Warga Desa Titik, Merantau ke Kota Palu Adalah Harapan

oleh
sudut desa Titik yang lengang karena 50 persen lebih warganya merantau ke Palu.Foto/ Totok Martono.

Lamongan-Bekerja di perantauan menjadi pilihan hidup bagi sebagian besar warga Desa Titik, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan. Lebih dari 60 persen warga desa ini ‘hijrah’meninggalkan kampung halaman.

Tujuannya yaitu Kota Palu, Sulawesi Tengah. Alasannya, karena dibanding kota-kota lain di luar Pulau Jawa dianggap lebih mudah mencari penghidupan.
“Dipilihnya Kota Palu karena lebih mudah mencari tempat kontrakan untuk membuka warung makan. selain juga masih minim saingan usaha,” kata Sekretaris Desa Titik Budi Winarko kepada damarinfo.com, Rabu 22-1-2020.

Menetap di Kota Palu menjadi pilihan setelah sebelumnya, warga Titik merantau keliling nusantara. Tahun 1995 satu dua warga Titik nekat merantau keluar jawa. Beberapa kota besar dijelajahi untuk membuka usaha. Namun pada akhirnya kota Palu menjadi pilihan karena bisa hidup mapan. Di tahun 2000 warga Titik mulai beramai-ramai eksedus pindah merintis usaha dikota Palu.

Budi-sapaan akrab Budi Winarko- tidak bisa menyebutkan berapa jumlah pasti warga yang merantau dan membuka usaha di kota itu. Namun jumlahnya ratusan orang. Sebagian besar sudah tinggal menetap bersama keluarga. setiap tahun warga dipastikan selalu ada belasan warga yang berangkat ke Palu menyusul kerabat untuk bekerja. Saat ini jumlah warga Titik yang menetap didesa 1120 jiwa dan 300 Kepala Keluarga. Sebagian besar berdomisili di Palu.

Dipaparkannya, banyaknya warga bekerja di Palu karena kekeraban dalam kultur sosial warga Desa Titik. Biasanya, mereka yang sukses membuka usaha depot dan rumah makan. Lalu mengajak keluarga yang masih mengganggur atau baru lulus sekolah. Mereka disuruh bantu-bantu di warung. Diajari cara memasak dan sebagainya. Maksimal dua tiga tahun setelah ikut bantu-bantu, sudah bisa mandiri dengan membuka usaha warung makan,” ungkap sekdes yang orang tua dan saudara-saudaranya juga merantau di Palu. Lebih dari 30 persen warga Titik sudah menetap dan berdomisili di kota pinggir pantai itu bersama keluarganya.

Baca Juga :   Februari DPRD 19 Kali Kunker, Warga Tunggu Hasilnya

Biasanya pulang kampung saat lebaran Idul Fitri atau jika ada kerabat punya hajat. Di Palu warga perantauan asal Desa Titik membentuk Paguyupan “Kerukunan Sari Laut Palu’.

Dari hasil bekerja di perantauan, umumnya diinvestasikan dengan membangun rumah didesa, membeli tanah dan sawah. Untuk sawah selain didesa-desa sekitar, banyak lahan sawah di desa-desa Kecamatan Sekaran dan Babat dibeli warga Titik. Tidak heran jika saat memasuki desa Titik banyak dijumpai rumah megah dan dibangun dua lantai namun tidak ada yang menghuni. Rumah-rumah itu ‘tabungan’ warga perantauan.

Sekdes Desa Titik, Kecamatan Sekaran, Lamongan, Budi Winarko.Foto/Totok Martono

Mayoritas yang tinggal menetap di Desa Titik adalah kaum sepuh berusia 60 tahun ke atas. Mereka generasi tua yang sudah mapan membangun usaha di Palu. Usaha warung makan di Palu diteruskan oleh anak atau keluarganya. “Kehidupan mereka terjamin karena setiap bulannya rutin mendapat kiriman dari anak-anaknya yang meneruskan usahanya di Palu,” ujar Budi yang menjabat sekdes pada 27 Desember 2017 ini. Bahkan, mayoritas warga Titik generasi tua sudah mendaftarkan haji tinggal menunggu pemberangkatan.

Baca Juga :   Hasil SWAB Negatif, Seorang Warga Kanor Selesai Diawasi

Kades Titik Reso Wiyoso mengaku cukup mudah menata ekonomi di Kota Palu. Sebelum pulang kampung untuk turut dalam pencalonan kades, Reso belasan tahun bekerja di Palu dan sukses membangun dua rumah makan. “Usaha di Palu di pegang keluarga. Saya ingin menikmati hidup dengan mengabdi di desa sebagai kepala desa,” papar Kades yang dilantik 7 November 2019 ini.

Uniknya, sebelumnya Reso adalah Kepala Dusun Titik. Namun karena sulitnya penghidupan didesa, dirinya memutuskan berhenti menjadi perangkat desa dan nekad merantau ke Palu. Tahun 2004 dirinya merantau dengan membuka warung tenda pecel lele. Hanya dalam waktu empat tahunan dia bisa membuka warung makan mas Ali Lamongan yang menjual kuliner Lele, penyetan, dan nasi goring dengan empat orang karyawan.

Saat bencana gempa bumi dan tsunami melanda kota Palu tahun 2018 terdapat 500 warga Titik yang menjadi korban. Mereka beramai-ramai pulang kampung. Namun saat kondisi Palu kembali aman, mereka pun beramai-ramai kembali ke Palu membuka usaha lagi dari nol. “Saat ini kondisi desa kembali sepi karena sudah balik ke Palu. Bagi warga Titik Kota Palu merupakan kota harapan untuk hidup lebih mapan,” tandas Reso.

Penulis :Totok Martono
Editor : Sujatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *