Harga Tembakau di Bojonegoro Anjlok

oleh
Petani di Desa Kenep, Kecamatan Balen, Bojonegoro yang baru panen tembakau untuk dibawa ke Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Foto ini diambil pada 12 Oktober 2019.Foto/dok.Sujatmiko

Bojonegoro-Harga tembakau di tingkat petani anjlok hingga beberapa digit dari pasaran sebelumnya. Untuk tembakau Jawa rajangan misalnya, harganya hanya Rp 8000 perkilogram dari sebelumnya bisa di atas Rp 20.000 perkilogramnya.

Padahal di Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya, kini tengah  berada di puncak panen tembakau pada Agustus-September 2020 ini. Tetapi, harganya terus turun di tingkat pasaran. Para petani di Bojonegoro mengeluh atas turunnya harga tembakau.

Menurut Abdul, warga di Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro mengatakan, harga tembakau rajangan di daerahnya berada di kisaran Rp 8000 perkilogramnya. Harga ini jauh dari pembelian normal terutama di tingkat petani.”Harganya turun drastis dibanding tahun 2019,” ujarnya pada damarinfo.com, Kamis 3-September 2020.

Dengan harga sekarang ini, lanjutnya, tentu saja membuat petani merugi. Setidaknya jika dibandingkan dengan ongkos produksinya. Mulai dari bibit, ongkos tenaga, perawatan hingga panennya. ”Jelas harga sekarang petani rugi,” imbuhnya.

Baca Juga :   Gawe Besar Ponpes Attanwir Talun Bojonegoro. Berikut rangkaian kegiatannya.

Data di Dinas Pertanian Bojonegoro menyebutkan, tanaman tembakau menyebar di sejumlah kecamatan. Seperti di Kecamatan Sumberejo, Kanor, Kedungadem, Sukosewu, Sugihwaras, Kepohbaru, Baureno, Tambakrejo, Ngraho, Temayang dan sebagian di Padangan dan Kasiman. Sedangkan untuk sebaran tanamannya, yaitu tembakau jenis virginia, luas 8227,9 hektare, enis tembakau Jawa luas 2289,5 hektare dan tembakau RAM luas 1.004,5 hektare.

Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro Helmy Elisabeth mengatakan, rendahnya harga tembakau dipengaruhi oleh beberapa hal. Di antaranya karena menurunnya penjualan produk Industri Hasil Tembakau (IHT) secara nasional. Juga penurunan penjualan rokok berimplikasi terhadap penurunan kebutuhan tembakau oleh pabrikan. “Tahun ini rata-rata penurunan penyerapan bahan baku sekitar 20 persen,” ujarnya pada damarinfo.com Kamis 3-September 2020.

Baca Juga :   UNICEF Apresiasi Program Kesejahteraan Sosial Anak Integratif di Blora

Kemudian, lanjut Helmy Elisabeth, selain itu impor tembakau yang selalu meningkat tiap tahun, pemerintah pusat belum keluarkan regulasi untuk pembatasan impor tembakau. Sedangkan kualitas tembakau rajangan memang kurang baik. Pasca panen (pengeringan tembakau rajangan yang kurang sempurna karena ada gangguan iklim).

Soal rendahnya harga tembakau, menurut Helmy Elisabeth, pihak Dinas Pertanian tiap tahun selalu menginformasikan perkiraan serapan bahan baku tembakau dan perkiraan luasan areal tanam. Harapannya adalah ada keseimbangan antara supply dan demand. “Namun satu sisi kita tidak dapat membatasi petani untuk menanam apabila varietas tembakau yang diperkirakan overload,” imbuhnya.
Penulis : Rozikin
Editor : Sujatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *