Penduduk Lansia Hampir 20 Persen, Bojonegoro Perlu Evaluasi Strategi Kemiskinan

oleh 0 Dilihat
oleh
(Ilustrasi demografi penduduk, by ghatgpt)

damarinfo.com β€” Struktur penduduk Kabupaten Bojonegoro berubah signifikan. Data resmi dari Satu Data Bojonegoro (data.bojonegorokab.go.id) tahun 2025 menunjukkan, dari total 1.367.980 jiwa penduduk, sebanyak 260.022 jiwa telah berusia 60 tahun ke atas. Artinya, hampir 19 persen β€” atau mendekati 20 persen β€” warga Bojonegoro kini masuk kategori lansia.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia menunjukkan perubahan struktur sosial yang nyata. Bojonegoro sedang memasuki fase masyarakat menua. Satu dari lima warga berada pada usia lanjut, dengan implikasi langsung terhadap ketahanan ekonomi keluarga dan arah kebijakan publik.

πŸ“Š Ringkasan Demografi Penduduk Bojonegoro 2025

Sumber: Data diolah Satu Data Bojonegoro

KategoriJumlah (Jiwa)Persentase
Total Penduduk1.367.980100%
Usia 60–64 Tahun82.2976,0%
Usia 65–69 Tahun68.8865,0%
Usia 70–74 Tahun43.8883,2%
Usia >74 Tahun64.9514,7%
Total Lansia (60+)260.02219,0%
Penduduk Miskin 2025144.90011,49%

Tabel ini memperlihatkan bahwa jumlah lansia hampir dua kali lipat jumlah penduduk miskin. Selain itu, kelompok usia 60–64 tahun yang berjumlah 82.297 jiwa akan masuk kategori 65+ dalam lima tahun ke depan. Artinya, tekanan demografi belum berhenti β€” justru sedang bergerak naik.

Penuaan Menguat di Wilayah Desa

Fenomena penuaan tidak terjadi merata. Sejumlah kecamatan mencatat proporsi lansia di atas 20 persen. Mayoritas berada di wilayah agraris.

πŸ“Š Kecamatan dengan Proporsi Lansia (60+) Tertinggi

Sumber: data diolah Satu Data BojonegoroΒ 

NoKecamatanJumlah LansiaTotal PendudukPersentase
1Kedungadem18.23285.44221,3%
2Margomulyo4.94123.40921,1%
3Gondang5.61226.78121,0%
4Ngasem13.14263.13220,8%
5Bubulan3.22715.65620,6%
6Sukosewu9.21044.72820,6%
7Temayang7.81338.00020,6%
8Sumberrejo15.15173.81720,5%
9Ngraho9.80948.42020,3%
10Sugihwaras9.69047.96220,2%

Kedungadem bukan hanya tertinggi secara persentase, tetapi juga terbesar secara jumlah absolut. Sumberrejo dan Dander pun memiliki jumlah lansia besar.

Mayoritas kecamatan dalam tabel ini berada di wilayah pedesaan. Artinya, aging di Bojonegoro sangat berkorelasi dengan karakter agraris dan pola migrasi penduduk usia muda ke luar daerah.

Ketika Struktur Umur Beririsan dengan Kemiskinan

Angka kemiskinan Bojonegoro tahun 2025 tercatat 11,49 persen atau 144.900 jiwa. Dengan hampir 260 ribu penduduk berada pada usia lanjut, pertanyaan strategis muncul: apakah desain pengentasan kemiskinan sudah membaca struktur usia ini?

Penuaan berdampak langsung pada produktivitas dan ketergantungan ekonomi dalam rumah tangga. Lansia umumnya tidak lagi berada pada usia kerja penuh. Ketika dalam satu keluarga terdapat lebih banyak anggota non-produktif, tekanan ekonomi meningkat.

Kemiskinan dalam konteks ini bukan hanya soal rendahnya pendapatan, tetapi juga tentang meningkatnya rasio ketergantungan usia tua.

Gelombang Lansia Berikutnya Sudah Terlihat

Sebanyak 82.297 jiwa usia 60–64 tahun akan masuk kategori lansia penuh dalam lima tahun ke depan. Jika tren ini konsisten, maka proporsi lansia akan terus naik.

Artinya, tanpa penyesuaian strategi, tekanan terhadap sistem perlindungan sosial dan ekonomi keluarga akan semakin berat.

Warning untuk Arah Kebijakan

Data demografi ini memberi peringatan jelas bahwa desain kebijakan pengentasan kemiskinan perlu dievaluasi.

Bojonegoro bukan lagi sekadar kabupaten dengan persoalan kemiskinan konsumsi. Ia adalah daerah dengan penuaan penduduk yang cepat, yang berimplikasi pada beban sosial dan ekonomi jangka panjang.

Strategi yang tidak mempertimbangkan struktur usia berisiko kurang efektif. Banyak lansia tinggal dalam rumah tangga berpendapatan rendah, sehingga intervensi tidak cukup jika hanya menyasar individu, tanpa memperkuat keluarga penopangnya.

Gelombang lansia usia 60–64 tahun yang segera masuk kategori lanjut usia penuh juga akan menambah tekanan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan jika tidak diantisipasi secara sistematis.

Rekomendasi Kebijakan Berbasis Data

Berdasarkan struktur demografi dan kebutuhan nyata di lapangan, arah kebijakan berikut perlu dipertimbangkan:

  • Pemetaan lansia miskin secara granular, sampai ke tingkat desa, agar bantuan lebih tepat sasaran.

  • Skema perlindungan sosial berjenjang, membedakan antara lansia miskin tunggal, lansia dalam keluarga rentan, dan lansia dengan potensi produktif.

  • Program pemberdayaan ekonomi keluarga penopang lansia, bukan hanya bantuan konsumsi semata.

  • Integrasi layanan kesehatan lansia dengan program kemiskinan, terutama untuk lansia 70+ tahun.

  • Antisipasi gelombang lansia mendatang sebagai bagian dari perencanaan jangka menengah dan panjang (RPJMD dan RPJPD).

Penuaan penduduk adalah fakta yang sudah tercatat dalam Satu Data Bojonegoro. Tantangannya kini bukan lagi membaca angka, tetapi memastikan strategi pengentasan kemiskinan mampu menjawab perubahan struktur sosial tersebut.

Jika tidak diantisipasi, kemiskinan berisiko semakin terikat pada faktor usia dan ketergantungan ekonomi dalam rumah tangga. Namun jika dibaca dengan tepat, perubahan demografi ini justru bisa menjadi dasar perumusan kebijakan sosial yang lebih presisi dan berkelanjutan.

Penulis : Syafik

Sumber data : https://data.bojonegorokab.go.id/