Kajian Sor keres Seri-2
Perda Konten Lokal Masih Perlu di Bojonegoro

oleh
oleh
(Kajian Sor Keres, Warung Bu Tyo Jalan Dr. Soeharso Bojonegoro, Selasa 7-6-2022. Foto : Syafik)

Bojonegoro,damarinfo.com – Kajian Sor Keres seri kedua ini adalah kelanjutan dari kajian seri pertama yang membahasa soal Jalan Nglenyer dan Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi di Bojonegoro. Kajian tetap dilaksanakan di bawah pohon kersen (keres) di Warung Bu Tyo Jalan Dr. Soeharso Bojonegoro, Selasa 7-6-2022.

Pada akhir diskusi seri satu seminggu lalu terungkap salah satu permasalahan yang menjadi penyebab tidak signifikanya pertumbuhan ekonomi di Bojonegoro dibanding dengan besarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bojonegoro adalah sebagian besar pekerjaan-pekerjaan dari APBD dikerjakan oleh Kontraktor luar Bojonegoro. Akibatnya peredaran uang dari APBD tidak berada di Bojonegoro, yang mengakibatkan kenaikan pertumbuhan ekonomi tidak signifikan.

Salah satu solusi yang bisa digunakan untuk mengoptimalkan adalah Peraturan Daerah (Perda) nomor 23 tahun 2011, percepatan pertumbuhan ekonomi daerah dalam Pelaksanaan eksplorasi dan eksploitasi serta pengolahan Minyak dan gas bumi di kabupaten bojonegoro atau biasa disebut Perda Konten lokal. Namun ternyata Perda ini hanya khusus mengatur kaitanya dengan pengelolaan Migas di Bojonegoro.

“yang bisa kita ambil adalah semangat keberpihakan kepada masyarakat Bojonegoro khususnya para pengusaha lokal” Kata Ketua Kajian Sor Keres, Dry Subagyo.

Baca Juga :   Jaga Kualitas Bangunan, Wabup Wawan Rela Sisir Proyek di Bojonegoro

Lanjut Dry-panggilanya- Perda menjadi penting agar kepentingan masyarakat Bojonegoro terlindungi, dan dalam Perda tersebut sudah diatur secara detail. Selanjutnya direvisi kaitanya dengan pekerjaan-pekerjaan dari APBD Kabupaten Bojonegoro.

(Tangkapan Layar Opentender.net 10 proyek dengan nilai kotrak tertinggi di Bojonegoro tahun 2020. Editor : Syafik)

Diskusi yang berlangsung gayeng dengan sajian tempe goreng dan tentu kopi itupun berkembang, beberapa peserta diskusi memberikan usulan tentang pentingnya perda konten lokal, dan juga pengalaman saat perda itu dilaksanakan.

Mashadi misalanya, adalah kontraktor yang pernah merasakan manisnya Perda Konten lokal dalam pengerjaan proyek persiapan pengeboran minyak di Lapangan Banyu urip.  Kawan diskusi lain yakni Kaji Nur hadi, memberikan pertimbangan soal hukumnya, bahwa Perda itu tidak boleh bertabrakan dengan peraturan diatasnya, karena terkait dengan pengadaan barang dan jasa yang sudah ada aturannya dari pemerintah pusat.

Meski dibawah terik matahari, namun rindangnya pohon Keres,  juga desiran angin menjadikan diskusi semakin hangat, para peserta yang memang punya pengetahuan dan pengalaman dalam bidangnya terus menyampaikan gagasanya. Salah satunya adalah Hartono, seorang kontraktor yang sudah malang melintang di dunia konstruksi di Bojonegoro dan sekitarnya ini menyampaikan bahwa kontraktor lokal sebenarnya punya kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan skala menengah yakni Rp. 5 –  6 miliar, tergantung profesionalitasnya.

Baca Juga :   Kajian Sor Keres Seri-13 Tantangan Industri Kreatif di Bojonegoro

“ Kunci penting yang lain adalah peran penguasa dalam melindungi kontraktor lokal” Tegas Hartono.

Sekretaris Kajian Sor Keres Yazid Mar’i menegaskan bahwa Perda untuk melindungi kepentingan Bojonegoro itu wajib, bahwa sebuah Perda tidak boleh bertabrakan dengan aturan diatasnya diserahkan kepada para pemegang kebijakan di Bojonegoro, Pemerintah Kabupaten dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro.

“Perda ini wajib didorong untuk terwujud di Bojonegoro, selain itu juga goodwill penguasa juga penting” Kata Yazid Mar’i yang sudah menulis puluhan buku baik fiksi maupun non fiksi ini.

Akhirnya disimpulkan bahwa Perda untuk melindungi kepentingan masyarakat Bojonegoro khususnya pengusaha lokal harus didorong untuk diwujudkan oleh para pemangku kepentingan. Berikutnya mendorong agar penguasa semakin punya good will untuk melindungi kepentingan masyarakat Bojonegoro. dan yang terakhir para pengusaha lokal harus bersatu baik antar anggota asosiasi jasa konstruksi maupun antar jasa konstruksi agar dapat terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan dalam skala menengah dan besar.

Penulis : Syafik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *