Empat Tahun Anna-Wawan, Apa Kabar Pendidikan di Bojonegoro?

oleh
Foto/dok.Bojonegorokab.go.id

damarinfo.com Tanggal 24 September 2022, genap empat tahun  Bupati Anna Mu’awanah  dan Wakil Bupati Bojonegoro Budi Irawanto memimpin Bojonegoro. Selama empat tahun memimpin, tentu banyak warna yang sudah ditorehkan oleh dua pimpinan Kabupaten ujung barat Provinsi Jawa Timur. Ada yang puas, ada yang kecewa, ada yang gembira, ada yang sedih dan perasaan-perasaan lain yang dirasakan oleh warga Bojonegoro.

Soal perselisihan kedua pemimpin Bojonegoro ini, pun juga belum mereda padahal sudah tinggal satu tahun mereka berkuasa. Tapi ya biarlah, toh mereka sudah dewasa, tentu sudah tahu apa yang terbaik untuk mereka berdua.

Kita tidak bisa mengukur sebuah keberhasilan pembangunan dengan perasaan, ada ukuran-ukuran obyektif yang sudah disepakati bersama di seluruh Indonesia.

Sebenarnya agak enggan juga menulis soal pencapaian pembangunan di Bojonegoro, musababnya dengan anggaran tertinggi ke dua se Jawa Timur dan ke enam se Indonesia, Bojonegoro tak mampu berlari mengejar ketertinggalan dari Kabupaten/Kota yang lain di Jawa Timur.

Data-data masih menunjukkan Bojonegoro belum beranjak dari tempatnya dalam klasemen pembangunan di Jawa Timur, sebut saja Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang nyatanya masih bertahan di peringkat 26. Pun juga soal kemiskinan masih berada di urutan 13. Pengangguran pun masih saja belum terselesaikan dengan tepat, pasalnya angka pengangguran Bojonegoro masih tinggi.

(Jalan Nasional Bojonegoro – Babat setelah di lakukan pelebara. Foto : Syafik)

Capaian yang dibanggakan adalah pembangunan jalan poros kabupaten dengan sistem rigid atau cor, yang diperkirakan hampir tuntas pada tahun 2022 ini. Bupati Perempuan Pertama di Bojonegoro ini juga menggelontorkan anggaran ratusan miliar untuk pembangunan jalan yang menghubungkan desa ke desa dalam bentuk Bantuan Khusus Keuangan kepada Pemerintahan Desa atau biasa disebut BKD. Juga pelebaran jembatan yang menghubungkan antar kecamatan dan desa menjadi prioritasnya.

Tak terkecuali adalah pelebaran jalan nasional antara Bojonegoro-Babat yang menelan anggaran lebih dari Rp. 150 miliar. Pembangunan jembatan antar Kabupaten tak luput dari perhatian Bupati Anna, dengan membangun dua jembatan penghubung Kabupaten Blora-Bojonegoro dan penghubung Kabupaten Tuban-Bojonegoro, dan saat ini yang sedang dalam proses adalah pembangunan jembatan penghubung Bojonegoro-Tuban di wilayah Kecamatan Baureno.

Baca Juga :   Surat Redaksi
Vaksin Lambat, Yuk Dipercepat

“wong duwite akeh, nek kur bangun ngono tok sopo-sopo yo iso, (Uangnya Banyak, kalau hanya membangun seperti itu, siapapun bisa)” kata warga Bojonegoro.

(Agung Surpiyanto /nomor tiga dari kiri /Saat mendampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Bojonegoro Anna Muawanah dan Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky. Berjalan di atas Jembatan TBT saat peresmian, Rabu 12-1-2022. Foto : bojonegorokab.go.id)

Soal pendidikan misalnya, belum menjadi perhatian serius pemerintah Kabupaten Bojonegoro, khususnya untuk jenjang pendidikan dasar, SD/MI dan SMP/MTs, alasannya untuk jenjang ini sudah ditanggung oleh pemerintah pusat melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Jadi yang diperhatikan ya tingkat yang lebih tinggi, yakni Madrasah Aliyah (MA) dengan Dana Alokasi Khusus (DAK). Juga untuk Perguruan Tinggi yakni dengan beasiswa untuk mahasiswa, ada beasiswa satu desa dua sarjana dan Beasiswa Scientist dan beasiswa tugas akhir.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sepertinya lupa atau memang tidak tahu bahwa BOS itu hanya biaya minimal pendidikan yang dapat ditanggung oleh Pemerintah Pusat. Agar berkualitas tentu membutuhkan biaya tambahan, misalnya untuk peningkatan kesejahteraan guru non PNS dan non PPPK (utamanya guru di lembaga swasta, terlebih lagi guru di madrasah), dibutuhkan banyak biaya untuk pemenuhan sarana prasarana (Laboratorium, Perpustakaan, olah raga), peningkatan kapasitas guru, dan kebutuhan lain yang dibutuhkan untuk memenuhi standart pendidikan yang ada di dalam Undang -Undang Sisdiknas.  ini tidak dapat ditanggung oleh dana BOS, sehingga seharunya ada anggaran yang dialokasikan dari APBD Kabuapten Bojonegoro. Koq pelit amat untuk pendidikan anak anak Bojonegoro!

(Grafik Rasio Anggaran pada Dinas Pendidikan kabupaten Bojonegoro tahun 2017 – 2021. Sumber data : bpkad.id. Grafis : Syafik)

Berikutnya Kita lihat data pendidikan Bojonegoro yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, di tahun 2021 Harapan Lama Sekolah (HLS) di kabupaten kaya ini adalah 12,68 tahun, dan ini menempatkan Bojonegoro pada peringkat 29 dari 38 Kabupaten /Kota di Jawa Timur. Bahkan Bojonegoro harus “mengaku”  kalah  dari Kabupaten Sumenep Madura yang nilai HLS nya 13,33 tahun, padahal APBD Kabupaten Sumenep setara dengan Sisa Lebih Pembiyaan Anggaran (SiLPA) tahun 2021, yakni Rp. 2,7 triliun.

Baca Juga :   Surat Redaksi
Happy Anniversary 2th Anna – Wawan

Beruntung Rata-Rata Lama (RLS)  sekolah, Kabupaten Bojonegoro berada pada peringkat yang lebih tinggi dari HLS nya namun, ya masih di posisi ke 20, dengan nilai RLS 7,38 tahun. Ini pun masih kalah dengan Kabupaten Nganjuk dengan APBD setara SiLPA APBD Bojonegoro tahun 2021, yakni Rp. 2,7 triliun.

Kenapa dua indikator itu penting, karena itu salah satu faktor yang membentuk IPM, dan IPM adalah indikator  yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan sebuah daerah.

Sekarang kita tengok data tentang kondisi sarana pendidikan di Bojonegoro, datanya kita ambil dari Laporan Akhir IPM Kecamatan dan Kabupaten Bojonegoro tahun 2021 yang diterbitkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Bojonegoro. Untuk tingkat SD , dari total 3.625 Unit Sekolah di Bojonegoro, yang kondisinya Rusak Total sejumlah 49 unit, Rusak Berat sebanyak 393 unit, Rusak sedang 613 unit, Rusak ringan sebanyak 810 unit dan dalam kondisi baik sebanyak 1760 unit. Kalau unit SD yang rusak itu dibuat persetasenya maka didapatkan 51,45 persen dalam kondisi rusak. Sementara 48,55 persen dalam kondisi baik. Bagaimana pendidikan dapat berkualitas jika kondisi sarana dan prasarananya rusak. Koq pelit untuk pendidikan anak-anak Bojonegoro!

Yang menyedihkan adalah Anggaran Pendidikan di Bojonegoro tahun 2022 ini, rencananya malah diturunkan dari 1.004.931.917.086, pada Rancangan P-APBD menjadi Rp. 952.025.282.890, atau turun Rp. 52.906.634.196 Jika dihitung dari belanja pada Rancangan P-APBD Bojonegoro tahun 2022, sebesar Rp, 7,03 triliun maka persentasenya hanya 13,5 persen. Nilai anggaran pendidikan di Kabupaten Bojonegoro ini tidak memenuhi amanat undang-undang dasar 1945, yang seharusnya adalah 20 persen dari APBD.

Bisa jadi Pendidikan, belum menjadi prioritas pembangunan dari Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro yang telah memimpin Bojonegoro sejak tahun 2018 lalu. Semoga saja waktu yang tinggal satu tahun ini, perhatian untuk dunia pendidikan semakin besar, ya demi pembangunan sumber daya manusia Bojonegoro di masa mendatang, agar masyarakat Bojonegoro semakin sejahtera.

Buat Bupati Anna dan Wakil Bupati Mas Wawan, happy anniversary yang ke empat…semoga selalu sehat dan bahagia.

Penulis : Syafik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *