Rektor IAIN Jogja Asal Bojonegoro; Dulu Angon Wedus Sekarang di Kampus

oleh

Mas Makin, Mas Ilham dan saya, masing-masing hanya terpaut dua tahun. Waktu kecil kami sering main barsama. Kami bertiga sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Gaya Baru Sidorejo, yang terletak di dusun sebelah (Karangjati). Kami tinggal di Dusun Bendo. Biasanya kami naik sepeda onthel ke sekolah. Kadang juga bonceng motor Bapak/Bune saat mereka berangkat mengajar. Tak jarang kami jalan kaki, melewati sawah dan kuburan untuk menyingkat jarak. Saat hujan sepatu ditenteng karena jalan berlumpur. Setiba di sekolah sepatu kembali kami pakai.

Kami bertiga dulu selalu dibawain uang sangu Rp 50. Tapi jarang sekali kami gunakan untuk jajan. Lebih sering uang sangu kami tabung. Hanya buah juwet yang dapat menggoda kami untuk njajan. Pada saat musimnya, penjual buah juwet selalu hadir di depan sekolah. Dengan bungkus plastik buah yang rasanya manis sepet terlihat sangat menarik.

Mas Kin yg paling suka beli juwet, dan ditaruh di saku baju sekolah. Sering sekali warna ungu kehitaman menghiasi baju sekolahnya. Kalau sudah begitu biasanya dimarahin Bune.

Di rumah, dari kecil kami ditradisikan baca buku yang dibelikan Bapak. Kami suka membaca buku-buku, terutama buku cerita. Ada Sinbad si pelaut, Aladin dengan lampu ajaibnya, dan lainnya.

Bapak juga punya banyak koleksi buku kitab kuning. Bapak dulu santri di pesantren di Madiun. Bapak adalah tokoh NU yang terpaksa menjadi AMPI (organisasi sayap Golkar) karena PNS jaman Orba. Sementara kakek kami tokoh masyumi. Banyak bukunya yang bisa kami nikmati waktu kecil. Tentang tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Natsir, dan tokoh kemerdekaan lainnya. Buku Mbah Kung hanya boleh dibaca di rumahnya.

Mas Kin dan Mas Ham suka ngajak main ke sungai atau sawah yang agak jauh dari rumah. Kami biasa keluar rumah diam-dian saat Bapak dan Bune tidur siang seusai mereka pulang mengajar. Bapak dan bune adalah guru Madrasah. Kami selalu disuruh tidur siang seusai sekolah. Namun jika Bapak dan Bune sudah tidur, kami melorot satu per satu dari kasur dan lari ke sawah dan sungai di bawah pimpinan Maskin.

Kami sering main layangan. Bikin petasan. Nyari ikan, burung, belalang, dan bakar singkong. Terkadang juga ikut menggembala kambing (angon wedus) tetangga, karena kami tidak punya kambing. Saat sore/surub, kami harus pulang. Kalau tidak, akan dicari dan Mas Kin yang selalu harus bertanggungjawab sebagai anak tertua.

Selepas maghrib kami mengaji. Di rumah banyak santri yang datang utk mengaji dengan Bapak. Tidak hanya dari desa yang sama, tapi juga datang dari tempat yang jauh. Ratusan santrinya Bapak. Pesantren kecil di rumah dinamai pesantren Al Hikmah. Sementara Bune membina santri perempuan dengan membentuk grup kasidah modern Al Hikmah. Grup kasidah ini termasuk laris pada masanya. Mereka sering diundang di acara pengajian, kawinan, atau hajatan lain. Bapak baiasanya yang ngisi ceramah. Tak hanya di sekitar desa, bahkan juga jauh di luar Bojonegoro.

Baca Juga :   UNICEF Apresiasi Program Kesejahteraan Sosial Anak Integratif di Blora

Bila Bapak yang ceramah, biasanya Mas Kin/ Mas Ham/ saya yang qiraah. Tapi Mas Ham yang paling sering qiraah, karena suaranya paling bagus di antara kami bertiga. Sementara grup santriwati kosidahan. Semua menjadi satu paket berkat manager handal, Bune yang aktivis Muslimat Jonegoro. Selesai acara kami dapat sego berkat dan jajan segambreng, hahaha.

Kami bertiga bersama para santri beruntung diajarin qiraah (seni membaca alqur’an) sejak kecil. Bapak mendatangkan qaari’ juara internasional. Pak Nurul dan Pak Nasir yang kebetulan orang Bojonegoro, untuk datang ke pesantren di rumah sebulan sekali. Saya sering heran ada yang mau datang ke rumah kami. Karena kampung kami lumayan di pelosok. Sekitar 34 KM jaraknya dari kota Bojonegoro. Setelah jalan raya, masih 17 KM dengan jalan rusak untuk sampai di kampung kami. Dan kendaraan umum yang ada hanya angkot (mobil bak yang dikerudungin terpal) jalannya nunggu penumpang penuh. Mayoritas penumpangnya pedagang pasar yang membawa ikan pindang, dan barang dagangan lainnya.

Saat Mas Kin kelas 4, Mas Ham kelas 2 dan saya kelas 1, kami diajak rekreasi ke jakarta. Menggunakan kereta ekonomi bersama rombongan guru.
.
Yàng saya ingat adalah, malamnya kami nggak bisa tidur karena mau naik sepur/kereta. Mbahbu/eyang putri kami nyangoni telur rebus. Sepanjang perjalanan sepur kami seperti lomba buang angin, karena kebanyakan telur rebus, hahaha.

Kami juga pernah diajak ke Borobudur dan ke makam Walisongo. Mas Ham yang tidak ikut pergi minta dibawain jajan setopi pulangnya.

Sejak kecil, Bapak mengenalkan ke kami tokoh-tokoh dunia lewat dongeng sebelum tidur. Mas Kin sebagai anak yang paling gede, biasanya jg diminta mendongeng untuk Mas Ham dan saya. Saya dulu sempat kagum dengan Mas Kin yg saya kira menguasai bahasa Inggris dengan fasih dengan menyebut nama-nama pemain bola dunia. Namun belakangan saya ketahui ternyata itu semua ngawur, hahaha.

Sayang kami bisa bersama serumah hanya sampai lulus madrasah. Karena sejak masuk Tsanawiyah ( smp) kami sudah dikirim ke pesantren salafi. Dan Mas Kin selalu jadi model utk kami kedua adiknya. Saat Tsanawiyah, maskin sekolah di tsanawiyah 1 Bojonegoro sambil mondok di Al Haris. Kami mengekor. Saat lulus Tsanawiyah, maskin masuk Mapk Jember Begitu kuga Mas Ham. Sementara saya di Aliyah Denanyar Jombang.

Karena Mas Kin kuliah di IAIN, Bapak minta saya dan mas Ham utk kuliah di IAIN Mas Ham pun kuliah di IAIN Jakarta. Saya sempat daftar di IAIN Yogya tapi tidak diterima karena saya sengaja tidak mengisi jawaban saat tes masuk. Keinginan saya waktu itu hanya kuliah di perguruan tinggi umum Fakultas Hukum.

Baca Juga :   Bupati Bojonegoro Berharap Dinkes Gencar Tangani Angka Kematian Ibu dan Bayi

Kagum saya pada Mas Kin makin memuncak saat dia belajar bahasa Inggris hanya dengan kaset. Karena untuk kursus, sangunya tidak cukup. Kesungguhannya belajar bahasa Inggris kemudian membawanya mengambil magister di McGill Canada dan P.hd di Jerman. Saat ikut sidang PBB, saya pernah ditengok Mas Kin di Geneva tahun 2006. Saat itu maskin kuliah di Jerman. Saat di Geneva, maskin bilang ke saya: “Nis, kalau disini jangan makan nasi. Makanlah makanan sini. Lidah kita harus mendunia. Jangan jadi orang bendo terus”, sambil tertawa dengan menyebut orang-orang Bendo yang lucu. Saat itu saya makan nasi di restauran Asia Boky, yang tak jauh dari Gare Cornavin yg menjadi langganan teman-teman NGO saat di Geneva.

Saat Maskin fellowship di NUS beberapa tahun lalu, dia sering kirim pesan. Nis, aku sering ketemu buruh migran, kalau ada yang bisa kubantu, kabarin ya. Begitupun saat dia lagi perjalanan di luar negeri, pernah suatu saat di bandara Dubai, Maskin memandu puluhan buruh migran yang bingung mencari gate saat mau pulang ke Indonesia. Katanya dalam pesan singkat, PR mu masih banyak Nis.

Teringat saat dia dilantik jadi Guru Besar dua tahun lalu, kami mrebes mili mengingat Bapak dan Bune yang sudah tiada. Bapak dan Bune pasti bangga. Dulu Bapak selalu mengatakan bahwa kami harus sekolah setinggi-tingginya, dan jangan mengejar jabatan dan uang. Pesannya kami harus bisa berbuat yang bermanfaat bagi orang banyak. Nasihat bapak itu merasuk ke jiwa kami.

Jumat dua pekan lalu, 10 Juli, jam 9 pagi maskin menelpon saya. “Nis, aku udah di jakarta. Siang ini insyallah aku dilantik. Kamu dan Ham ke sini kalau aku udah dilantik aja ya!” Saya ndredek dan nangis saat itu. Bapak dan Bune seolah melintas dan bungah.

Saya juga ikut mbrebes mili lagi, dengan terisak dan terbata, sesuai pelantikan Maskin cerita: Nis, ini berkat doa orang-orang lemah dan minoritas yang selama ini kubela dengan hati: Gafatar, Ahmadiyah, aliran kepercayaan, dll, para Romo juga banyak yang kirim doa.

Selamat Mas Kin, tetaplah menulis, setia membela yang lemah dan minoritas. Melajulah dengan hati dan jiwa yang bersih. Bapak dan Bune pasti bungah melihat Mas Kin dari sana.

Selamat bekerja PakDe Rektor

Anis Hidayah (Nis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *