damarinfo.com – Kenaikan Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga) di Jawa Timur pada 2025 menunjukkan satu pola besar: akselerasi pembangunan keluarga berlangsung cepat di banyak daerah. Dalam satu tahun, sejumlah kabupaten dan kota mencatat lonjakan indeks dua digit, sebuah kenaikan yang menandakan intervensi kebijakan keluarga berjalan agresif dan masif.
Lonjakan itu tidak berdiri sendiri. Data 2024–2025 memperlihatkan bahwa peningkatan terjadi lintas wilayah, baik kota maupun kabupaten. Meski besarnya kenaikan berbeda-beda, satu hal menjadi jelas: 2025 adalah tahun percepatan indeks, bukan sekadar perbaikan gradual.
Namun, di balik tren positif tersebut, kecepatan kenaikan antar daerah tidak seragam. Ada wilayah yang melesat tajam, ada pula yang bergerak lebih pelan. Di sinilah membaca data tidak cukup berhenti pada “naik atau turun”, melainkan perlu melihat laju kenaikan dan hubungannya dengan target kebijakan daerah.
Bojonegoro: Target Dua Tahun Tercapai dalam Satu Tahun
Kabupaten Bojonegoro berada dalam kelompok daerah yang mengalami kenaikan, tetapi dengan laju yang relatif moderat.
Data menunjukkan:
Indeks 2024 (baseline RPJMD): 64,78
Indeks 2025: 66,4
Kenaikan 2024–2025: +1,62 poin
Sementara itu, dalam dokumen perencanaan daerah:
Target RPJMD 2025: 65,45
Target RPJMD 2026: 66,25
Artinya, realisasi Indeks Pembangunan Keluarga 2025 sudah melampaui target RPJMD dua tahun. Bahkan, capaian 66,4 sudah lebih tinggi dari target yang dipasang untuk 2026.
Secara administratif, ini merupakan capaian positif. Pemerintah daerah dapat mencatat indikator iBangga sebagai target yang tercapai lebih cepat dari jadwal. Namun, jika ditarik ke dalam konteks data Jawa Timur, cerita ini menjadi lebih kompleks.
Pelampauan Target dan Pertanyaan Kebijakan
Kenaikan iBangga Bojonegoro sebesar 1,62 poin menunjukkan adanya perbaikan. Namun, angka ini tergolong kenaikan yang tidak besar dibanding lonjakan indeks di banyak daerah lain di Jawa Timur pada periode yang sama.
Di sinilah muncul pertanyaan kunci:
Apakah pelampauan target ini mencerminkan akselerasi pembangunan keluarga yang kuat?
Atau justru menunjukkan bahwa target RPJMD disusun terlalu konservatif?
Dengan baseline 64,78 pada 2024, target 66,25 pada 2026 berarti kenaikan yang direncanakan hanya sekitar 1,47 poin dalam dua tahun. Target tersebut kini telah terlampaui hanya dalam satu tahun, tanpa lonjakan ekstrem.
Data ini mengindikasikan bahwa keberhasilan Bojonegoro lebih banyak ditentukan oleh rendahnya garis target, bukan oleh lompatan kebijakan yang signifikan.
Antara Keberhasilan Administratif dan Tantangan Substantif
Pelampauan target dua tahun RPJMD patut dicatat sebagai capaian dokumen perencanaan. Namun, dari sudut pandang jurnalisme data, capaian ini juga menyisakan catatan kritis.
Jika tren kenaikan di Jawa Timur menunjukkan akselerasi pembangunan keluarga, maka Bojonegoro berada pada jalur aman, bukan jalur cepat. Risiko terbesarnya adalah munculnya ilusi keberhasilan: indikator tercapai, tetapi kecepatan peningkatan kualitas keluarga tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Ke depan, tantangannya bukan lagi sekadar menjaga angka tetap naik, melainkan meningkatkan ambisi kebijakan. Tanpa penyesuaian target dan intervensi yang lebih tajam, Indeks Pembangunan Keluarga Bojonegoro berpotensi stagnan di tengah tekanan ekonomi dan keterbatasan fiskal yang semakin nyata.
Penulis : Syafik
Sumber data : https://siperindu.online/ (BKKBN)






