Rajekwesi International Stadium (RIS),Mimpikah?

oleh
oleh
(Para Pemain Persibo Bersorak Gembira dengan memegang Trophy Juara 1 Liga 3 PSSI Jawa Timur. Stadion H. Letjen Sudirman, Selasa 6-2--2024. Foto : Ersya)

Damarinfo.com – Hari ini Selasa 6-Februari-2024, Persatuan Sepak Bola Indonesia Bojonegoro (Persibo) mengukir prestasi dengan menjuarai Liga 3 Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) Jawa Timur. Persibo harus menunggu 12 tahun untuk kembali memegang trofi sebuah pertandingan, meski baru level Jawa Timur.

Juara 1 Liga 3 PSSI Jatim ini diraih dengan penuh perjuangan oleh para pemain persibo, lewat drama pinalti dan gol bunuh diri pemain Persatuan Sepak Bola Kabupaten Kediri (Persedikab). Persibo pun menang 2-0 dari Persedikab.

Seluruh bagian tribun baik ekonomi maupun VIP terisi penuh, bahkan para pendukung (Supporter) Persibo rela berdiri di belakan pagar pembatas karena tak kebagian tempat duduk. Supporter pun tetap anteng ditempat duduknya meski hujan deras mengguyur, gebukan drum dari para supporter tak henti menggelora di stadion H. Letjend Sudirman yang berkapasitas 15 ribu penonton tersebut.

Begitulah sepak bola, mampu menarik puluhan ribu orang untuk datang menyaksikan kesebelasannya bermain. Begitulah sepak bola mampu menggerakan ekonomi masyarakat dengan menjajakan lumpia, tahu petis dan juga es teh, kopi dan macam-macam minuman lainnya. Begitulah sepak bola mampu membuat kamar-kamar hotel di Bojonegoro terisi. Begitulah Sepak Bola mampu membuat warung-warung kuliner di Bojonegoro mendapatkan banyak pelanggan dari luar Bojonegoro.

(Persibo Bojonegoro Melawan Persedikab Kediri, Stadion H. Letjend Sudirman Bojonegoro, Selasa 6-2-2024. Foto: Ersya)

Bisa dibayangkan jika  kejuaran dan pertandingan berskala nasional atau internasional dilaksanakan di Bojonegoro,Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bakal semakin bergeliat, hotel-hotel di Bojonegoro bakal penuh, kuliner bakal meningkat penjualannya. Pasalnya pertandingan atau kejuaraan-kejuaraan olah raga bakal mendatangkan orang-orang dari luar Bojonegoro untuk datang ke Bojonegoro. Semakin banyak yang datang maka semakin banyak peluang geliat perekonomian Bojonegoro yang artinya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bojonegoro.

Baca Juga :   Moch. Fahrudin Ditunjuk sebagai Pelatih Persibo

Bojonegoro tidak bisa “memaksakan diri” seperti Jogjakarta dengan pariwisatanya, atau Kota Batu, atau Kabupaten Banyuwangi untuk mengundang wisatawan baik domestik maupun mancanegera untuk datang ke Bojonegoro. Namun dengan event-event olah raga dengan skala yang lebih besar bakal mampu mendatangkan orang-orang dari luar daerah datang ke Bojonegoro.

Untuk itu perlu sarana dan prasarana olah raga yang memenuhi standart nasional atau kalau perlu standart internasional. Bayangkan jika Piala Dunia U-17 digelar di Bojonegoro, betapa perekonomian Bojonegoro bakal semakin meningkat.

Kota Solo saja bisa, Bojonegoro pasti juga lebih bisa!!

Alasannya sangat masuk akal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro sangat besar, sehingga cukup untuk membangun Stadion sekelas stadion manahan solo, atau Stadion Gelora Bung Tomo, atau bahkan untuk sekelas Jakarta international Stadium. APBD Bojonegoro Rp. 8,5 triliun itupun sisa nya lebih dari Rp. 3,5 triliun.

Sisa anggaran itu lebih dari cukup untuk membangun stadion berstandart Federation Internationale de Football Association (FIFA). Sebut saja Stadion Jalak Harupat di Bandung, pada tahun 2003 dibangun dengan biaya hanya Rp. 67,5 miliar, jika dihitung dengan inflasi tahun 2023 biayaanya hanya Rp.199 miliar(https://www.ayobandung.com/bandung-raya/7911015647/dibangun-dengan-biaya-rp675-miliar-stadion-ini-masuk-standar-fifa-dan-jadi-arena-piala-dunia).

Baca Juga :   Persibo Bojonegoro Mengajukan PK, Bagaimana Aturanya?

Atau kita lihat saat ini di Jawa Barat yakni Stadion Wibawa Mukti di Bekasi sedang dibangun stadion yang berstandart FIFA dengan biaya Rp. 530 miliar. (https://www.innalar.com/regional/3679565577/habiskan-dana-530-miliar-stadion-mewah-di-jawa-barat-ini-masuk-standar-fifa-hanya-dengan-kapasitas-30000)

Bahkan jika mengacu pada pernyataan dari Presiden Direktur sekaligus Stadium Safety and Security Unitri Cipta, Timmy Setiawan yang menyatakan pembangunan stadion standart FIFA dibutuhkan biaya sekitar Rp. 1,5 triliun, uang sisa anggaran itupun masih lebih dari cukup. (https://validnews.id/nasional/bangun-stadion-standar-fifa-perlu-dana-triliunan)

(Ilustrasi Rajekwesi International Stadium, By canva)

Jika kurang lengkap, coba kita lihat biaya pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) di jakarta, yakni Rp. 4,5 triliun, cukup dua tahun anggaran, pembangunan stadion sekelas JIS bakal terwujud di Bojonegoro.

Selain bakal menggerakan perekonomian masyarakat, menambah pemasukan daerah dan meningkatkan perekonomian masyarakat Bojonegoro juga bakal menjadi kebanggaan masyarakat Bojonegoro yang selama ini belum ada satu ikon pun yang dapat dibanggakan.

Selain itu bakal semakin meningkatkan semangat para tunas-tunas muda atlit Bojonegoro untuk membangun masa depan mereka di dunia olah raga.

Jika terwujud pembangunan stadion skala internasional tersebut, nama Rajekwesi International Stadium (RIS) tampaknya tepat, sebagai bagian dari sejarah Bojonegoro.

Rajekwesi International Stadium (RIS), mimpikah? Jawabannya Tidak!!

Semua tergantung kepada para pejabat di Bojonegoro, baik Bupati maupun anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro sebagai ikhtiar untuk membangun masa depan Bojonegoro yang lebih sejahtera.

Penulis : Syafik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *