Syekh Abdul Qadir Jaelani, Wali yang Ditolak Belajar oleh Imam Ghozali.

oleh
oleh
(Syekh Abdul Qadir Jaelani. Foto : https://indramayu.pikiran-rakyat.com/)

Damarinfo.com – Umat Islam pasti tahu atau minimal pernah dengar nama Syekh Abdul Qadir Jaelani, sosok yang diyakini oleh sebagian besar umat islam sebagai Sulthonul Auliya (Rajanya para Wali). Bahkan kitab manaqibnya atau sejarah hidupnya dibaca sebagai bagian dalam kegiatan yang disebut Manaqiban. Namun siapa sangka Syekh Abdul Qadir Jaelani ditolak belajar oleh Imam Ghozali, saat ingin berguru kepada Imam Ghozali.

Siapa Syekh Abdul Qadir Jaelani?

Abdul Qadir lahir pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan di 470 H, 1077 M, di kota Na’if, Gilan-e Gharb, Ghilan atau disebut Jaelan atau Jilan, yang terletak di selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran Iran. Tanggal kelahiran dari Abdul Qadir ini ada dua riwayat, yakni tanggal 1 Ramadhan dan 2 Ramadhan, namun kebanyakan orang lebih meyakini tanggal 2 Ramadhan.

Nasab (Silsilah) Abdul Qadir dari orang tuanya baik dari bapak dan ibunya menyambung ke Rasulullah SAW. Ibnul Imad, salah seorang sejarawan Islam menyebutkan  nasab Abdul Qadir Jaelani dari garis ayah adalah  Asy-Syekh Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan bin Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib dan Fatimah bin Muhammad Rasulullah SAW.  

Sedangkan silsilah garis ibu: Syaikh Abdul Qadir, bin  Ummul Khair Fatimah, binti Abdullah Atha’, bin Mahmud, bin Kamaludin Isa, bin Abi Jamaluddin, bin Abdullah Sami’ Az Zahid, bin Abu Alauddin al Jawwad, bin Ali Ridho, bin Musa Al Kazhim, bin Ja’far as Shodiq, bin Muhammad Al Baqir, bin Zaenal Abidin, bin Husen, bin Ali bin Abi Tholib (suami Fatimah Az Zahra) binti Rasulullah saw

Dalam usia 18 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M, tujuan pertamanya adalah belajar kepada Imam Ghazali di Madrasah Nizhamiyah, namun Abdul Qadir tidak diterima.

Baca Juga :   Rumi, Cinta dan Tarian Sufi

Akhirnya Abdul Qadir belara pada beberapa ulama lain yakni Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra’ dan juga Abu Sa’ad al Muharrimiseim. Dia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Baca Juga :   Imam Bukhori, Ahli Hadis yang Mahir Memanah

Dengan kemampuan itu, Abu Sa’ad al Mukharrimi yang membangun sekolah di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jilani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya pada tahun 561 H.

Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Penulis : Syafik

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Qadir_al-Jailani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *