Umar bin Khattab: Dari Pedang Terhunus ke Keadilan yang Meneduhkan

oleh 2 Dilihat
oleh
(Ilustrasi Umar Bin Khotob, by chatgpt)

damarinfo.com – Pada suatu malam, Madinah terlelap. Namun seorang lelaki tinggi besar berjalan menyusuri gang-gang kota dengan langkah pelan. Ia tidak membawa pengawal. Tidak pula mengenakan pakaian istimewa. Di tangannya hanya ada tongkat dan rasa tanggung jawab yang berat.

Lelaki itu adalah Umar bin Khattab.

Ia keluar bukan untuk menunjukkan kekuasaan, melainkan untuk memastikan tidak ada rakyat yang tertinggal dalam gelap. Umar tidak percaya laporan di siang hari saja. Ia ingin melihat dengan matanya sendiri.

Dari Penentang Menjadi Penjaga Kebenaran

Nama Umar bin Khattab dulu membuat kaum Muslimin gentar. Ia dikenal keras, tegas, dan tak ragu menggunakan kekuatan. Bahkan, suatu hari ia keluar rumah dengan pedang terhunus, berniat menghentikan dakwah Nabi Muhammad.

Namun di tengah langkah itu, Allah membalikkan hatinya.

Saat Umar mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dari Surah Thaha, suaranya yang keras runtuh. Hatinya yang kaku luluh. Sejak hari itu, Umar tidak hanya masuk Islam—ia menjadi salah satu penjaga terkuatnya.

Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah mencatat bahwa masuk Islamnya Umar menjadi titik balik. Kaum Muslimin yang sebelumnya bersembunyi, mulai berani shalat di sekitar Ka’bah. Islam tidak lagi hanya bertahan. Ia mulai berdiri tegak.

Takut yang Melahirkan Keadilan

Ketegasan Umar bukan bersumber dari amarah. Ia lahir dari rasa takut kepada Allah.

Umar pernah berkata:

لَوْ عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي الْعِرَاقِ لَخَشِيتُ أَنْ يَسْأَلَنِيَ اللَّهُ عَنْهَا

“Seandainya seekor keledai terjatuh di Irak, aku khawatir Allah akan menanyakannya kepadaku.”

Ungkapan ini bukan retorika. Ia mencerminkan cara Umar memandang kekuasaan: setiap keputusan adalah amanah, setiap kelalaian adalah pertanggungjawaban.

Tidur di Bawah Pohon, Menggetarkan Dunia

Suatu hari, seorang utusan asing datang ke Madinah. Ia mencari istana khalifah. Namun yang ia temukan justru Umar bin Khattab tertidur di bawah pohon, tanpa penjagaan.

Utusan itu terdiam, lalu berkata, “Engkau berlaku adil, maka engkau merasa aman, lalu engkau tidur dengan tenang.”

Kisah ini sering dikutip dalam literatur sejarah Islam sebagai simbol keadilan Umar—keadilan yang membuat pemimpin tidak takut, dan rakyat tidak gelisah.

Tegas pada Diri Sendiri, Keras pada Ketidakadilan

Umar dikenal tidak segan menegur pejabatnya sendiri. Putra gubernur Mesir pernah memukul rakyat biasa. Umar memerintahkan agar rakyat itu membalas pukulan di hadapan umum, lalu berkata kepada gubernur tersebut:

“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan merdeka?”

Ketegasan Umar tidak pilih-pilih. Ia berlaku sama pada rakyat kecil maupun keluarganya sendiri. Ketika paceklik melanda Madinah, Umar menolak makan enak sebelum rakyatnya kembali kenyang. Tubuhnya kurus. Wajahnya pucat. Namun hatinya tenang.

Ketegasan yang Dirindukan

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa setan akan memilih jalan lain jika bertemu Umar. Bukan karena Umar kejam, melainkan karena keteguhannya pada kebenaran membuat kebatilan kehilangan ruang.

“Sesungguhnya setan lari dari jalan yang dilewati Umar.”
(HR. Bukhari no. 3683; Muslim no. 2396)

Hadis ini sering dipahami para ulama sebagai pujian atas kekuatan iman dan ketegasan prinsip Umar bin Khattab.

Ramadhan dan Ketegasan Nurani

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar. Ia juga tentang melatih keberanian moral—berani adil, berani jujur, berani menegakkan kebenaran meski berat.

Umar bin Khattab mengajarkan bahwa ketegasan sejati tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari rasa takut kepada Allah. Ketika rasa takut itu hidup, keadilan akan menemukan jalannya.

Di zaman ketika ketegasan sering disalahartikan sebagai kekerasan, dan kelembutan dianggap kelemahan, teladan Umar berdiri sebagai penyeimbang: tegas tanpa zalim, kuat tanpa menindas.

Ramadhan hari ketiga ini, kisah Umar seolah mengingatkan kita—iman yang benar akan selalu melahirkan keberanian untuk berlaku adil.

Penulis : Syafik