Mentjari Indonesia
Muhammadiyah, KI Bagoes Hadikoesoemo dan Kemerdekaan RI

oleh
oleh
(Een banket in Japan tijdens een bezoek van zeventien dagen van Soekarno, Mohammed Hatta en Ki Bagoes Hadikoesomo (Jamuan Makan di Jepang Selama Tujuh Belas Hari Kunjungan Soekarno, Mohammed Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesomo(Pakai Blangkon). Sumber foto : https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)

Damarinfo.com – Semua organisasi yang berdiri pada jaman penjajahan mempunyai peran besar untuk kemerdekaan Republik Indonesia, tidak terkecuali Muhammadiyah. Pada masa penjajahan Jepang tepatnya pada tahun 1942, Muhammadiyah dipimpin oleh Ki Bagoes Hadi Koesoemo.  Diantara peran penting tokoh kelahiran 24 Nopember 1890 di Kauman Jogjakarta ini adalah Ki Bagus menjadi salah satu tokoh di balik rumusan Pancasila, UUD dan figur penting di dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) serta Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)

Mengutip dari laman muhammadiyah https://muhammadiyah.or.id/   Syarifuddin Jurdi dalam Muhammadiyah dalam Dinamika Politik Indonesia 1966-2006 (2010) menyatakan bahwa sesuai dengan kepercayaan untuk mendirikan kemakmuran bersama di Asia Raya di bawah pimpimanan Dai Nippon, Muhammadiyah melalui Ki Bagus Hadikusumo merumuskan tujuan: a) hendak mengajarkan agama Islam serta melatih hidup yang selaras dengan tuntunannya, b) hendak melakukan pekerjaan perbaikan umum, c) hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.  Pemerintah militer Jepang pun memberi ijin atas berdirinya Muhammadiyah sehingga Muhammadiyah dapat kembali menyelenggarakan kegiatan dan membangun komunikasi dengan cabang-cabangnya yang telah terhenti selama dua tahun.

Baca Juga :   RS.Aisyiyah Bojonegoro Buka Klinik Program Kehamilan dan Inseminasi Buatan

Ki Bagoes Hadi Koesoemo menjadi tokoh yang dipandang sangat penting oleh Pemerintahan Jepang pada waktu itu, selain Soekarno dan M. Hatta. Sehingga tiga tokoh nasional tersebut diundang secara khusus oleh Kaisar Jepang waktu itu, Kaisar Hirohito. Tujuanya untuk membicarakan persiapan kemerdekaan Indonesia.

(Salah satu halaman dari majalah Vrij Netherland edisi 11-12-1943. /Tangkapan layar)

Sebuah majalah mingguan berbahasa Belanda Vrij Netherland edisi  11-12-1943, merekam kepergian tokoh tersebut. Dalam majalah tersebut memuat berita tentang kepergian tokoh nasional tersebut. Dalam artikel diberi judul “Soekarno in Japan” ini, ditulis kegiatan para pendiri bangsa ini selama di Jepang, diantaranya adalah menghadiri peringatan para peringatan para pahlawan jepang yang telah gugur.  Kegiatan lain adalah bertemu dengan para pelajar dari Indonesia di Jepang diantaranya mahasiswa dari Jawa Sulawesi, Kalimantan dan Pulau-pulau lainya. Diantara para pelajar tersebut ada putra dari Mangkunegaran dan Sultan Jogjakarta.

Baca Juga :   Jerat Pidana dalam Pengibaran Bendera

Dalam laman https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ terdapat photo-photo selama tiga tokoh nasional tersebut di Jepang. Sebuah photo dengan judul
Een banket in Japan tijdens een bezoek van zeventien dagen van Soekarno, Mohammed Hatta en Ki Bagoes Hadikoesomo (Jamuan Makan di Jepang Selama Tujuh Belas Hari Kunjungan Soekarno, Mohammed Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesomo),  photo ini diperkirakan diambil tahun 1943 saat tiga tokoh nasional tersebut di Jepang selama

(Ki Bagoes Hadi Koesoemo, Soekarno dan M. Hatta saat berada di Jepang tahun 1943. sumber :https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ )

Photo yang lain tampak Ki Bagoes Hadi Koesoemo, Soekarno dan M. Hatta memberi makan kepada kijang-kijang. Ki Bagoes Hadi Koesoemo yang nama kecilnya Raden Hidayat bin Raden Kaji Lurah Hasyim selama di Jepang selalu mengenakan blangkon dan ini beda dengan dua koleganya yang mengenakan peci.

Penulis : Syafik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *