damarinfo.com – Siapa sangka, di tengah hamparan sawah dan desa-desa Bojonegoro, tersimpan rahasia alam yang sudah dikenal sejak era kolonial Belanda: sumber air panas yang konon bisa menyembuhkan. Di Karan, Baureno, dan Jari, Bubulan, air hangat berbau belerang mengalir dari perut bumi, menarik perhatian warga pribumi hingga tuan-tuan Belanda pada abad ke-19.
Catatan kuno dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië tahun 1916 mengungkap pesona sumber air mineral ini, yang tak hanya indah, tapi juga penuh khasiat kesehatan.
Karan: Sumber Air Panas dengan Aroma Belerang
Di Karan, Kecamatan Baureno, sumber air panas mengalir dengan suhu sekitar 32 derajat Celsius. Airnya jernih, namun begitu terpapar udara, ia berubah opal karena belerang yang terlepas, disertai aroma hidrogen sulfida yang khas—bau telur busuk yang justru jadi tanda keajaiban alam.
Menurut catatan Belanda, air ini kaya akan natrium klorida, kalium, kalsium, magnesium, dan sedikit yodium. Dulu, warga berbondong-bondong berendam di sini untuk meredakan penyakit kulit, dari gatal-gatal hingga infeksi yang sulit sembuh, bahkan para pejabat Belanda pun tak ketinggalan mencoba.
Warisan Kolonial: Tahun 1857, pemerintah Belanda memberikan konsesi kepada K. Buwalda dan E.F.G. Kreijenberg untuk mengeksploitasi sumber air yodium di Surabaya. Hasilnya? Air Molong, garam mandi, dan yodium murni yang jadi primadona di pasar Hindia Belanda.
Jejak Kolonial: Eksploitasi Sumber Air Yodium
Tak kalah memikat, sumber air panas di Jari, Kecamatan Bubulan, punya kandungan mineral yang lebih kaya. Natrium klorida dan natrium karbonat mendominasi, dengan jejak yodium yang menambah nilai istimewa. Di masa kolonial, tempat ini bagaikan oase kesehatan, dikunjungi warga desa hingga saudagar Belanda yang mencari obat untuk nyeri sendi atau penyakit kronis. Bayangkan suasana dulu: uap air hangat mengepul, dikelilingi pohon kelapa, sambil cerita tentang khasiat air ini menyebar dari mulut ke mulut.
Saksi Sejarah yang Masih Terpendam
Meski era kolonial telah lama sirna, sumber air panas Bojonegoro tetap jadi saksi sejarah. Dokumen Belanda mencatat bahwa air ini bukan sekadar tempat mandi, melainkan “obat” alami untuk penyakit kulit, rematik, hingga sifilis. Di Surabaya, sumber air yodium bahkan jadi komoditas industri, diekspor sampai ke negeri Belanda. Sayang, di Bojonegoro, potensi ini masih terpendam sejak zaman itu.
Verslagen van den Geneeskundigen Dienst tahun 1916 menggambarkan betapa seriusnya Belanda meneliti sumber air ini. Mereka mengukur suhu, menganalisis kandungan mineral, dan mendokumentasikan efek penyembuhannya. Di Karan, airnya bersifat “alkalisch” dan penuh belerang, sementara di Jari, kandungan garamnya lebih menonjol. Bagi pribumi, sumber air panas ini adalah anugerah, tempat mencari kesembuhan tanpa obat-obatan mahal.
Kini, sumber air panas Bojonegoro menanti kebangkitan. Bayangkan sebuah wisata kesehatan bergaya kolonial, dengan kolam air hangat di tengah bangunan kayu ala Belanda, dilengkapi papan cerita tentang sejarahnya. Ini bukan cuma soal kesehatan, tapi juga peluang ekonomi bagi warga lokal. Namun, tantangannya nyata: menjaga sumber air ini dari polusi dan kelalaian.
Saat melintas di Baureno atau Bubulan, mampirlah ke sumber air panas ini. Berendam di air hangatnya, rasakan jejak kolonial, dan jadilah bagian dari cerita Bojonegoro—tanah yang menyimpan keajaiban alam sejak ratusan tahun lalu.
Penulis : Syafik
Sumber : (Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië. Eerste deel A-H, terbit tahun 1916. dengan judul asli “BRONNEN (natuurlijke minerale)” diunduh dari laman delpher.nl. diterjemahkan dengan grok.com)





