Muktamar yang Mencerahkan

oleh

Oleh : M. Yazid Mar’i : Ketua Majlis Pendidikan Kader PDM Bojonegoro Pereode 2015-2021

Tema Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke 48 yang digelar di Solo, keduanya memiliki harapan besar tentang cerahnya semesta dan cerahnya bangsa Indonesia. Tepatnya “Memajukan Indonesia Mencerahkan Semesta” Untuk  tema Muhammadiyah, dan “Perempuan Berkemajuan Mencerahkan Peradaban Bangsa” untuk tema Aisyiyah.

Istilah mencerahkan ini mengingatkan kita saat Nabi Muhammad SAW memberikan nama kota Yastrib, kota tujuan hijrah kaum Muhajirin, setelah 10 tahun berselang dengan nama “Madinah Al Munawarah”. Al-Madînah secara umum diartikan sebagai kota, tetapi sebetulnya al-Madînah itu mengandung makna peradaban, karena dalam bahasa Arab, peradaban itu adalah madanîyah atau tamaddun.

Dalam bahasa Arab, kata ” Madinah” juga sepadan perkataan Inggris civil. Misalnya, dalam bahasa Inggris ada istilah Civil Act (Undang-Undang Sipil), dalam bahasa Arabnya disebut Al Qânûn Al Madanî.

Dalam Ensiklopedia Nurcholish Madjid dijelaskan kata Madanîyah atau Madînah juga menjadi padanan dari perkataan Yunani polish, yang dari perkataan itu terambil perkataan politic, policy, police, dan sebagainya, yaitu ide tentang suatu kehidupan yang teratur.

Dalam bahasa Yunani, misalnya, ada ungkapan zoon politicon, bahwa manusia itu secara alami berpolitik. Dalam bahasa Arab disebut al-insân-u madanî-yun bi ‘l-thâb‘i (manusia itu berpolitik menurut nalurinya) bahwa tidak mungkin manusia tidak berpolitik dalam arti seluas-luasnya, bukan dalam arti sempit.

Baca Juga :   RS.Aisyiyah Bojonegoro Buka Klinik Program Kehamilan dan Inseminasi Buatan

Perkataan madînah itu berkaitan dengan ide-ide semacam civility, civic, dan kemudian juga ide tentang politik. Kalau Nabi mengubah kota Yatsrib menjadi Madinah yang sering dipanjangkan menjadi Madînatun Nabî, maka itu artinya kota Nabi atau al-Madinah al-Nabawîyah, Kota Kenabian. Juga bisa diartikan dengan “Kota yang penuh peradaban”.

Mengapa peradapan, beradab menjadi ikon? Keduanya adalah bisa disebut sebagai hakekat penciptaan manusia sebagai mahluk berperadaban, mahluk yang cendrung kepada sesuatu yang baik, damai, dan cinta kasih. Sebagaimana disebut oleh Al Qur’an dengan ” Hanif” (QS. Ar Rumah 30), yang artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Tentu bisa dimaknai bahwa tema mencerahkan “Al munawwarah” adalah keinginan besar Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa yang lahir dan hidup berkembang di Indonesia memiliki keharusan moral untuk menjaga dan merawat Indonesia tetap “Al Madinah” Penuh peradaban. Dan peradaban yang diinginkan oleh Muhammadiyah adalah perdaban yang “Al Munawarah’, yang mencerahkan, dan tidak hanya bagi Indonesia, melainkan bagi dunia. Mengapa? Karena dalam era digitalisasi tentu negara tidak bisa menutup diri melainkan menjadi bagian dari dunia ” Global”.

Baca Juga :   Jalan Tulus Muhammadiyah

Maka apa yang dilakukan Muhammadiyah dengan mendirikan Perguruan Tinggi di Korea Selatan dan Australia, serta berdiri dan berkembangnya Cabang istimewa di luar negeri; Mesir, RRC, Korea Selatan, Jepang, Australia,  Iran, Sudan, Belanda, Jerman, inggris, Libiya, Perancis, Kuala Lumpur, Pakistan, dan Amerika, adalah realitas yang tak terbantahkan betapa Muhammadiyah berharap kehidupan dunia ini cerah dan mencerahkan. Dan mengapa konsentrasinya kepada pendidikan? Karenanya Muhammadiyah yakin hanya dengan pendidikan dapat merubah “min side”, dan dari perubahan min side inilah, seseoran, sekelompok orang, bangsa, bahkan dunia dapat berubah ” Pada sesuatu yang mencerahkan”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *