Qatadah bin Di’amah Mufassir Tuna Netra dari Golongan Tabi’in

oleh
oleh
(ilustrasi)

Damarinfo.com – Qatadah bin Di’amah as-Sadusi, Abu al-Khattab, (bahasa Arab: ‏قتادة بن دعامة السدوسي، أبو الخطاب; Qatādah bin Diʿāmah as-Sadūsī, Abūʾl-Khaṭṭāb) adalah seorang perawi hadis golongan tabi’in.

Qatadah bin Di’amah  berasal dari suku Al-Sadus, bagian dari Bani Syaiban yaitu suku Arab bagian utara. Ia merupakan seorang yang tuna netra dan mengandalkan kekuatan memorinya. Qatadah adalah seorang tuna netra sejak terlahir dari rahim sang ibu. Namun sungguh pun demikian keadaan tersebut bukanlah penghambat perjuangannya menuntut ilmu hingga akhirnya menjadi ulama tafsir terkemuka. Dan sungguh ajaib kekuatan memorinya.

“Aku tidak menyangka Allah azza wajalla menciptakan manusia dengan kekuatan hafalan sepertimu,” tukas Sa’id bin Musayyib rahimahullah. Sampai sedemikian halnya kekaguman seorang penghulu ulama tabi’in, Sa’id bin Musayyib terhadap hafalan muridnya ini. Bisa kita bayangkan, ulama sekelas Sa’id bin Musayyib rahimahullah saja begitu kagum setelah mengetahui kekuatan hafalannya.

Sebagai seorang pemuda, Qatadah tertarik pada ilmu pengetahuan Islam dan mulai belajar di bawah bimbingan beberapa ulama terkenal pada zamannya, termasuk Ibn Abbas, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang terkenal sebagai ahli tafsir Al-Quran. Qatadah kemudian menjadi murid dari Ibn Abbas selama beberapa tahun dan mendapatkan pengakuan sebagai seorang ahli tafsir yang handal.

Baca Juga :   Hasan Al- Basri Ulama Tabi’in Lahir dari Seorang Budak

Qatadah dikenal sebagai seorang yang sangat rajin dalam menuntut ilmu dan sangat tekun dalam menyampaikan pengetahuannya kepada orang lain. Ia banyak menulis buku-buku dan risalah-risalah ilmiah mengenai tafsir Al-Quran, serta menjadi salah satu tokoh penting dalam dunia intelektual dan akademik pada zamannya.

Ulama ini pernah menimba ilmu dari sekian shahabat seperti Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Sarjis radhiyallahu ‘anhu, Handzalah Al Katib radhiyallahu ‘anhu, Abu Thufail Al Kinani radhiyallahu ‘anhu, Anas bin An Nadhr radhiyallahu ‘anhu, dan selainnya.

Baca Juga :   Imam Bukhori, Ahli Hadis yang Mahir Memanah

Di samping itu, Qatadah pun pernah meriwayatkan dari ulama-ulama besar tabiin yang sezaman dengannya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam Al Bidayah Wan Nihayah bahwa Qatadah meriwayatkan dari Anas bin Malik dan sekelompok ulama tabiin seperti Said bin Al Musayyib, Abul Aliyah, Zurarah bin Aufa, Atha, Muhammad bin Sirin, Masruq, Al Hasan Al Bashri dan yang lainnya. Untuk nama yang terakhir bahkan Qotadah pernah berguru kepadanya selama dua belas tahun lamanya.

Imam Qatadah meninggal pada tahun 117 H dalam usia 57 tahun di Wasith karena penyakit tha’un dan dimakamkan di kota tersebut.

Editor: Syafik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *