Peran Keluarga Pane dalam Soempah Pemoeda

oleh
oleh
(Sanusi pane. Sumber : wikipedia.com)

Damarinfo.com – Selama ini  tokoh sentral dalam peristiwa Soempah Pemoeda yang terkenal adalah Boedi Oetomo, namun ada salah seorang pemoeda yang juga berperan penting dalam lahirnya Soempah Pemoeda yang dikumandangkan pada 28 Oktober 1928 silam. Pemoeda tersebut adalah Sanusi Pane, pemuda (masa itu) kelahiran Muara Sipongi (suatu daerah di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara.

Beliau merupakan saudara dari Armijn Pane yang merupakan pelopor Angkatan Pujangga Baru dalam dunia sastra Indonesia, dan Lafran Pane pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pane bersaudara (Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Lafran Pane) merupakan anak dari Sutan Pangurabaan Pane, seorang guru sekaligus sastrawan besar pada masanya, lulusan Kweekschool Padangsidempuan. Belajar bahasa dan mengenal sastra lewat buku-buku karangan Willem Iskander (pendiri Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers Tano Bato—cikal-bakal Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers Padangsidempuan).

Baca Juga :   Mentjari Bodjonegoro Bowerno Pernah Jadi Ibu Kota Kadipaten Djipang. Kapan?

Peran Sanusi Pane yang merupakan utusan dari jong soematranen Bond dalam peristiwa Soempah Pemoeda adalah mengusulkan Bahasa Melayu agar ditetapkan sebagai Bahasa Indonesia. Sanusi Pane sudah mengusulkan Bahasa Melayu menjadi bahasa pemersatu dalam keseharian dan pergerakan kebangsaan, pada saat Kongres Pemuda I pada tahun 1926. Namun, dikarenakan perdebatan yang terjadi di dalam kongres tersebut, usul beliau tidak terakomodir. Baru pada Kongres Pemuda II, tanggal 27 s.d. 28 Oktober 1928, usulan beliau diakomodir dan ditetapkanlah Bahasa Melayu sebagai Bahasa Indonesia, bahasa pemersatu Bangsa yang terdiri dari ribuan suku-bangsa serta bahasa.

Soal Bahasa ini menjadi bagian ketiga dari Soempah Pemoeda, dengan menggunakan kata “menjoenjoeng” bukan “mengakui” seperti pada  dua sumpah sebelumnya karena posisi Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu seluruh Bangsa Indonesia tanpa menanggalkan bahasa daerah/ibu.

Baca Juga :   Mentjari Bodjonegoro Pengikut Samin Soerosentiko  yang Ikut Diasingkan. Siapa Saja?

Selamat memperingati Hari Soempah Pemoeda.

Penulis : Syafik

Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *