Jauri, dari Buruh Tani Kini Jabat Kades Keting

oleh
Juari kades Keting, Kecamatan Sekaran. Perjalanan nasib mengantarkan dari jualan pentol dan buruh tani menjadi kades. Foto/ Totok/Lamongan

Perjalanan hidup Jauri cukup inspiratif. Dari seorang penjual penthol keliling hingga mreman di sawah (buruh tani), kini sukses menjabat Kepala Desa (Kades) Keting, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan. Obsesi pria yang saat pendaftaran Pilkades menyertakan ijazah SMP ini ingin ‘ndandani’ desa sekaligus membuat gemuyu kehidupan para petani.

Sosoknya sederhana dan lugu. Namun sinar matanya memancarkan semangat yang makantar-kantar untuk bisa memujudkan perubahan sebaik mungkin pada bumi kelahirannya. “Saya hanya ingin berupaya sebaik mungkin agar Desa Keting bisa lebih maju lagi,” ucap Jauri bersahaja kepada damarinfo.com Senin 17-Februari 2020.

Baju seragam Korp Pegawai Republik Indonesia (Korpri) berikut emblem kuning emas di dada, yang dikenakan masih terlihat baru. Setiap tanggal 17 dirinya dan sembilan perangkat desanya selalu disiplin menggunakan seragam tersebut. Juari sangat bangga dengan baju dinas tersebut.

Dalam angannya tidak pernah terlintas akan bisa menggunakan seragam dinas seperti halnya pegawai pemerintahan lainnya. Selama belasan tahun, dirinya hanya mengenal kerja kasar, lumpur dan kehidupan keras di sawah sebagai buruh tani. “Namanya jadi buruh tani siapapun yang butuh tenaga saya untuk matun, nyemprot tanaman sampai ngedos (panen) pasti tak budhali (dikerjakan). Yang penting bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Anak bisa tetap sekolah,” ujar bapak tiga anak ini.

Baca Juga :   Blora Mulai Cairkan BST Rp 600 Ribu dari Kementerian Sosial

Sebelumnya Jauri pernah mencoba merubah nasib dengan bekerja di perantauan. Sejak tahun 1994, setamat SMP pria berperawakan dempal ini nekad merantau ke Timor-timor—kini Timor Leste. tak punya pengalaman dan hanya bermodal nekad, dirinya berjualan penthol keliling. lima tahun di perantauan terpaksa hijrah. Suasana di kawasan itu yang tidak kondusif karena adanya peristiwa referendum tahun 1999.

Selanjutnya, Kota Banjarmasin, Kalimantan Timur, menjadi pilihan perantauan berikutnya. Pekerjaan yang dijalani serabutan selama 12 tahun lamanya. Namun karena merasakan tidak adanya perubahan nasib, pria berusia 42 tahun ini pindah ke Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) selama tiga tahun.“Ternyata saya tidak berjodoh kerja di perantauan. Pada akhirnya tahun 2013 memutuskan kembali pulang ke desa,” ujarnya sambil tersenyum.

Kembali berada di desa dan masih menetap kumpul bersama mertua. Jauri pantang putus harapan. Dirinya tidak malu harus kerja kasar menjadi buruh tani. Meski demikian di lingkungannya dan masyarakat Keting secara umum, sosoknya cukup disegani. Jauri menjabat ketua RT 4 RW 1 selama tiga tahun. Dalam kepemimpinannya wilayah Rukun Tetangga yang dibawahinya cukup kondusif bahkan mampu mengembangkan berbagai kegiatan dari hasil iuran warga. Jauri juga dipercaya sebagai anggota Lembaga Pemberdayaan Desa (LPM) selama kurun tiga tahun. Lainnya, pria beristrikan Sutinah ini juga aktif di HIPPA Desa.

Baca Juga :   Ada 42.804 Warga Lamongan Dapat BST dari Kementerian Sosial

Peristiwa bersejarah yang akan selalu dikenangnya, saat menjelang PIlkades, oleh mayoritas warga dirinya diminta mencalonkan diri. Jauri sempat ragu karena keterbatasan ekonomi. Namun saudaranya yang telah sukses bekerja di perantauan mendukung penuh dan siap memberikan modal. “Saudara-saudara saya cuma berpesan, Kalau menjadi kades harus jujur, temen dan bisa mbangun desa,” ungkap Jauri mengenang.

Kini pria sederhana ini bertekad akan total dan bekerja profesional selama menjabat Kades Keting (2019-2025). Dukungan semua pihak sangat diharapkan untuk membawa Desa Keting lebih maju dan sejahtera.
Penulis :Totok Martono
Editor : Sujatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *