Oklik, dari Alat Ritual Menjadi Alat Kesenian

oleh
oleh
(Foto Kesenian Oklik. sumber : http://kikomunal-indonesia.dgip.go.id/jenis/1/ekspresi-budaya-tradisional/29684/oklik)

Bojonegoro,damarinfo.com – Kesenian Oklik secara resmi telah tercatat di Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM dengan nomor EBT35202200234. Oklik dikategorikan Jenis Ekspresi Budaya Tradisional Teater, Sandiwara Rakyat.

Dari laman Dirjen HAKI Kemenkumham (http://kikomunal-indonesia.dgip.go.id/jenis/1/ekspresi-budaya-tradisional/29684/oklik) disebutkan

Kesenian oklik dulunya lahir, tumbuh, dan berkembang di Desa  Sobontoro Kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro. Masyarakat desa Sobontoro dulunya mengalami masa kesusahan. Berbagai gejolak perang dimana-mana sehingga timbul rasa keresahan oleh masyarakat desa Sobontoro.

Kesenian Oklik ini bermula karena terjadi pagebluk di Desa Sobontoro. Adanya pagebluk di desa Sobontoro menyebabkan masyarakat kian resah dan kesusahan. Musibah atau pagebluk yang menimpa masyarakat desa Sobontoro diantaranya wabah penyakit (banyak orang meninggal) dan adanya perampokan maupun pencurian yang merajalela. Sehingga menyebabkan masyarakat tidak memiliki keberanian untuk keluar rumah.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat untuk menanggulangi pagebluk yang terjadi. Upaya ritual dilakukan oleh masyarakat desa Sobontoro dalam mengusir pagebluk. Salah satu tokoh masyarakat melakukan meditasi untuk mencari srono (obat) dalam pagebluk ini.

Baca Juga :   Kesenian Barongan yang Menarik di Event Pakudjembara

Selama melakukan meditasi, beliau mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga beliau menghimbau masyarakat untuk membunyikan bunyi-bunyian yang didapatkan dari bambu dengan dimainkan berkeliling desa.

Selain itu, pada pagi harinya warga dihimbau untuk menebangi semak belukar. Warga di desa tersebut juga wajib membuat ting (lampu teplok) di masing-masing rumah.

Seiring berjalannya waktu, wabah penyakit maupun pagebluk itu mulai berkurang. Namun, kesenian oklik juga digunakan dalam pemersatu masyarakat Desa Sobontoro untuk berkumpul dan bercengkerama.

Kesenian pertunjukan oklik dipertunjukkan dalam acara-acara desa baik formal maupun non-formal. Acara yang sering mempertunjukkan kesenian oklik adalah ketika masyarakat desa Sobontoro melaksanakan pesta panen. Setiap musim panen, masyarakat desa Sobontoro mengadakan pesta panen dengan pertunjukan oklik di dalamnya. Pertunjukan oklik digunakan sebagai hiburan yang merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang didapatkan dan diberikan oleh Tuhan. Selain itu, kesenian oklik memberikan rasa persatuan dan kebersamaan tiap masyarakat serta perilaku saling tolong menolong.

Baca Juga :   Pelukis "perEMPUan”  Gelar Pameran di Bojonegoro

Pertunjukan oklik juga menyajikan dagelan (lawak) di dalamnya. Dagelan yang hampir mirip dengan kesenian ludruk ini menyajikan lelucon atau lawakan sehingga membuat masyarakat tertawa dan merasa terhibur. Lagu-lagu atau syair kesenian oklik juga memiliki makna tersendiri. Syair yang dilantunkan tersebut juga berfungsi untuk mengusir roh jahat serta penyakit yang menyerang.

Kesenian oklik juga dipertunjukkan pada acara sedekah bumi di desa Sobontoro yang disebut masyarakat sekitar sebagai nyadran. Acara ini dilakukan di sumur desa. Saat acara nyadran kesenian oklik dijadikan sebagai hiburan semata. Karena sifatnya menghibur, kesenian oklik pada acara ini tidak mengandung ritual tertentu.

Penulis : Syafik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *