Megengan Tradisi Jelang Ramadhan Khas Jawa.

oleh -
oleh
(ilustrasi. Foto : wikipedia.com)

Damarinfo.com – Megengan adalah sebuah tradisi   yang dilakukan oleh sebagian umat islam khususnya di Pulau Jawa untuk menyambut bulan suci Ramadhan . Meski sudah bergeser pelaksanaanya namun tradisi ini masih tetap dijalankan.  Pergeseran itu soal pembagian “berkat” (makanan dengan lauk pauk tertentu yang ditaruh diwadah biasanya terbuat dari plastik), jika sebelumnya tetangga diundang untuk “Bancaan” (berdoa bersama dirumah) atau di musholla, namun sekarang berkat itu diantar ke rumah-rumah.

Guru besar Universitas Negeri Islam (UINSA) Sunan Ampel Surabaya Prof. DR. Nur Syam menjelaskan Tradisi Megengan memang sangat khas Jawa. Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang puasa. Tradisi ini sungguh-sungguh merupakan tradisi indigenius atau khas,  yang tidak dimiliki oleh Islam di tempat lain.

“Tradisi ini ditandai dengan upacara selamatan ala kadarnya untuk menandai akan masuknya bulan puasa yang diyakini sebagai bulan yang suci dan khusus” Tulis Profesor Kelahiran Tuban 7 Agustus 1958 di Blog pribadinya (http://nursyam.uinsby.ac.id/?p=353)

Selanjutanya Prof. Nur Syam menjelaskan  Sama dengan tradisi-tradisi lain di dalam Islam Jawa, maka tradisi ini juga tidak diketahui secara pasti siapa yang menciptakan dan mengawali pelaksanaannya. Tetapi tentu ada dugaan kuat bahwa tradisi ini diciptakan oleh walisanga khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga.

Baca Juga :   Satresnarkoba Polres Bojonegoro Santuni Anak Yatim, di Bulan Ramadhan

“Memang hal ini baru sebatas dugaan, namun mengingat bahwa kreasi-kreasi tentang Islam Jawa terutama yang menyangkut tradisi-tradisi baru akulturatif yang bervariatif tersebut kebanyakan datang dari pemikiran Kanjeng Sunan Kalijaga, maka kiranya dugaan ini pun bisa dipertanggungjawabkan” Kata Prof. Nur Syam dalam tulisannya

Megengan secara lughawi berarti menahan. Misalnya dalam ungkapan megeng nafas, artinya menahan nafas, megeng hawa nafsu artinya menahan hawa nafsu dan sebagainya. Di dalam konteks puasa, maka yang dimaksud adalah menahan hawa nafsu selama bulan puasa. Secara simbolik, bahwa upacara megengan berarti menjadi penanda bahwa manusia akan memasuki bulan puasa sehingga harus menahan hawa nafsu, baik yang terkait dengan makan, minum, hubungan seksual dan nafsu lainnya..

Baca Juga :   Inilah Para Sahabat Rasulullah yang Merapikan Al Quran

Memang para walisanga mengajarkan Islam melalui simbol-simbol budaya. Hanya sayangnya bahwa yang ditangkap oleh masyarakat Islam hanyalah simbolnya belaka. Padahal jika yang ditangkap itu tidak hanya simbolnya tetapi juga substansinya, maka sesungguhnya ada pesan moral yang sangat mendasar. Misalnya tradisi megengan dan colokan tersebut. secara substansial merupakan simbolisasi bahwa puasa adalah hari di mana seseorang harus menahan nafsu dan terus dicolok agar jangan sampai keliru dalam melakukan tindakan di bulan puasa.

Dengan demikian, berbagai macam tradisi yang berkembang dan hidup di dalam masyarakat –khususnya—masyarakat Jawa jangan dipandang dari sudut asli atau tidak ketidakaslian ajaran Islam, tetapi marilah dibaca bahwa memang ada varian-varian di dalam mengekspresikan Islam itu melalui tradisi yang dikonstruksi oleh mereka sendiri.

Editor: Syafik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *