damarinifo.com – Bojonegoro saat ini memasuki fase demografi produktif yang matang. Dari sekitar 1,36 juta penduduk, sebanyak 862.083 orang berada pada rentang usia 15–59 tahun. Artinya, sekitar 63 persen warga berada dalam usia kerja aktif.
Komposisi usianya pun menunjukkan pola yang jelas. Kelompok usia 40–44 tahun menjadi yang terbesar dengan lebih dari 104 ribu orang. Setelah itu, kelompok 45–49 tahun menyusul dengan sekitar 101 ribu orang. Kelompok 25–29 tahun serta 50–54 tahun masing-masing mendekati 97 ribu orang, sementara 30–34 tahun dan 20–24 tahun berada di kisaran 93 ribu orang.
Jika dilihat dari klasifikasi generasi, peta demografi Bojonegoro terlihat sebagai berikut:
Komposisi Generasi Bojonegoro (Usia 15–59 Tahun)
| Generasi | Rentang Usia 2025 | Perkiraan Jumlah | Persentase dari Usia Produktif |
|---|---|---|---|
| Gen Z | 15–28 tahun | 266.257 | 30,9% |
| Milenial | 29–44 tahun | 306.780 | 35,6% |
| Gen X | 45–59 tahun | 289.046 | 33,5% |
| Total | 15–59 tahun | 862.083 | 100% |
Data ini menegaskan bahwa Milenial dan Gen X mendominasi struktur usia produktif. Dengan kata lain, Bojonegoro tidak lagi didominasi usia sangat muda, melainkan usia kerja mapan yang menuntut stabilitas dan peningkatan pendapatan.
Stabil Secara Kuantitas, Rentan Secara Kualitas
Secara kuantitatif, kondisi ketenagakerjaan terlihat stabil. Angkatan kerja mencapai lebih dari 843 ribu orang, dengan tingkat partisipasi 78,61 persen. Tingkat pengangguran terbuka pun hanya 3,90 persen.
Namun demikian, stabilitas angka pengangguran tidak otomatis mencerminkan kualitas kerja. Sebanyak 69,35 persen pekerja di Bojonegoro berada di sektor informal. Artinya, hampir tujuh dari sepuluh orang bekerja tanpa hubungan kerja formal, tanpa kepastian kontrak, dan tanpa perlindungan sosial memadai.
Dengan komposisi usia yang didominasi Milenial dan Gen X, kondisi ini menjadi relevan untuk dievaluasi. Kelompok usia matang biasanya membutuhkan pendapatan stabil, jaminan sosial, dan akses pembiayaan yang lebih kuat. Sementara itu, sektor informal umumnya menawarkan skala usaha kecil dan pendapatan yang fluktuatif.
Informalitas dan Produktivitas
Tingginya informalitas menunjukkan struktur ekonomi yang masih bertumpu pada usaha mikro dan pekerjaan mandiri. Situasi ini membuat produktivitas per pekerja cenderung rendah. Selain itu, akumulasi modal sulit berkembang karena skala usaha terbatas.
Di satu sisi, masyarakat tetap bekerja dan berusaha. Akan tetapi, di sisi lain, nilai tambah yang dihasilkan belum optimal. Akibatnya, peningkatan kesejahteraan berlangsung lambat meskipun pengangguran rendah.
Dengan demikian, tantangan Bojonegoro hari ini bukan lagi sekadar membuka lapangan kerja baru. Tantangan yang lebih mendesak adalah meningkatkan kualitas dan formalitas pekerjaan yang sudah ada.
Arah Pembangunan dan Agenda Produktivitas
APBD 2026 mengalokasikan sekitar Rp 42,89 miliar untuk urusan tenaga kerja. Pada saat yang sama, belanja modal untuk jalan, jaringan, irigasi, serta gedung dan bangunan secara kumulatif melampaui Rp 800 miliar.
Komposisi ini menunjukkan bahwa pembangunan fisik tetap menjadi prioritas utama. Infrastruktur tentu penting untuk konektivitas dan pertumbuhan wilayah. Namun, ketika 63 persen penduduk berada pada usia produktif dan 69 persen pekerja masih berada di sektor informal, orientasi kebijakan patut dibaca secara lebih mendalam.
Jika struktur demografi menunjukkan kebutuhan peningkatan kualitas kerja, maka struktur pembangunan seharusnya juga mencerminkan upaya memperkuat produktivitas tenaga kerja. Karena itu, menjadi relevan untuk menilai sejauh mana kebijakan daerah mendorong formalitas usaha, peningkatan nilai tambah, dan stabilitas pendapatan pekerja.
Membaca Ulang Prioritas
Bojonegoro memiliki tenaga kerja yang besar dan aktif. Akan tetapi, mayoritas tenaga kerja tersebut masih bergerak dalam sektor informal. Kondisi ini membuka ruang refleksi tentang arah pembangunan yang ditempuh.
Apakah pembangunan ruang sudah berjalan seiring dengan pembangunan kemampuan?
Apakah peningkatan kualitas kerja sudah menjadi agenda utama, atau masih menjadi agenda pelengkap?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan sebagai tudingan. Sebaliknya, pertanyaan tersebut menjadi bagian dari evaluasi bersama atas fase demografi produktif yang sedang dijalani Bojonegoro.
Karena pada akhirnya, kualitas kerja dan produktivitas tenaga kerja akan menentukan daya tahan ekonomi daerah—lebih dari sekadar rendahnya angka pengangguran.
Penulis : Syafik
Sumber data : data.bojonegorokab.go.id, Berita Resmi Statistik No. 21/11/3522/Th. V, 14 November 2025, BPS Bojonegoro






