Mentjari Bodjonegoro
Jejak-jejak Majapahit di Selatan Bojonegoro

oleh
oleh
(Foto Prasasti Sendang Sedati/Pamintihan. Buku Prasasti dan Raja-Raja Nusantara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 2015)

Damarinfo.com- Jejak-jejak Majapahit di Bojonegoro menjadi perhatian para Ilmuan Belanda pada masa penjajahan. Sebuah dokumen tentang penelian sejarah belanda yang tertulis dalam Buku “Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indië, OUDHEIDKUNDIG VERSLAG, Earste Kwartaal, 1922” (Dinas Arkeologi di Hindia Belanda, Laporan Benda-Benda Kuno, Kwartal Pertama, Tahun 1992” menyebukan tentang Penemuan Prasasti Sendang Sedati di perbatasan selatan Kabupaten Bojonegoro, sebelah utara Ngluyu Kabupaten Nganjuk.

Laporan ditulis oleh Dr. F.D.K. Bosch dengan judul “DE OORKONDE VAN SENDANG SEDATI” (Prasasti Sendang Sedati). Dalam tullisan berbahasa belanda itu, disebutkan bahwa penemuan prasasti Sendang Sedati atau juga disebut dengan Oro-ora Sedati, atas bantuan dari Ahli dari Dinas Kehutanan Bodjonegoro pada saat itu yakni Altona.

Terdapat tiga lempeng prasasti yang ditemukan, pada lembar pertama tertulis bahwa prasasti tersebut dibuat pada tahun 1385 Tahun Saka oleh Raja Sri Singhawikrama wardhana yang nama kecilnya Dyah Suraprabhwa.

Lempengan kedua yang hilang, kemungkinan berisi daftar orang-orang kerajaan yang ikut menandatangani prasasti tersebut.

Dalam lempengan pertama disebutkan alasan pemberian penghargaan tersebut, yakni kesetiaan yang teguh atau dharmabakti dari rakyat. Penerima penghargaan adalah Arya Surung, yang mendapatkan daerah Pamintihan.

Pada bagian belakang lempeng ketiga tertulis: “Batas desa Pamintihan (adalah sebagai berikut): di sebelah timur berbatasan dengan Plang puncu; di Tenggara di Gigidah; di selatan di Dampak; di Barat Daya di Dampak dan Madewih; di Barat di Gempol; di Barat Laut di Gempol dan Babanger; ke arah timur lisigarada) ke arah Utara; wilayahnya berbatasan dengan Babanger dan Kabalan (disana); Ke arah Timur ke Timur Laut sampai Kabalan; Ke arah selatan dari Timur Laut ke Timur di Plang puñcu”

Dr.Bosch dibantu oleh Altona mencari keberadaan desa-desa yang tertulis dalam prasasti tersebut. Dan menemukan bahwa Plang Puncu berada di kaki Gunung Puncu yang berada di sebelah timur Gunung Pandan. Dari Puncu ada jalan ke arah barat daya menuju Glidah, mungkin Gigidah (tulisan dalam prasasti) sebela Timur Sedati. Desa Dampak dan Maděwih tidak diketahui.

Baca Juga :   Mentjari Bodjonegoro Bodjonegoro sudah Menjadi Anggota PSSI Sedjak 1938

Sementara itu Desa Gempol, menurut Pak Altona, adalah nama sebagian besar hutan sebelah barat Dodol. Lokasi tersebut dulunya merupakan sawah, seperti yang ditunjukkan oleh pipa-pipa tua.  Gempol sebelah utaranya adalah Banger (Babanger), yang kini dibelah dua oleh Dusun Betek. Kabalan dapat ditemukan di suatu bagian hutan yang masih dikenal dengan nama tersebut, hanya di sebelah selatan Goenoeng Sekidang, sebelah utara desa Sekidang.

Hal di atas menunjukkan bahwa batas wilayah bebas bagian barat, utara, dan timur dapat ditentukan dengan cukup akurat. Apabila sudut tenggara ditunjukkan oleh Glidah Gigidah, maka batas selatan kemungkinan memanjang dari titik tersebut ke arah barat sampai Gempol yang sama tingginya, dan daerah bersih tampak berupa sebidang tanah memanjang kira-kira 12 K. M. arah Barat-T dan sekitar 4 K. M. arah N-S Nama Pamintihan tidak dikenal di wilayah itu. Lokasi dokumen tersebut mungkin menunjukkan lokasi sebelumnya dan dalam hal ini desa terletak di sudut paling tenggara dari wilayah bebas

Begitulah luas sawah Pamintihan, yang merupakan daerah kantong-kantong di tanah Plang puncu dan tanah Kabalan. Sekarang ini semua demi kepentingan Pamintihan, tanpa perubahan. Ada sawah Plang puncu yang digabungkan di perbatasan Pamintihan, 3 gambut yang ditumbuhi berbagai jenis kayu di perbatasan barat.

Dr. Bosch juga mendapatkan informasi dari Altona bahwa banyak peninggalan kuno di tempat ditemukannya prasasti sendang sedati. Di antaranya bekas pemukiman kuno dengan ditemukannya pecahan tembikar, batu bata, lumpang, uang logam, dan lain-lain. Terutama ditemukan di sekitar Betek, Gümpol, Soemberpoh, Bringin, Ngotok, Grapak, Kali Mati, Glingsēm, Sekonang, Soemberlo, Wotan, Goejangan, Padjeng, Grebjegan, Boetoeng, Bedji dan Sendang Sedati.

Baca Juga :   Mentjari Bodjonegoro berikut ini isi Pidato Presiden Soekarno saat di Bodjonegoro

Di daerah Gempol, ditemukan Kepala Patung Emas;juga ada dua patung di dekat pohon beringin suci. Selatan Betek. Di daerah Kranggan ditemukan sisa-sisa dinding batu alam panjangnya 200 Μ.

Saat ini Prasasti Sendang Sedati sudah berada di Museum Nasional Indonesia dengan nomor inventaris E-88 a-c, Nama Prasasti : Pamintihan (Sendang Sedati) Tempat Temuan Desa Sendang Sedatii Kabupaten Bojonegoro, Angka Tahun 1395 Šaka (14 Mei 1473). Nama raja :Paduka Śri Mahārāja Rājādhirāja Prajaikanātha Srimacchri Bhattāra Prabhu Garbhaprasutināma Dyah Suraprabhāwa Śri Singhawikramawarddhananāmadewabhiseka.

Prasasti yang ditemukan terdiri Tiga lempengan tembaga berukuran sebagai berikut:

  1. 41 x 13 cm dengan 6 baris tulisan pada satu sisi;
  2. 40,5 х 12,5 cm dengan 6 baris tulisan pada dua sisi;
  3. 40 x 12,5 cm dengan 6 baris tulisan di bagian depan dan 2 baris di bagian bela- kang.

Pada lempeng pertama terdapat ukiran seekor burung sedang terbang mengembangkan sayapnya, di atas pohon yang penuh buah dan untaian bunga. Isinya menyebutkan anugerah Raja Dyah Suraprabhāwa Śri Singhawikramawarddhana kepada Sang Aryya Surung, berupa sebidang tanah sima di desa Pamintihan dengan segala haknya akan dimiliki turun temurun tanpa batas. Anugerah tersebut diberikan karena Sang Aryya Surung memperlihatkan kesetiaan tak terhingga kepada raja. (Buku Prasasti dan Raja-Raja Nusantara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Musemu Nasional, tahun 2015)

Penulis : Syafik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *