Siapa KH. Moh. Sholeh Pendiri Ponpes Attanwir Talun?

oleh
oleh
(KH. Moh. Sholeh, saat mengajar ngaji kepada santri-santrinya)

Bojonegoro, damarinfo – Senyum yang lembut dan sikap menghormat semua orang, sikap asih dan tawadhu’ menjadi gambaran pesona yang selalu memancar dari diri KH. Moh. Sholeh bin Syarqowi, sosok guru ngaji yang berlatar belakang pendidikan pesantren, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Attanwir Talun Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro.

Kiyai kelahiran Bojonegoro 20 Februari 1902 Masehi ini gemar dengan dunia ilmu. Setiap ada kesempatan belajar selalu ia hiasai dengan lembaran-lembaran kitab. Tercatat sejak usia 10 tahun, ia sudah mulai belajar al-Qur’an pada ayahnya sendiri. Dua tahun kemudian, meneruskan ngajinya kepada Kiyai Umar Sumberrejo dengan mengaji kitab Sullam Safinah dan Sullam Taufiq. Setahun kemudian, yakni pada tahun 1915 Masehi, Sholeh kecil melanjutkan pendidikannya di dunia pesantren yaitu di Pondok Pesantren Kendal Kecamatan Dander di bawah asuhan Kiyai Basyir dan Kiyai Abu Dzarrin.

Delapan bulan kemudian, masuk ke Madrosatul Ulum di Bojonegoro selama empat tahun. Di madrasah ini, ia belajar kitab Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Jurumiyah, Alfiyah dan lain sebagainya. Setamatnya dari Madrosatul Ulum tahun 1920 Masehi ia melanjutkan menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Maskumambang Dukuh Gresik di bawah asuhan KH. Faqih bin KH. Abdul Jabbar, di pesantren ini ia menekuni berbagai kajian kitab kuning.

Ibarat orang minum air laut, semakin banyak maka semakin haus. Bersama lima orang teman mondoknya bertekad berangkat haji dan berencana mendalami ilmu agama di pusat keilmuan Makkah Almukarromah. Namun, selang delapan bulan di kota Makkah terjadi peperangan yaitu pasukan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Saud dan saudara serta keluarganya menyerbu raja Makkah yaitu Syarif Husain. Raja Syarif Husain kalah kemudian melarikan diri keluar negeri, semenjak itu kegiatan belajar mengajar berhenti total. Karena situasi itulah KH. Moh. Sholeh bersama lima temannya kembali pulang.

Baca Juga :   Kang Yoto Muncul di Acara Raker Partai NasDem Bojonegoro

Sepulang dari tanah suci Makkah, Ia di minta oleh gurunya KH. Faqih untuk mengajar di Pondok Pesantren Maskumambang. Tak hanya itu, ia juga diambil menantu oleh Kiyainya dinikahkan dengan keponakannya yakni Nyai Rochimah. Namun, beberapa tahun kemudian istri tercinta berpulang ke rahmatullah dengan meninggalkan dua anak yakni KH. Sahal Sholeh dan Hj. Anisah. Kemudian dengan berbagai pertimbangan diantaranya kondisi anak yang masih kecil ahirnya ia menikah lagi dengan Nyai Muhlisah janda dari KH. Mahbub dan tidak di karuniai anak.

H. Idris selaku ayah angkat meminta KH. Moh. Sholeh untuk pulang ke Talun, tepatnya pada tahun 1927 dan disinilah ia mulai mengajarkan ilmunya kepada keluarga dan masyarakat sekitar. untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya ia membuka toko untuk membeli hasil panen warga setempat.

Pada waktu itu, saat Jepang masih menjajah KH. Moh. Sholeh mendapatkan undangan Musyawarah Besar Alim Ulama se-Jawa bertempat di Jakarta mewakili Jawa Timur. Dan pada awal kemerdekaan Kabupaten Bojonegoro di jadikan percontohan pemilihan pejabat Asisten Wedono atau Camat yang di pilih langsung oleh masyarakat melalui perwakilan partai politik. Dalam pencalonan camat ini muncul dua nama yakni KH. Moh. Sholeh dari Partai Masumi dan Soejito dari Partai Komunis Indonesia (PKI), dan dalam pemilihan itu KH. Moh. Sholeh terpilih. Meski banyak orang yang meragukan kemampuannya karena hanya seorang guru ngaji namun anggapan tersebut berubah karena KH. Moh. Sholeh mampu mengemban amanah dengan baik, dengan sifat lemah lembut dan tawadhu’ masyarakat merasa diayomi.

Baca Juga :   Beroperasi, KA Argo Bromo Anggrek Surabaya-Jakarta via Bojonegoro

Karena kerinduannya kepada dunia pendidikan selang menjabat selama dua tahun ia mengundurkan diri, dan memilih dunia pendidikan dari pada dunia birokrasi, kemudian fokus pada pengembangan lembaga pendidikan yang telah di rintisnya semenjak pulang dari Pondok Maskumambang Gresik, dan hingga saat ini menjadi lembaga pendidikan terbesar di kabupaten Bojonegoro. Ia juga pernah menjadi Mutasyar NU Kabupaten Bojonegoro. KH. Moh. Sholeh wafat pada Hari Jum’at Legi tanggal 20 Juli 1992, ia di makamkan di Maqbaroh komplek pondok setempat.

Ada sebanyak sebelas kitab karangan KH. Moh. Sholeh yang telah dicetak dan dikaji oleh para santri yaitu :

1. Risalah Assyafiyah fil masailil fiqhiyah
2. RisalahKhuluqul kirom wa syafa’ul ajsam
3. RisalahNailulussurur fi bakdi fadhoilis suhur
4. Risalah Khujjatul mukminin fit tawassul
5. Risalah Zadul Muta’allim
6. Risalah Fathul jalil fi fadhuili dzikri wat tahlil
7. Risalah Sholawat ala sayyidis sadat
8. Risalah Mudzakaroh khutbatul ied
9. Risalah Syu’abul iman
10. Risalah Nadzom jawahirul adab
11. Risalah Muhimmatul idza’ah fi bahtsi ahlussunnah wal jama’ah

Penulis : Rozikin
Sumber : Di olah dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *