Mentjari Indonesia
Seloek Beloek Pasar

oleh
oleh
(Pasar Besar Solo, Jalan Urip Sumoharjo Solo, Sekitar Tahun 1900, Sumber : Buku “Kota Djwa Tempo Doeloe”Pengarang Olivier Johan Rap, KPG, Cetakan Pertama 2015.)

Damarinfo.com-Saat ini di Bojonegoro sedang ramai soal pemindahan pedang dari Pasar Kota yang saat ini ditempati dan akan dipindah ke Pasar yang baru di bangun yakni Pasar Wisata. Namun para pedagang enggan untuk berpindah, ada banyak soal tentu yang menyebabkan banyak pedang tidak mau pindah. Bisa jadi salah satunya adalah soal sejarah pasar kota yang mungkin sudah berdiri puluhana tahun di lokasi tersebut.  Rencanya lokasi pasar kota akan diganti dengan Ruang Terbuka Hijau.

Kita tinggalkan soal perpindahan pedagang pasar kota di Bojonegoro, mari kita bahas soal sejarah pasar di Indonesia.  Sebuah catatan dari sarjana Arsitek Belanda dalam bukunya ““Kota  di Djawa Tempo Doeloe” yang meneliti sejarah berdasar kartu pos, menyebutkan asal kata “pasar”, ternyata kata ini sudah dipakai oleh orang melayu dan jawa sekitar lima abad silam. Asalnya dari bahasa Tamil (India) yaitu pasar dari bahasa Persia “bazar” keduanya berarti tempat jual beli.

Pada zaman kolonial belanda pada kisaran tahun 1854 tidak sembarang orang boleh mengadakan pasar. Hak pasar disewakan oleh kolonial belanda atau penguasa pribumi kepada pemilih tanah melalui sistem patch. Kemudian tuan tanah dapat menyewakan hak kepada penyewa kedua, biasanya orang Tionghoa. Dalam bahasa Jawa, jabatan mereka disebut dengan tanda. Permukiman mereka disebut ketandan (ke-tanda-an), selalu dekat dengan lokasi pasar.

(Pasar Lawang, Jalan Raya Lawang Malang, tahun 1916, Sumber : Buku “Kota Djwa Tempo Doeloe”Pengarang Olivier Johan Rap, KPG, Cetakan Pertama 2015.)

Banyak pasar besar di perkotaan yang beroperasi hingga kini, merupakan warisan awal zaman kolonial. Namun, tampaknya pasar-pasar itu punya sejarah yang lebih tua yang sayangnya kurang terdokumentasi. Banyak pasar bernama. unik, yang menceritakan tentang keadaan zaman dahulu. Nama pasar dapat berasal dari berbagai macam berdasar: 1. Geograis (misalnya Pasar Rejowinangun, Pasar Kepanjen). 2. Penanda lokasi yang dekat (misalnya Pasar Sepur, Pasar Pabean). 3. Hari buka, berdasar hari pasaran (misalnya Pasar Senen, Pasar Kliwon). 4. Jam buka (misalnya Pasar Pagi, Pasar Sore). 5. Barang yang dijual (misalnya Pasar Buah, Pasar Burung). 6. Faktor lain yang membedakan dengan pasar lainnya (misalnya Pasar Besar, Pasar Baru).

Baca Juga :   Lasuri : “Pengelolaan Pasar Daerah itu ada Regulasinya, Siapa Bilang Tidak Ada”

Hari pasar adalah hari dibukanya pasar biasanya sepekan (5 atau 7 hari) sekali umumnya terdapat didaerah pedesaan. Kata peken di Jawa berarti pasar berdasar pada hari buka yakni sekali dalam satu pekan. Hari pasaran di jawa adalah lima hari yakni Wage, Kliwon, Pahing, Legi dan Pon.  Mengapa kegiatan pasar zaman dahulu mengikuti hari pasaran tertentu dan tidak setiap hari? Mengapa pasar digelar di banyak lokasi berbeda? Alasan pertama berkaitan dengan kebudayaan di Pulau Jawa. Sejak lama ada tradisi dan kebiasaan untuk bekerja secara kolektif dalam satu desa yang mandiri. Alasan lain berkaitan dengan ekonomi. Kebanyakan mereka yang berjual-beli di pasar bukan pedagang profesional, melainkan petani yang menjual sisa hasil panen saja. Mereka membeli hanya untuk melengkapi kebutuhan yang bukan hasil panen mereka sendiri.

Baca Juga :   Rapat soal Pasar, Kadis Perdagangan Bojonegoro: Saya seperti Diadili
(Pasar Rejowinangun Jalan sudirman, Magelang, Tahun 1910. Sumber : Buku “Kota di Djawa Tempo Doeloe”Pengarang Olivier Johan Rap, KPG, Cetakan Pertama 2015.)

Pada awalnya, banyak pasar digelar di kampung yang merupakan bagian wilayah kota atau desa otonom. Umumnya tiap kampung rapi dan indah karena dirawat oleh penduduk setempat, secara gotong-royong. Juga demikian halnya

dengan pasar. Namun semakin lama, kohesi sosial berkurang dan banyak pasar semakin semrawut, apalagi di kota. Juga banyak pasar dikelola oleh pengusaha swasta. Mereka diberi hak untuk menggelar pasar dan memungut pajak pasar, sambil membayar uang pacht kepada penguasa atau pemerintah setempat. Sering kali mereka lebih mengutamakan keuntungan mereka sendiri ketimbang kebersihan dan kemajuan pasar.

Di banyak kota, pemerintah tidak lagi menerima keadaan tersebut sehingga banyak pasar diambil alih oleh pemerintah. Proses semakin cepat setelah banyak kota mendapatkan status sebagai stadsgemeente (kotamadya) pada awal abad ke-20 dengan aparat pemerintah kota yang cukup cerdas. Uang yang dihasilkan dari pasar digunakan untuk memperbaiki fasilitas pasar, infrastruktur dan ekonomi di sekitarnya, dan pengawas. Pada zaman kolonial, banyak pasar di perkotaan diberi wajah baru dengan gedung kontemporer yang memenuhi semua kebutuhan dunia pasar modern

Penulis :Syafik

Sumber : Buku “Kota di Djawa Tempo Doeloe”Pengarang Olivier Johan Rap,  KPG, Cetakan Pertama 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *