Surat Redaksi
New Normal = Koyok Biasane

oleh
(Ilustrasi New Normal. Editor : Syafik)

“New Normal wi koyok biasane ngono kae.” Kata Ali di sebuah warung kopi. Sebuah pemahaman sederhana tentang New Normal yang sudah diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia.

Bisa jadi ini bukan hanya pemahaman Ali saja tapi sebagian besar masyarakat. Buktinya kita bisa lihat bahwa di pasar para pedagang sudah buka lapak seperti biasanya. Masker  hanya dipakai oleh sebagian pedagang.

Pun para pengendara kendaraan di kota maupun di desa wilayah Bojonegoro tidak banyak yang mengenakan alat keselamatan untuk menjaga penularan virus corana.

Atau kalau kita lewat di depan warung-warung kopi, tidak terlihat ada physical distancing. Para penikmat kopi tampak asyik dengan gadgetnya masing-masing. Mereka berkerumun dan duduknya sangat berdekatan.

Memang masih tampak tempat untuk mencuci tangan namun tidak banyak yang menggunakanya. Di sejumlah tempat air dalam ember gak terisi, pun juga sabunnya sudah habis.

Pemerintah Indonesia sendiri mengacu pada kebijakan New Normal yang diterbitkan oleh World Health Organisation (WHO). Dan untuk kebijakan ini ada enam syarat ketat yang harus dipenuhi agar New Normal bisa dilaksanakan.

  1. Penularan COVID-19 di wilayahya telah bisa dikendalikan.
  2. Kapasitas sistem kesehatan yang ada (Rumah sakit s/d peralatan medis) sudah mampu melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, pelacakan kontak, hingga melakukan karantina orang yang terinfeksi.
  3. Mampu menekan risiko wabah COVID-19 pada wilayah / tempat dengan kerentanan tinggi.
  4. Penerapan protokol pencegahan COVID-19 di tempat kerja melalui Physical distancing, cuci tangan, pemakaian masker, dan sebagainya.
  5. Mampu mengendalikan risiko kasus dari pembawa virus yang masuk ke suatu wilayah.
  6. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan masukan, pendapat dan dilibatkan dalam proses masa transisi menuju new normal.
Baca Juga :   Sembuh Pertama Kali, Pasien Covid-19 Dapat Parcel dari Wabup Blora
(Grafik Harian Kasus Positif Corona di Bojonegoro. Per 13 Juni 2020. Editor Syafik)

Menariknya di Bojonegoro sendiri dalam tiga hari terakhir (per 13 Juni 2020), jumlah kasus terkonfirmasi positif covid-19 terus bertambah, yaitu terjadi penambahan enam orang terkonfirmasi positif. Sedangkan sebelumnya terdapat empat orang terinfeksi virus corona ini. secara komulatif sudah terdapat 84 orang terkonfirmasi, dengan rincian yang dirawat 58 orang. Sedangkan pasien yang dinyatakan sembuh 14 orang dan meninggal sebanyak 12 orang.

Pertanyaanya bisakah Bojonegoro menerapkan New Normal? Setidaknya jika menilik pada perkembangan kasus covid-19 di kabupaten ini.

Bisa atau tidak bisa, namun kenyataanya masyarakat sudah melaksanakan sendiri New Normal. Setidaknya jika  menurut pemahaman mereka. Apalagi sudah tidak terlihat ada kegiatan-kegiatan pengendalian seperti sebelum program New Normal diluncurkan oleh Presiden atau pada awal-awal dinyatakanya Covid-19 sebagai pandemi.

Pun juga tidak ada lagi petugas dari gugus tugas covid-19 yang obrak-obrak (meminta) pengunjung pasar untuk memakai masker, mencuci tangan, atau menjaga jarak. Kemudian, penjaga palang pintu di kampung-kampung, di gang-gang sudah mulai kendor.  Rupanya gugus tugas covid-19 juga punya pemahaman yang sama dengan masyarakat tentang New Normal ini. sehingga merasa tidak perlu lagi melaksanakan upaya-upaya sosialisasi kepada masyarakat.

Dalam konteks New Normal ini terdapat dua “madzhab” yang berkembang yakni madzhab Kesehatan dan Madzhab Ekonomi.

Baca Juga :   Era New Normal, Pemerintah Harus Perhatikan Pondok Pesantren

Menurut madzhab kesehatan, tentu kondisi ini menghawatirkan karena penyebaran covid-19 belum bisa dikendalikan. Sementara kedisiplinan masyarakat dalam mengikuti protokol kesehatan sangat minim atau bisa jadi merasa tidak perlu. “Wong nyatanya selama ini juga tidak tertular dan baik-baik saja” kira-kira begitu pikir masyarakat.

Masyarakat terlihat menganut madzhab ekonomi pada masa pandemi covid-19. Yaitu dengan melakukan aktifitas ekonomi seperti biasanya, dan mengikuti protokol kesehatan se ingat-nya saja. Madzhab ekonomi ini semakin kuat setelah para pemimpin negeri ini , memperkenalkan istitlah New Normal. Ditambah lagi pernyataan para pemimpin negeri ini bahwa tidak mungkin masyarakat harus berdiam diri di rumah terus menerus tanpa kepastian, yang akan membahayakan kehidupan mereka dikemudian hari.

(Banner adaptasi kebiasaan baru, Pemkab Bojonegoro)

Tentu kita berharap tidak semestinya para petugas dari Gugus Tugas Covid-19 malah mengikuti kemauan sebagian besar masyarakat untuk tidak lagi mempedulkan covid-19 ini.

Semestinya para petugas di Bojonegoro tetap disiplin dalam memberikan sosialisasi dan upaya-upaya pencegahan covid-19 seperti sebelum ada kebijakan New Normal. Toh Pemerintah Bojonegoro sendiri juga selama ini tidak melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dan selama ini upaya –upaya petugas dalam melakukan pencegahan sudah maksimal dan masif.

Percayalah, bahwa ekonomi penting, tetapi kesehatan dan keselamatan hidup juga lebih penting. Apalagi di masa pandemi ini, karena di depan mata ada contoh terjadi banyak korban. Yuk kita tetap waspada. Tetap beraktifitas namun tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan.

Penulis : Syafik

Editor : Sujatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *