Produksi Minyak Mentah di Sumur Tua Wonocolo Naik

oleh
Pelaksana tugas Direktur PT BBS M. Ali Imron.Foto/Rozikin

Bojonegoro – Produksi minyak mentah di sumur tua Kecamatan Kedewan Bojonegoro di tahun 2019 naik dibanding tahung 2018. Hal itu seiring tidak ada penambang yang menjual produksinya ke sejumlah Koperasi Unit Desa (KUD) di kawasan Wonocolo.

Selama ini sumur minyak tua di lima Desa, Kecamatan Kedewan dikelola oleh PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS)—salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro. Data di perusahaan itu menyebutkan, produksi minyak mentah tahun 2019 sebanyak 79.567,27 barel atau 12.650.165,55 liter dan rata – rata produksi 2019 sebanyak 235.73 barrel oil per day (BOPD) = barel minyak per hari (BMPH). Jumlah itu meningkat jika dibandingkan dengan pengiriman di tahun 2018 sebanyak 4.648.641,92 liter atau 29.239,09 barel dan rata – rata pengiriman 79,9 BOPD.

Baca Juga :   Jumlah Spesimen Rapid Test di Blora Capai 2.260 Orang

Pelaksana tugas Direktur PT BBS M. Ali Imron mengatakan, di tahun 2020 ini terus berupaya meningkatkan produksi dengan cara reaktifasi dan well service sumur yang mengalami trouble. Kemudian treatment produksi ditingkatkan dan sosialisasi kepada penambang. Yaitu setiap hasil produksi sumut tua yang diterima PT BBS terdapat hak dari penambang dan masyarakat dalam bentuk BPJS Ketengakaerjaan. Juga pemberian APD, bagi penambang yang mengirim melalui PT BBS, penyaluran dana Desa.

“Dalam pendistribusian kita koordinasi dengan camat dan kepala desa, termasuk pengelolaan lingkungan yang saat ini terus kita tingkatkan, dan program penanam 1000 pohon” ujarnya pada damarinfo.com, Selasa, 14-1-2020.

Baca Juga :   Tujuh dari 16 Kecamatan di Blora Berstatus Zona Merah

Ali Imron melanjutkan, untuk target produksi dievaluasi setiap tiga bulan sekali. Itu karena pengelolaan sumur tua menggunakan peralatan tradisional dan tidak ada data seismik. Sementara kendala produksi saat ini adalah adanya beberapa sumur yang trouble dan berhenti produksi. Padahal saat ini terdapat kegiatan penyulingan di lapangan, sehingga mengurangi produksi yang seharusnya semua bisa dikirim ke PT Pertamina. Sementara untuk ongkos angkat angkut nett penambang Rp. 3215.45 dan berubah setiap bulan sesuai harga minyak dunia.

“Dengan capaian produksi 2019 ini kami sangat bersyukur Alhamdulillah, semoga ke depan PT BBS bisa terus memberikan yang terbaik dan lebih produktif,” pungkasnya.

Penulis : Rozikin
Editor : Sujatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *