Mentjari Bodjonegoro
Mengenal AG Pringgodigdo, Mensesneg Pertama dari Pinggir Hutan Bojonegoro

oleh
oleh
(Republican leaders in front of Hotel Prodeo, Bangka, early 1949 where they were interned by the Dutch colonial government after the Second politionele actie. From left to right: 1. Abdoel Gafar Pringgodigdo, 2. Mohammed Natsir, 3. Mohammad Roem, 4. Herling Laoh, 5. Abdul Halim, 6. Hadji Agoes Salim, 7. Darma Setiawan, 8. Soekarno, 9. Asmaoen, 10. Mohammad Hatta, 11. Johannes Leimena, 12. Djoeanda Kartawidjaja, 13. Saoebari, 14. Koesnan, 15. Assaat Datuk Mudo, 16. Ali Sastroamidjojo, 17. Soemarto. Sumber : Kusuma, A.B. and Elson, R.E. (2011).)

Bojonegoro, damarinfo.com- Bojonegoro nyatanya sejak dulu telah melahirkan banyak tokoh nasional yang mempunyai pengaruh yang besar dalam perkembangan bangsa ini. Sebut saja Tirto Adi Suryo yang merupakan keturunan dari Bupati Bodjonegoro Tirtonoto I.

Ada deretan tokoh penting, yang namanya tercatat sebagai tinta emas di negeri ini. Seperti Abdoel Gaffar (AG) Pringgodigdo juga adiknya Abdoel Karim Pringgodigdo. Kemudian ada juga Letjend Soedirman, dan pada zaman kekinian kita tentu mengenal Pratikno Menteri Sekretaris Negara asal Desa Dolog gede Kecamatan Tambakrejo Kabupaten Bojonegoro.

Biacara soal Mensesneg, ternyata Mensesneg Pertama saat Republik ini berdiri juga berasal dari Bojonegoro. Adalah AG Pringgodigdo yang dipercaya oleh Presiden Soekarno untuk mengepalai Sekretariat Negara dari 17 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949.

Sebagai catatan, AG Pringgodigdo lahir 24 Agustus 1904 di Desa Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Tumur, Indonesia. Orang tuanya, juga tokokh penting, yaitu Bupati Tuban RMAA Koesoemohadiningrat (alm) dengan Ny. R.A. Windrati Notomidjojo (alm, puteri Patih Rembang).

(Abdoel_Gaffar_Pringgodigdo. Foto : id.wikipedia.org)

Pendidikan AG Pringgodigdo dimulai dari Tuban di Europeesche Lagere School tahun 1911 – 1918. Pringgodigdo begitu dipanggil, termasuk anak yang cerdas ini dibuktikan dengan diraihnya predikat cumlaude (Lulusan terbaik) pada Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya untuk candidat indologie. Pendidikan kesarjaanaanya didapatkan di Belanda dalam bidang hukum di Rijks Universiteit di Leiden, lagi-lagi Pringgodigdo mendapatkan predikat cumlaude.

Baca Juga :   Jelang Gas On Stream, Menteri Sekretaris Negara Kunjungi Proyek Gas JTB

Selanjutnya, Pringgodigdo mengawali karir pekerjaanya sebagai Revrendaris (juru tulis) di Kantor Gubernur Jatim tahun 1934. Pada masa pendudukan Jepang Pringgodigdo dipercaya menjadi Wedana di Batur (Dataran Tinggi Dieng—kini masuk Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah) 1 Mei 1942 sampai 28 Februari 1943,

Karir politiknya pun semakin moncer saat pada 1 Juni 1945. Setelah aktif di Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), A.G. Pringgodigdo masuk menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia sebagai sekretarisnya Radjiman Widyoningrat, pemimpin BPUPKI.

Posisinya tidak main-main, yaitu, sebagai Sekretaris BPUPKI, Pringgodigdo menyimpan notulensi rapat-rapat yang digelar. Notulensi ditulis dengan huruf stenografi yang selanjutnya diketik. Namun sayangnya pada saat Jepang menyerah kepada sekutu, catatan-catatan penting bagi bangsa Indonesia itu dirampas oleh Belanda dan dibawa ke negeri kincir angin tersebut. Beruntung pihak Belanda menyerahkan catatan-catatan tersebut ke Pemerintah Indonesia dan saat ini disimpan di Kantor Arsip Nasional. Catatan tersebut salah satunya adalah penyusunan naskah Undang-Undang Dasar 1945.

Baca Juga :   Mentjari Bodjonegoro Radjekwesi Merdeka di Bawah Bupati Sosrodilogo Tahun 1827
(Salah satu photo notulensi rapat BPUPKI saat penyusunan UUD 1945. Foto : https://www.nationaalarchief.nl/)

Selanjutnya, setelah merdeka, Presiden Soekarno memberikan kepercayaan kepada Pringgodigdo menjabat sebagai Mensesneg.

Pringgodigdo pun merasakan menjadi tahanan politik Belanda pada saat terjadinya agresi militer Belanda ke 2, Pringgodigdo bersama dengan para petinggi bangsa Indonesia waktu itu dibuang ke Bangka.

Selepas dari pembuangan pada tahun 1949, Pringgodigdo diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Hukum Administrasi Negara pada Fak. Hukum Universitas Gadjah Mada.

Meski demikian karier politiknya masih berkibar, sehingga Pringgodigdo dipercaya sebagai Menteri Kehakiman sebagai perwakilan dari Masyumi 27 Desember 1949 -7 Desember 1950.

(Keluarga Presiden Soekarno dan Keluarga AG Pringgodigdo diabadikan di Istana Yogyakarta, 1947. Foto : https://opac.perpusnas.go.id/)

Setelah pensiun dari politik, Prof. Mr. AG Pringgodigdo  menjadi pengajar. Dia mulai sebagai dosen besar luar biasa di Universitas Gadjah Mada, mengajar ilmu hukum.

Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo,  Presiden Universitas (UNAIR) Masa Bhakti 1954 -1961, dibantu oleh  sekretaris Universitas Drs. Soemartono.

Meski lahir di pinggiran hutan di Bojonegoro, namun Pringgodigdo mampu membuktikan sebagai tokoh nasional yang ikut berjuang untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Penulis : Syafik

Editor : Sujatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *