damarinfo.com – Masyarakat Kabupaten Bojonegoro mencatat rekor baru dalam kualitas konsumsi pangan pada tahun 2025. Data terbaru menunjukkan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Bojonegoro kini menyentuh angka 92,4. Realisasi ini membawa angin segar sekaligus tantangan baru bagi pemerintah daerah.
Di satu sisi, angka 92,4 merupakan sebuah lompatan besar. Angka ini membuktikan bahwa kualitas konsumsi riil masyarakat tumbuh jauh lebih cepat. Bahkan, pertumbuhan tersebut bergerak melampaui prediksi awal di atas kertas.
Melompati Target Tiga Tahun ke Depan
Jika kita melihat dokumen perencanaan daerah (RPJMD), capaian ini jelas melampaui masanya. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro awalnya memasang target skor PPH secara bertahap. Pemerintah membidik target sebesar 89,9 pada tahun 2026. Selanjutnya, target naik menjadi 90,9 pada 2027, dan berlanjut ke angka 91,9 pada 2028.
Dengan realisasi tahun 2025 yang sudah mencapai 92,4, Bojonegoro sukses memotong jalur komitmen. Kualitas pangan daerah ini melaju tiga tahun lebih cepat dari rencana semula. Saat ini, posisi Bojonegoro sudah menempel ketat target tahun 2029 yang berada di angka 92,9. Kedua angka tersebut kini hanya berselisih tipis 0,5 poin saja.
Mengukur Standar Pangan Ideal
Badan Pangan Nasional menggunakan instrumen Skor PPH untuk melacak pemenuhan gizi masyarakat. Berdasarkan Peraturan Nomor 11 Tahun 2023, penilaian ini menggunakan skala 0 hingga maksimal 100. Sistem penilaian memantau komposisi ideal dari sembilan kelompok pangan utama.
Skor 92,4 mengindikasikan bahwa pola makan warga Bojonegoro sudah cukup beragam. Masyarakat juga mulai sadar akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang. Meski demikian, angka ini menunjukkan bahwa kondisi di lapangan belum sepenuhnya berada di level ideal.
Juru Kunci di Peta Regional
Cerita sukses Bojonegoro berubah seketika saat kita menggeser sudut pandang ke skala regional. Di antara kabupaten tetangga pada tahun 2025, posisi Bojonegoro justru berada di tempat paling buncit.
Kabupaten Ngawi memimpin persaingan dengan skor sangat tinggi, yaitu 98,3. Angka tersebut membuat Ngawi hampir menyentuh batas ideal sempurna. Tiga kabupaten tetangga lainnya juga kompak mengungguli Bojonegoro. Nganjuk mengantongi skor 94,9, Lamongan berada di angka 94,8, dan Tuban menyusul dengan 93,4. Data komparasi ini memperlihatkan bahwa akselerasi kualitas pangan daerah sekitar bergerak jauh lebih agresif.
Grafik Lima Tahun yang Fluktuatif
Peta tren lima tahun terakhir menunjukkan bahwa pergerakan Skor PPH Bojonegoro tidak berjalan mulus. Setelah memulai di angka 81,8 pada tahun 2021, Bojonegoro sempat mencetak rekor tertinggi pada tahun 2022 dengan skor 94,5.
Sayangnya, tren positif itu langsung runtuh pada tahun-tahun berikutnya. Skor Bojonegoro merosot ke angka 89,7 pada tahun 2023, dan kembali turun menjadi 88,8 pada tahun 2024. Lonjakan ke angka 92,4 pada tahun 2025 menjadi sinyal pemulihan yang baik. Meski begitu, performa ini belum mampu menyamai masa kejayaan wilayah tersebut pada tahun 2022 lalu.
Refleksi atas Angka
Data ini pada akhirnya mengajak kita untuk merefleksikan kembali arti sebuah pertumbuhan. Keberhasilan melampaui target internal sering kali memicu rasa puas yang prematur. Kita cenderung merasa sudah cukup saat melihat angka di dokumen daerah telah terlewati.
Namun, data regional hadir sebagai cermin yang jujur. Lingkungan sekitar memperlihatkan bahwa standar keberhasilan di luar sana terus bergerak naik dengan cepat. Skor 92,4 milik Bojonegoro adalah sebuah prestasi yang layak mendapat apresiasi. Namun di saat yang sama, angka ini menjadi pengingat kuat. Kepuasan atas target dokumen tidak boleh menghentikan langkah untuk mengejar ketertinggalan dari tetangga.
Penulis : Syafik
Sumber data : https://data.badanpangan.go.id/datasetpublications/ucl/skorpph-konsumsi-kab-kota
Sumber Dokumen : Peraturan Badan Pangan 11 Tahun 2023 tentang Pola Pangan Harapan
Disclaimer : Penulisan dan analisa data dibantu oleh teknologi AI






