Tinggi, Jumlah Ibu Hamil di Masa Pandemi Covid-19 di Blora

oleh
Kegiatan ngobrol bareng Bupati Blora Djoko Nugroho dengan tema angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), Senin 10-8-2020.Foto/Ais

Blora- Jumlah ibu hamil di Blora di semester pertama 2020 atau saat masa pandemi Covid-19 cukup banyak, yakni sebanyak 6.283 orang. Dari jumlah itu, kehamilan dialami ibu-ibu yang usianya kurang dari 20 tahun sebanyak 229 orang. Sedangkan ibu hamil yang usianya di atas 35 tahun sebanyak 352 orang.

Data tersebut dikemukakan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora Lilik Hernanto saat acara “Ngobrol Bareng Bupati”, Senin 10-8-2020. Ngobrol Bareng Bupati yang digelar di ruang pertemuan kantor bupati Blora itu bertemakan permasalahan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Blora. ‘’Ibu hamil usia terlalu muda ini (di bawah 20 tahun, red) belum siap, mungkin karena pernikahan dini. Kemudian yang terlalu tua juga berisiko. Apalagi yang hamil anak keempat masih ada juga, sebanyak 43 orang. Ini artinya program keluarga berencana (KB) juga masih belum merata,’’ ujar Lilik Hernanto.

Ngobrol Bareng Bupati menghadirkan nara sumber Bupati Djoko Nugroho, Plt Kepala Dinkes Lilik Hernanto dan Direktur RSUD Blora, dr. Nugroho Adiwarso. Kegiatan yang baru kali pertama digelar itu mengundang Komisi D DPRD Blora, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), ketua Tim Penggerak PKK, camat, para direktur rumah sakit, kepala Puskesmas, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Blora dan BPJS serta sejumlah dokter spesialis.

Menurut Lilik Hernanto, jumlah AKI di Blora pada 2018 mencapai 13 kasus, 2019 ada 11 kasus, dan semester pertama 2020 sebanyak lima kasus. Menurutnya, berdasarkan data 2019, Kabupaten Blora berada di peringkat 17 dari 35 Kabupaten/Kota se Jawa Tengah. Sedangkan AKB usia 0-11 bulan di Blora pada 2018 mencapai 148 kasus, 2019 ada 129 kasus dan semester pertama 2020 sebanyak 48 kasus. AKB di Blora menempati peringkat 18 se Jawa Tengah. ‘’Secara umum Blora mengalami tren turun dari tahun ke tahun. Kita berharap capaian di semester pertama 2020 ini bisa dipertahankan agar ke depan tidak tambah lagi. Oleh karena itu perlu kita identifikasi satu satu kira-kira penyebabnya apa, agar hal ini bisa dicegah,’’ tandas Lilik.

Baca Juga :   Pengesahan Warga Baru PSHT, Kapolres Bojonegoro: Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

Angka Kematian Ibu (AKI) tertinggi di Jateng pada 2019 adalah Brebes 37 kasus, terendah Kota Salatiga dan Kota Magelang hanya dua kasus. Sedangkan AKB 2019 di Jateng tertinggi Brebes 304 kasus, dan terendah Kota Magelang 16 kasus. Menurutnya, berdasarkan data yang ada, penyebab AKI diantaranya pendarahan, infeksi, eklamsia, emboli air ketuban, jantung kongestif, jantung coroner, cardiomyopati, dan hepatitis kronis. Sedangkan AKB banyak disebabkan oleh Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Asfiksia (kadar oksigen dalam tubuh bayi minim), kelainan kongenital, sesak nafas, kelainan organ dalam, hipotermi, hidrocepalus, meningitis dan lainnya

Paparan jumlah kasus AKI dan AKB tersebut langsung ditanggapi Bupati Djoko Nugroho. Bupati meminta agar bisa segera ditindaklanjuti seluruh stakeholder kesehatan terkait. “Ya, kita harus tetap fokus pada AKI, AKB dan satu lagi yaitu stunting. Meskipun sedang pandemi Covid-19, saya minta pelayanan kesehatan untuk ibu-ibu dan bayi tetap dibuka dan dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan. Puskesmas jangan melupakan ini, begitu juga Posyandu harus aktif lagi,’’ kata Bupati Djoko Nugroho.

Baca Juga :   Soal Spanduk Sekda Mundur, Bupati Blora: Saya Akan Usut Tuntas

Menurut bupati, ibu hamil dan ibu menyusui harus terus dikawal kondisi kesehatannya. Begitu juga pencegahan dari hulunya, yakni menekan jumlah angka pernikahan dini agar perempuan yang hamil itu juga siap secara fisiknya. Bukan hamil usia muda yang belum siap secara fisik dan mentalnya. ‘’Ibarat nandur pelem. Nek pelok’e nom kui ya ra dadi apik. Nek pelok e wis tuwa mengko lak wite sing thukul apik (ibarat tanam mangga, kalau bijinya muda ya tanamannya jelek. Tetapi kalau sudah tua pasti pohon yang tumbuh bagus juga). Begitu juga manusia,” terang Bupati.

Pencegahan pernikahan dini agar tidak terjadi kehamilan yang rawan AKI dan AKB, Bupati meminta Dinas Kesehatan bisa menggandeng Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, serta PKK Kabupaten terjun ke desa-desa. Bupati juga meminta masing-masing rumah sakit milik daerah (RSUD) baik RSUD Blora maupun RSUD Cepu bisa menyediakan kamar isolasi khusus untuk bayi dan ibu melahirkan. Bukan sekedar kamar bersalin namun kamar isolasi khusus untuk bayi dan ibunya. ‘’Begitu juga dengan dokter spesialisnya, baik spesialis anak, spesialis kandungan, dan lainnya. Bagaimana caranya agar bisa ditambah? Tolong cek besaran tunjangan dokter spesialis di Rembang dan Grobogan. Kalau memang Blora masih rendah, akan kita samakan dengan daerah tetangga,’’ ujar Bupati Djoko Nugroho.
Penulis : Ais

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *