Surat Redaksi
Muhammadiyah “Koentji” Kemenangan Pilkada Bojonegoro 2024

oleh
oleh
(Kantor Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro. Foto :https://vervalyayasan.data.kemdikbud.go.id/)

Organisasi keagamaan masih menjadi sasaran yang seksi untuk diperebutkan dalam sebuah ajang Pemilihan Umum (Pemilu), Baik itu Pilihan Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota maupun Pilihan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Dari sisi kuantitas atau jumlah, ada dua organisasi keagamaan terbesar di indonesia yaitu Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah.

Pun di Bojonegoro meskipun belum ada data yang valid untuk mengetahui besarnya jumlah anggota tersebut di Bojonegoro. Angka yang muncul untuk NU jumlah anggotanya bisa mencapai lebih dari 300 ribu an, sementara Muhammadiyah di angka 100 ribuan.

Saat ini beredar dua nama yang bakal maju sebagai bakal calon Bupati Bojonegoro pada Pilkada 2024 mendatang yakni Anna Mu’awnah dan Nurul Azizah. Melihat background dua perempuan ini, bisa jadi basis masa yang menjadi sasaran sama yakni kaum Nahdliyin. Sehingga dimungkinkan masa NU bakal terpecah pada Pilkada 2024 mendatang.

Dari kondisi ini maka posisi Muhammadiyah bisa menjadi kunci kemenangan pada Pilkada 2024 mendatang. Jika salah satu dari dua bakal calon tersebut mampu menggandeng Muhammadiyah maka peluang memenangkan Pilkada di Bojonegoro semakin besar.

Baca Juga :   Gerindra - Golkar Bojonegoro Berkoalisi, Mitro'atin : Ada Kemungkinan Koalisi Dengan PKB Juga

Pasalnya suara Muhammadiyah diyakini solid/utuh jika sudah mendukung salah satu bakal calon bupati, seperti saat Suyoto mencalonkan diri menjadi Bupati pada Pilkada 2007 lalu. Bahkan tokoh-tokoh Muhammadiyah berani berkorban baik itu materiil atau spirituil untuk memenangkan bakal calon yang didukungnya.

Pada Pilkada tahun 2007, Suyoto yang tidak dijagokan karena pendatang baru, namun mampu mengalahkan para pesohor Bojonegoro kala itu, yakni Petahana Santoso dan Ketua DPRD M. Talhah. Dua pejabat Bojonegoro tersebut berebut pada basis yang sama yakni massa Nahdiyin, sehingga suara Nahdiyin terpecah.

Hal ini menguntungkan Suyoto yang sudah mengantongi suara Muhammadiyah secara utuh. Kemenangan Suyoto yang berpasangan dengan Setyo Hartono tidak mutlak dan salah satu faktor kemenagan Suyoto adalah suara dari warga Muhammadiyah.

Pasangan dengan singkatan To-To tersebut meraih 38,45 persen, di urutan ke dua Santoso-Budi Irawanto mendapatkan 31,71 persen dan terakhir pasangan M. Talhah-Tamam Syaifudin dengan perolehan 29,84 persen.

Baca Juga :   Bimbim Siap Penuhi Jumlah Syarat Dukungan Calon Independen PIlkada 2024. Berapa Jumlahnya Ya?

Hingga saat ini Muhammadiyah Bojonegoro belum menentukan sikap yang pasti bakal mendukung bakal calon bupati tertentu. Tentu ini kesempatan bagi para bakal calon bupati untuk mendekati Muhammadiyah agar mendapatkan simpati, hingga akhirnya Muhammadiyah menentukan pilihannya pada bakal calon bupati tersebut.

Dinamika politik Bojonegoro bakal terus bergerak, pasalnya hingga saat ini Partai Politik di Bojonegoro selain PKB juga belum menentukan sikapnya bakal mengusung bakal calon bupati dan wakil Bupati tertentu.

Jumlah pasangan calon bupati dan wakil bupati yang bakal bertarung dalam Pilkada yang pencobloasannya dilaksanakan 27 November 2024 mendatang akan merubah peta politik di Bojonegoro.

Namun basis massa Muhammadiyah tetap bisa menjadi pertimbangan bagi Partai Politik dan para bakal calon bupati dan wakil bupati untuk memenangkan Pilkada 2024.

Muhammadiyah adalah “Koentji”

Penulis : Syafik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *