damarinfo.com – Hari ini, jika kita berbicara tentang ekonomi Bojonegoro, pikiran kita langsung melayang pada megahnya industri minyak dan gas (migas) dengan pundi-pundi APBD puluhan triliun rupiah. Namun, pernahkah kamu membayangkan bagaimana roda kehidupan berputar di Bojonegoro empat dekade silam?
Jauh sebelum deru mesin bor raksasa terdengar, urat nadi ekonomi daerah ini justru berdenyut di emperan rumah dan dapur-dapur warga desa. Fondasi ekonomi Bojonegoro kala itu tidak ditopang oleh korporasi besar, melainkan oleh jutaan anyaman jemari rakyat.
Raksasa Anyaman yang Mengalahkan Pabrik Modern
Arsip data industri Kabupaten Bojonegoro tahun 1983 menyingkap sebuah realitas yang mencengangkan. Sektor kerajinan anyaman tradisional adalah penyerap tenaga kerja terbesar di masanya:
Anyaman Bambu: 3.563 usaha (6.602 tenaga kerja)
Anyaman Pandan: 3.456 usaha (15.743 tenaga kerja)
Jika digabungkan, dua sektor anyaman ini saja melibatkan lebih dari 22 ribu pekerja. Sebagai pembanding, catatan tahun 1989 menunjukkan seluruh industri besar (17 pabrik) dan industri sedang (84 pabrik) di Bojonegoro hanya mampu menyerap sekitar 9.600 tenaga kerja. Artinya, jumlah buruh pabrik modern saat itu tidak ada separuhnya dari jumlah penganyam bambu dan pandan di desa-desa! Keterampilan menganyam benar-benar menjadi urat nadi keluarga yang diwariskan turun-temurun.
“Miliaran Rupiah” dari Dapur Tempe
Sektor pangan tradisional digerakkan oleh 1.425 unit usaha tempe yang mempekerjakan 3.052 orang. Dalam setahun, industri rumahan ini memproduksi 3,57 juta kilogram tempe dengan nilai produksi mencapai Rp1,19 miliar.
Bagi kita sekarang, angka satu miliar mungkin terdengar biasa. Namun, jika disandingkan dengan harga emas tahun 1983 yang masih Rp9.700 per gram, nilai produksi tempe saat itu setara dengan 123 kilogram emas! Jika dikonversi dengan standar harga emas hari ini, nilainya menembus kisaran Rp340 miliar. Sebuah angka yang membuktikan bahwa tempe adalah bisnis rakyat berskala raksasa.
Tembakau: Sang Mesin Uang Desa Berdaya Triliun
Emas hijau alias tembakau sudah lama menjadi primadona. Pada tahun 1983, tercatat ada 349 usaha tembakau kretek, 241 usaha tembakau rajangan, dan 18 usaha sortir tembakau yang memproduksi lebih dari 56 juta batang rokok setahun.
Nilai ekonominya pun tidak main-main jika diukur dengan gramasi emas:
Sektor Sortir Tembakau: Menghasilkan Rp3,53 miliar (Setara 363 kg emas / Lebih dari Rp1 triliun nilai hari ini).
Sektor Tembakau Kretek: Menghasilkan Rp2,36 miiliar (Setara 243 kg emas / Sekitar Rp674 miliar nilai hari ini).
Data ini menjelaskan secara gamblang mengapa sektor tembakau sejak dulu menjadi dinamo utama yang menggerakkan kemakmuran pedesaan Bojonegoro.
Berkah Tanah Liat yang Menghidupi Ribuan Keluarga
Pembangunan fisik Bojonegoro tempo dulu juga mutlak mengandalkan kekuatan lokal dari tanah liat. Pada tahun 1983, tercatat ada 3.407 usaha batu bata dan 795 usaha genteng rumahan.
Nilai produksi batu bata mencapai Rp714 juta (setara 74 kg emas / Rp204 miliar nilai hari ini), sedangkan genteng menyumbang Rp581 juta (setara 60 kg emas / Rp166 miliar nilai hari ini). Sebelum material fabrikasi modern datang, industri tanah liat inilah yang membangun atap dan dinding rumah masyarakat Bojonegoro.
Kemandirian yang Lahir dari Desa
Saat ini kita bangga menjadi salah satu daerah penghasil migas terbesar di Indonesia. Namun, lembaran arsip tahun 1983 ini hadir sebagai pengingat sejarah yang kokoh bagi generasi muda.
Sebelum kilang minyak raksasa berdiri, ekonomi Bojonegoro justru dibangun secara swadaya dari rumah ke rumah di pelosok desa. Mereka menganyam bambu, mengolah tempe, merajang tembakau, hingga mencetak tanah liat demi menyambung hidup.
Membaca data ini membuat kita menyadari satu hal, seraya membatin dalam hati: “Oh, ternyata jauh sebelum ada bor minyak, sejatinya Bojonegoro adalah kabupaten industri rakyat yang sangat tangguh…”
Penulis : Syafik
Sumber : Statistik Kabupaten Dati II Bojonegoro Tahun 1983, Arsip BPS RI
Disclaimer : Penulisan dan analisa data dibantu oleh teknologi AI






