Munir, Pejuang HAM yang Dihilangkan. Begini Sosoknya.

oleh
(Cover Buku Putih "Bunuh Munir)

Damarinfo.com –  10 Desember disepakati oleh dunia sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAK), termasuk di Indonesia. Salah satu tokoh pejuang HAM di Indonesia adalah Munir.

Lalu Siapakah Munir?

Nama lengkapnya adalah Munir Said Thalib, sosok Munir mulai hadir ketika negeri ini diguncangkan oleh sejumlah kasus orang hilang pasca peristiwa 27 Juli 1996 dan Pemilu 1997. Ia tampil untuk membela hak-hak orang yang dihilangkan dengan paksa. Nyalinya sungguh besar. Ia berani berkonfrontasi langsung dengan militer. Dominasi dan kekejaman Tentara Nasional Indonesia ini memang sudah tersohor sebagai lembaga yang kerap menggunakan kekerasan (baca: menghilangkan orang) supaya tidak bersuara.

Pria keturunan Arab ini lahir di Malang, pada hari Rabu, 8 Desember 1965. Gelar sarjana hukumnya diraih di Universitas Brawijaya (Malang) tahun 1989. Ia sudah lama berkecimpung dalam dunia advokasi sebelum menggebrak dengan KontraS-nya.

Baca Juga :   Aliansi Bojonegoro Menggugat Ajak Lawan Rezim Pelanggar HAM

Munir memulai karirnya sebagai volunteer di LBH Malang, pada 1989. Ia lalu memutuskan beraktivitas secara total di LBH. Sempat ke LBH Surabaya, pada tahun 1995, ia mendapat promosi untuk menduduki jabatan Direktur LBH Semarang selama tiga bulan., Hingga akhlrnya ia ditarik ke YLBHI, Jakarta, untuk merangkap tugas sebagai Koordinator KontraS pada tahun 1998.

Karena sepak terjangnya itu majalah Asia Week mencantumkannya sebagai salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru. Ia juga mendapat Yap Thiam Hien Award dari Yayasan Pusat HAM dan penghargaan dari UNESCO (Badan PBB untuk Ilmu Pengetahuan, Pendidikan dan Kebudayaan) karena dinilai berjasa memperjuangkan HAM di Indonesia.

Baca Juga :   Aliansi Bojonegoro Menggugat Ajak Lawan Rezim Pelanggar HAM

Munir akhirnya harus lengser dari KontraS. Lantas Munir mendirikan lembaga HAM sejenis bernama Indonesian Human Rights Monitor alias Imparsial. Dalam tahun 2004, Munir banyak bicara soal RUU TNI yang tengah digodok DPR dan pemerintah. Sembari menyorotinya, Munir mempersiapkan keberangkatannya untuk melanjutkan studi 5-2 bidang Hukum Humaniter di Universitas Utrecht, Belanda.Senin malam 6 September 2004 Munir terbang ke Negeri Kincir Angin untuk mengejar cita-citanya. Tapi tiga jam sebelum mendarat di Bandara Schippol, Amsterdam, atau Selasa 7 September 2004, Munir meninggal dunia di dalam pesawat Garuda. Tewasnya Munir meninggalkan kontroversi. Ia disebut-sebut dibunuh oleh pihak tertentu.

Editor :Syafik

Sumber : Buku “100 Tokoh yang Mengubah Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *