Kang Yoto Is Back! Bicara Soal Kemiskinan, Migas dan Tembakau

oleh
oleh
(Suyoto/Kang Yoto, Bupati Bojonegoro 2008-2013, 2013-2018. Dok. pwmu jatim)

damarinfo.com – Setelah lama tidak terdengar suaranya menyoal Bojonegoro, kali ini Suyoto atau akrab dipanggil Kang Yoto kembali menyuarakan Bojonegoro. Kang Yoto yang pernah memimpin Bojonegoro dua periode (2008 – 2013 dan 2013 – 2018) menyampaikan tentang kemiskinan, Migas dan Tembakau.

Kang Yoto menyampaikan bahwa Tembakau dan Migas, dua hal yang sangat dekat dengan kehidupan orang Bojonegoro, selain kayu jati, banjir, kekeringan dan sejarah kemiskinannya. Kemiskinan di Bojonegoro menurut Kang Yoto sudah berlangsung sejak zaman kerajaan, penjajahan hingga masa kemerdekaan. Hingga tahun 2000  Kabupaten Bojonegoro selalu di urutan pertama sebagai Kabupaten termiskin di Jawa Timur.

“Tahun 2008 kemiskinan Bojonegoro berubah di rangking 3 Jawa Timur, dan tahun 2016 pada rangking 11, namun angkanya masih di atas 14 persen” Kata Kang Yoto.

Lanjut Kang Yoto Kemiskinan perlahan terus berkurang sejak pemerintah memberikan bantuan pangan, kesehatan dan pendidikan dasar. Infrastruktur pengairan terus dibenahi, pemanfaatan air dioptimalkan, infrastuktur pedesaan mulai tersentuh, industri migas, non migas dan pariwisata mulai berkembang. Anak anak muda semakin banyak yang berani membuka usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan. Pendapatan warga naik dan orang miskin diurus Pemerintah.

Baca Juga :   10 Daerah dengan APBD Terbesar se Indonesia, Mana yang Paling Miskin?
(Grafik Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Bojonegoro tahun 2002 – 2022. Sumber data : BPS Jawa Timur dan Buku Data Kemiskinan Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun 2022. Grafis : Syafik)

Terkait soal migas dan tembakau, Kang Yoto menyampaikan bahwa panen migas itu ternyata mirip dengan panen tembakau. Dalam panen tembakau ada masa nggowoki, tengah dan mucuki. Dalam panen migas ada tahap early production, tahap peak production dan tahap penurunan (declining) hingga habis dan perbaikan. Bedanya soal lama masing masing masa atau tahapnya.

Panen puncak migas hari ini adalah bagian dari rangkaian panjang proses alam, politik, bisnis dan sosial. Harga minyak dan tembakau tidak sepenuhnya ditangan pemilik. Bedanya; tembakau bisa ditanam setiap tahun sementara migas perlu jutaan tahun alam ini untuk memprosesnya. Gunakan dan belanjakanlah hasil panen migas dengan tepat dan bijak untuk masa depan yang lebih baik.

Baca Juga :   Bojonegoro Deklarasi Penanganan Kemiskinan, Apa Saja Programnya?

“Menginvestasikannya dengan tepat itu jauh lebih sulit dibanding menghabiskannya” Kata pria yang masih aktif sebagai Dosen di Universitas Muhammadiyah Gresik ini.

Kang Yoto lalu menyitir prinsip pembangunan berkelanjutan yang di deklarasikan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2015 bahwa kemajuan itu bukan ditentukan jumlah bangunan, tapi oleh kemampuan warga sebuah negara dalam menemukan dan menyelesaikan masalahnya untuk mencapai kesejahteraan bersama dengan mandiri, bersama dan berkelanjutan. Jadi menurutnya kunci memakmurkan Bojonegoro hanya SDM yang sehat, cerdas dan produktif, Lalu ciptakan pekerjaan dan lapangan pekerjaan.

“Semangat berpolitik di Bojonehoro itu ekstremnya ada dua:  Andum berkat dan Ciptakan berkat. Namun semestinya digabung yakni ciptakan berkat berkelanjutan agar bisa andum terus. Jangan habiskan sesaat” Pungkas Kang Yoto.

Penulis : Syafik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *