Panen Sayuran di Lahan Hidroponik SMPN1 Padangan Yuk

oleh
Kepala Sekolah SMPN1 Padangan, Rasmadi dan para guru-guru yang tengah panen, pelbagai jenis sayuran di lahan hiroponik di pekarangan sekolah.Foto/dok.Humas SMPN1 Padangan

Bojonegoro-pelbagai jenis sayuran tumbuh di lahan hidroponik di antara bangunan kelas Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Padangan, Bojonegoro yang jembar.

Para guru di sekolah kategori Adiwiyata Provinsi  Jawa Timur dan kini tengah merintis ke Adiwiyata tingkat nasional itu, kini tengah semangat berkebun di lahan area sekolahan yang terbatas.

Berkebun dengan system hidroponik mulai diterapkan empat bulan silam. Ide dan gagasan ini atas dorongan Kepala Sekolah SMPN1 Padangan, Rasmadi yang telah menjabat lebih kurang satu tahun silam. Memanfaatkan lahan sekitar 12x 1,2 meterpersegi, dan biaya Rp 2 juta, nyatanya berkebun dengan model hidroponik ini, bisa jalan.

Jenis sayuran yang ditanam, di antaranya selada merah, hijau, dan sawi grandlivina, mulai menghasilkan. Bahkan, tiap 40 hari sekali sudah bisa panen. Setidaknya sekali panen menghasilkan 350 pot kali (satu pot Rp 3000) atau sekitar Rp 1.050.000 sekali panen.”Jadi, sudah menghasilkan beberapa jenis sayuran segar,” ujar Siti Nurhayati, guru matematika SMPN1 Padangan, yang juga aktif mengurus tanaman di lahan hidroponik.

Baca Juga :   Sentra Cabai di Jawa Timur di mana ya? Kabupaten Tuban Salah Satunya
Program Seribu Anggrek di lahan SMPN1 Padangan, yang kini jadi unggulan kategori Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Timur. Program ini juga sering dijadikan studi banding dari beberapa sekolah.Foto/dok. Humas SMPN1 Padangan

Bu Yeti, demikian dipanggil, menyebut, sejumlah guru ikut mengurus lahan sayuran hidroponik. Tim guru yaitu Agustina S, Tri Cahyono Budi S, Nurul, Anis Nur, Kristina, Sri Suharti, Sri Suhartati, Novi dan Anugeraini. Tim guru ini mendapat tanggung jawa tambahan mengurus kebun sempit di lahan hidroponik. Sebagai catatan, selama membuat lahan hidroponik, hingga kini telah panen sayuran sebanyak tiga kali.

Selain itu, para guru di SMPN1 Padangan, juga membuat lahan anggrek dengan luas 8×6 meterpersegi. Areanya didesain seperti green house pembibitan. Tanaman anggrek yang sudah berdaun 3 per 4 dipindah di depan kelas masing-masing. Selanjutnya tanaman digantung sebanyak 15 dan untuk gesang. Kegiatan berkebun ini, melaksanakan ‘Program Seribu Anggrek’. Lahan anggrek ini jadi penglengkap di sekolahan berkategori Adiwiyata Provinsi Jawa Timur ini.

Baca Juga :   Perpustakaan dan Laboratorium SMP di  Bojonegoro 60 Persen lebih Kondisinya Rusak.

Menurut Bu Yeti, program penanaman 1000 anggrek di SMPN1 Padangan, ini mendapat apresiasi positif dari pelbagai fihak. Bahkan, sejumlah guru-guru dari sekolah-sekolah berkunjung dan studi banding. Para guru ini ikut belajar bagaimana cara menanam anggrek yang tepat berikut dilahan sempit, terutama di perkotaan.”Jadi, oleh Kepala Sekolah kami (Rasmadi), menyilahkan warga dan juga instansi jika ingin belajar tanam sayur di lahan hidroponik dan tanam anggrek,” imbuhnya.
Penulis : Sujatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *