damarinfo.com – Setahun kepemimpinan Setyo Wahono–Nurul Azizah berjalan tidak dalam suasana euforia. Di media sosial, unggahan tentang capaian satu tahun justru lebih sering disambut komentar bernada ragu. “Belum terasa.” “Masih sama.” “Mana gebrakannya?”
Respons itu wajar. Harapan publik memang tinggi sejak awal. Namun untuk memahami satu tahun ini secara utuh, perlu melihatnya dari dua sisi: angka yang bergerak dan pengalaman yang dirasakan.
Angka Bergerak, Stabilitas Terjaga
Secara indikator makro, sejumlah data menunjukkan pergerakan positif. IPM naik dan melampaui target. Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 3,9 persen. Partisipasi angkatan kerja meningkat. Indeks pelayanan publik dan tata kelola membaik.
Di atas kertas, pemerintahan berjalan stabil.
Namun angka makro berbicara dalam rata-rata. Warga merasakan kehidupan dalam pengalaman sehari-hari—harga kebutuhan pokok, biaya sekolah, pendapatan yang cukup atau tidak. Statistik bergerak. Rasa belum tentu ikut bergerak.
Cerita Warga
Pagi itu di Desa Cancung, Kecamatan Bubulan, Bejo Utomo membuka pintu kandang ayamnya. Sejak menerima 54 ekor ayam petelur melalui program GAYATRI pada akhir Agustus 2025, ia mengubah halaman rumahnya menjadi sumber penghasilan baru.
Setiap pagi Bejo memanen 52 hingga 54 butir telur. Sebagian ia jual ke tetangga, sebagian ia kirim ke toko.
“Alhamdulillah, hampir setiap hari dapat,” ujarnya.
Di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, Unun Choirul Amin menjalani rutinitas serupa. Dari kandang sederhana di samping rumahnya, ia memanen 40–50 butir telur setiap hari.
“Kalau diuangkan bisa sekitar Rp50 ribu per hari,” katanya. Uang itu ia gunakan untuk kebutuhan rumah tangga, termasuk membayar listrik.
Cerita-cerita kecil seperti ini menggambarkan satu tahun pemerintahan Wahono–Nurul. Ada program yang berjalan. Ada perubahan yang mulai terasa. Namun belum semua warga merasakannya.
Jalan yang Kini Memperlancar Panen
Di Desa Mojo, Kecamatan Kalitidu, pemerintah desa menuntaskan pembangunan jalan rigid beton sepanjang 1.340 meter melalui program BKKD 2025. Jalan yang dulu rusak kini membentang mulus.
Petani tidak lagi memutar jauh atau memperlambat kendaraan karena lubang. Mereka kini lebih mudah mengirim padi, jambu kristal, dan belimbing ke pasar.
“Sekarang arus lalu lintas lancar. Petani tidak lagi terkendala,” kata Sukri, warga setempat.
Bagi desa, jalan yang baik bukan sekadar beton. Jalan itu memangkas ongkos angkut, mempercepat distribusi, dan menjaga kualitas hasil panen.
Produksi Naik, Tantangan Nilai Tambah
Sektor pertanian mencatat lonjakan signifikan. Pada 2025, Bojonegoro menghasilkan 879.685 ton gabah kering giling, naik dari 710.527 ton pada 2024. Kenaikan 23,81 persen ini mengangkat Bojonegoro ke posisi kedua produsen gabah terbesar di Jawa Timur.
Petani memperluas luas panen dari 131.221 hektare menjadi 160.748 hektare. Pemerintah memperbaiki irigasi dan mendukung manajemen air melalui program Petruk Tani.
Namun peningkatan produksi belum otomatis menaikkan pendapatan. Harga jual, biaya pupuk, dan distribusi tetap menentukan kesejahteraan petani.
Fondasi produksi sudah menguat. Nilai tambahnya masih perlu dikejar.
Tahun Pertama dengan Ruang Terbatas
Wahono–Nurul mulai bekerja ketika APBD 2025 sudah ditetapkan. Kondisi ini membatasi ruang perubahan cepat di tahun pertama. APBD Perubahan pun tidak memberi waktu panjang untuk merombak prioritas secara menyeluruh.
Di saat yang sama, proyeksi penurunan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas hingga sekitar Rp1 triliun pada 2026 mempersempit kapasitas fiskal daerah.
Dalam situasi seperti itu, pemerintah harus menentukan prioritas dengan lebih selektif.
Status Janji Kampanye
Selama satu tahun ini, pemerintah telah menjalankan beberapa janji kampanye: SapaBupati, beasiswa, bantuan UMKM, jalan desa rigid, asuransi petani, Petruk Tani, ruang terbuka hijau, pembentukan BRIDA, dan Dana Abadi Daerah.
Program produktif seperti GAYATRI, Kolega, dan Domba Kesejahteraan juga mulai berjalan di sejumlah desa.
RS Tipe A dan Jalan Lingkar Selatan kini memasuki tahap proses dan perencanaan.
Sementara itu, beberapa janji lain belum masuk tahap eksekusi, seperti stadion bertaraf internasional, distribution center, closed-loop economy, sekolah unggulan zonasi, RS tipe B dan C, forum diaspora, serta program IKM Rp1 miliar per desa.
Progresnya beragam. Arah kebijakan tetap berjalan.
| Status | Program |
|---|---|
| Berjalan | Beasiswa, BKKD, GAYATRI, Dana Abadi |
| Proses | RS Tipe A, Jalan Lingkar Selatan |
| Belum | Stadion, DC, Sekolah Unggulan |
Skala dan Dampak
Program GAYATRI membentuk potensi perputaran ekonomi sekitar Rp596 juta per hari di tingkat kabupaten. Namun dengan jumlah penduduk miskin sekitar 144.900 jiwa, cakupan 8.215 KPM belum menjangkau mayoritas keluarga miskin.
Manfaat nyata hadir di tingkat rumah tangga. Dampak luas masih membutuhkan ekspansi.
2026: Akselerasi yang Dinanti
Pada 2026, pemerintah merencanakan penataan Pasar Kota, Alun-alun, dan pembangunan parkir bersama. Proyek ini berpotensi mengubah wajah pusat kota secara visual.
Namun perubahan fisik harus menghadirkan pengalaman yang lebih nyaman dan hidup bagi warga. Anggaran besar tidak otomatis melahirkan dampak besar.
Warga menunggu hasil yang bisa mereka rasakan langsung.
Satu tahun cukup untuk melihat arah, meski belum cukup untuk menilai hasil akhir.
Ayam sudah bertelur setiap pagi. Jalan desa sudah mulus. Sawah menghasilkan lebih banyak gabah. Di sisi lain, ruang fiskal menyempit dan harapan tetap tinggi.
Perjalanan masih berlangsung. Tahun kedua akan menentukan apakah fondasi ini bisa berubah menjadi percepatan yang lebih luas.
Pada akhirnya, publik tidak hanya menilai laporan. Mereka menilai perubahan yang benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis : Syafik






