Daerah
Sementara itu, Wakil Bupati Nurul Azizah memaparkan tantangan global seperti perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga ketahanan energi.
Selain itu, ia menekankan sejumlah target daerah tahun 2026, mulai dari akses listrik, wajib belajar, penurunan TBC, hingga pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS). Ia juga mengingatkan potensi kemarau ekstrem pada Agustus–September.
“Persiapan harus dimulai sejak sekarang, terutama pengaturan pola tanam,” jelasnya.
Perkuat SDM dan Pemutakhiran Data
Kepala DPMD Bojonegoro Djoko Lukito menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti 1.051 peserta, yang merupakan alumni program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Desa.
Menurutnya, para peserta menjadi aset penting dalam mendukung program pengentasan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan.
Selain itu, Asisten Daerah Kusnandaka Tjatur menegaskan bahwa data akan terus dimutakhirkan minimal setiap enam bulan.
“Jika data kemiskinan menurun, berarti intervensi program kita berhasil,” pungkasnya.
Editor : Syafik
Sumber : bojonegorokab.go.id






